Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 23. Ellipsism


__ADS_3

Kenangan Mantan Cafe


Tuk. Tuk. Tuk.


Airin mengetuk meja dengan jari telunjuknya. Sesekali ia menguap karena bosan. Cartier berwarna white gold yang melingkar di pergelangan tangan kanannya sudah menunjukkan pukul 10.10, namun pria yang ditunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya.


"Huh! Seenaknya saja mengancam orang. Dia-nya sendiri yang ngaret," dengus Airin sambil memanyunkan bibirnya.


Cup.


Hampir saja Airin terlonjak dari tempatnya duduk, saat sesosok makhluk tiba-tiba datang dari arah samping, dan langsung memberinya kecupan di bibir dengan tidak sopannya.


Tentu saja Airin langsung tahu itu ulah siapa.


"Keano!! Jaga sopan santunmu!" bentak Airin dengan ekspresi horor.


"Maaf, aku tidak tahan melihat bibir itu. Terlalu sayang untuk dilewatkan."


Keano duduk santai di seberang Airin, seperti tak terjadi apa-apa, disertai dengan seringai menyebalkannya. Membuat Airin semakin melotot dengan penuh ancaman.


Jika saja dia bukan ayah dari putrinya, mungkin Airin sudah melayangkan pisau tepat di jantung pria itu.


"Kau sudah membuatku menunggu terlalu lama. Apa maumu? Aku tidak punya banyak waktu. Jadi cepatlah."


"Maaf atas keterlambatannya. Semalam aku tak bisa tidur. Terlalu banyak yang aku pikiran. Salah satunya tentang Zia." Keano mulai memasang wajah serius.


Menatap ekspresi pria itu membuat hati Airin berdesir, hingga sesuatu yang hangat melewati rahimnya. Ketika ingatan malam itu kembali melintas—ah sudahlah.


Airin tahu, cepat atau lambat Keano akan menanyakan tetang hal ini. Sebenarnya berat untuk mengungkapkan kebenaran, namun ditutupi juga percuma.


"Siapa Zia sebenarnya? Kenapa dia memakai nama belakang Narendra? Apakah dia ... " Keano kembali membuka suara saat Airin terdiam cukup lama.


"Zia adalah anak kita."


Huftt... Akhirnya setelah latihan semalaman, Airin bisa mengucapkan kalimat itu dengan lancar.


"A-apa?!"


"Aku tahu kau tidak tuli." Airin bisa melihat wajah terkejut Keano dengan sangat jelas.


Melihat air muka Keano yang seketika berubah muram, Airin jadi merasa bersalah karena menyembunyikan kenyataan ini sedemikian lamanya.


"B-benarkah? Bagaimana bisa?" tanya Keano masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Membuat Airin sedikit tersinggung.

__ADS_1


"Itu bisa saja terjadi ketika sel telur bertemu dengan sel sper ma, kemudian terjadi pembuahan—"


"Airin... " lirih Keano setengah berbisik, seolah suaranya sudah hampir menghilang.


"Ayolah, Ke. Aku tahu kau tidak bodoh." Airin tersenyum getir.


"Jadi... Perbuatan kita malam itu—"


"Kita?" Airin memotong cepat ucapan Keano, tak terima.


"Tapi kau menikmatinya, Rin."


"Kau!"


Keano menatap iris coklat Airin lekat, seperti mencari sebuah kejujuran dari dalam sana.


"Benarkah Zia adalah anakku?" Suara deep Keano terdengar sedikit bergetar, namun tatapan matanya terlihat ragu-ragu.


"Tentu saja. Hei! Apa maksudmu? Kau tidak percaya padaku?!"


"Begitulah."


Enteng sekali mulut itu. Jawaban Keano langsung mendapatkan tatapan membunuh dari Airin. Membuat Keano merasakan aura horor yang tiba-tiba membuat bulu kuduknya meremang.


"CUKUP! Kau keterlaluan, Ke. Aku tidak serendah itu!" sungut Airin dengan emosi yang meluap-luap, kedua netranya sudah terasa panas. Menahan air bening di ujung mata yang hendak mendesak keluar.


Airin menyesal karena sempat bersimpati dengan pria di hadapannya. Ternyata dia masih Keano yang Airin kenal, brengsek. Tahu seperti ini, harusnya ia tidak menceritakan tentang Zia sekalian saja. Bahkan membuat Zia tak pernah tahu jika ayahnya masih hidup.


Setelah mengumpulkan cukup tenaga untuk menopang tubuhnya, Airin segera bangkit, beranjak meninggalkan Keano begitu saja.


"Rin! Tunggu! Kenapa kau marah? Harusnya aku yang marah padamu. Kau menyembunyikan kenyataan sebesar ini dariku. Bukankah hal lumrah jika aku meragukanmu? Hah? Kau dengar?!" teriak Keano frustasi, yang sudah tak dipedulikan Airin lagi.


