Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 61. Jauhi Airin


__ADS_3

"Kalian berdua keluar!" perintah Rain pada dua anak buahnya.


"Siap."


Kini tersisa Rain dan Keano dalam ruangan itu. Keano bersyukur ternyata tempat tersebut tidak semenyeramkan dengan apa yang dikatakan oleh dua anak buah tadi.


'Sialan. Aku dikerjai dua kacung itu,' gumam Keano kesal dalam hati.


Di dalamnya malah sama seperti kamar mewah pada umumnya, bukan tempat penyiksaan layaknya dengan yang Keano bayangkan. Sebelum pergi, dua pria berbadan kekar tadi merebahkan Keano di atas ranjang yang berada di tengah ruangan. Rain mendekati manusia yang tergolek lemah dengan tangan terikat itu dengan ekspresi hangat.


Merasa ditatap dengan intens, Keano pun memprotes, "Jangan lihat aku seperti itu. Jika kau berniat berbuat macam-macam padaku, silahkan saja. Tapi kau tahu, aku masih normal."


Rain menaikan ujung alisnya, lalu tangannya terjulur guna menyentuh dahi Keano. Membuat pria dengan monolid eyes melebar sempurna itu merinding bukan main. Apa yang ada di pikiran orang lain jika dua pria berada dalam satu kamar dan sedang bersentuhan? Keano jadi parno dengan pikirannya sendiri.


Rain menurunkan tangannya menyadari tatapan jijik yang dilayangkan Keano.


"Aku juga masih normal, bngst. Lagipula aku juga masih punya hati. Hanya ingin mengecek suhu tubuhmu saja. Beristirahatlah," papar Rain, membuat Keano tercengang.


Pasalnya dia seperti di hadapkan dengan dua pria yang berbeda. Tatapan Rain