Dug!


"Sial!" umpat Keano sambil memukul meja.


Membuat atensi para pengunjung kafe mulai menghujam kearahnya.


"Arghh!" teriak Keano sambil merusak kasar surainya.


Kepalanya tertunduk dalam. Mencoba mengatur nafas yang semakin sesak. Dengan tangannya yang bergetar, Keano mengusap air bening yang hampir saja melewati pipinya.


"Benarkah ini?" Suara Keano mulai terdengar parau.

__ADS_1


"A-aku sudah menjadi seorang ayah?"


Beberapa tetes air bening kini mulai membasahi pipi. Meski sebisa mungkin ia menghapusnya, bulir-bulir air itu tetap saja berlinang seolah tak mematuhi perintah dari akal sehatnya.


Tubuh tegap Keano perlahan lunglai. Terlihat punggung tegapnya sedikit bergetar. Kedua tangannya pun seolah sudah lelah untuk menghapus jejak air matanya yang terus menganak sungai.


Tak ada gunanya pura-pura tegar. Berlagak bodoh pun percuma. Hatinya tetap saja sakit. Dadanya sesak. Pria bertubuh atletis itu kini hanya bisa pasrah. Menunduk dalam, membiarkan air matanya terus mengalir tanpa bersuara.


Nampaknya Keano masih menahan diri. Mempertahankan harga dirinya sebagai seorang pria. Jika saja ia tidak sedang berada di tepat umum, besar kemungkinan dirinya akan berteriak sekencang-kencangnya.


Merutuki dan menyumpah serapahi segala kebodohannya selama ini. Buah hati yang sudah bertahun-tahun lalu ia dambakan, ternyata kini sudah menjelma menjadi malaikat kecil yang lucu.


Zia ... Maafkan ayah ....


Menahan sesak yang mulai menjalar dalam dada, Keano mengusap air matanya hingga kering lalu berjalan keluar kafe dengan wajah dingin. Acuh dengan pandangan orang-orang sekitar yang sedari tadi menatapnya penuh tanya.


Keano memacu mobilnya secepat kilat, memecah angin, membelah ramainya jalanan kota. Cacian dan umpatan yang dilayangkan beberapa penggunaan jalan tak ia hiraukan sama sekali.


"Arghh!" erangnya, disela derai air mata yang sudah tak mampu ditahan lagi.


...*...


Sedangkan di sebuah danau di sudut kota, seorang wanita sedang bertumpu dengan kedua kaki yang ia paksa untuk tetap kuat, menginjak hamparan rumput hijau di pinggir danau. Memandangi riak air dengan berlinang air mata. Teriknya mentari yang menyengat kulit tak membuatnya bergeming sama sekali.


Airin memilih pergi ke tempatnya berpijak saat ini untuk menenangkan diri. Menangis sesenggukan di sana. Membiarkan rambutnya yang tergerai menjadi sedikit acak-acakan karena dipermainkan angin.


Hatinya sakit. Sangat. Bisa-bisanya Keano menganggapnya sebagai wanita murahan. Di saat dirinya sudah berjuang mengandung dan membesarkan anaknya seorang diri. Menelan mentah-mentah cacian dari orang-orang di sekitar karena statusnya yang tidak jelas.


Bahkan ketika Zia menanyakan kehadiran sosok sang ayah, tidak sekalipun ia berkata hal yang buruk tentang Keano.


Tak berperasaan. Semakin yakin jika hati pria itu memang terbuat dari batu.


"Tak tahu kah kau, ketika aku susah payah bekerja di saat perutku sudah membesar, dulu? Ketika sudah menyerah dengan takdir, bahkan aku hampir saja merenggut hak hidup anak kita?"


"Kalau tidak ada dukungan dari seseorang mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini bersama anak kita.... "


"Tapi apa yang kau perbuat sekarang? Datang seenaknya ke dalam hidup kami dan dengan mudahnya menghancurkan hatiku, Zia pun akan hancur jika tahu ayahnya orang seperti apa. Aku pikir kau akan bahagia dengan keberadaan anak kita, Ke. Memberiku apresiasi karena aku sudah berhasil bertahan hingga saat ini. Tapi aku salah .... "


"Bodohnya aku masih berharap dengan seseorang yang sudah menghancurkan hidupku .... "


Airin terus bermonolog, seolah orang yang diajak bicara ada di dekatnya saat ini. Menangkupkan kedua telapak tangan untuk menutupi wajah yang sudah basah dengan air mata.


Pandangan itu tak lepas dari sepasang mata yang juga ikut mengeluarkan air bening dari kedua sudutnya–yang tanpa Airin sadari–sekarang sudah berada tepat di belakang wanita dengan punggung bergetar itu.

__ADS_1


__ADS_2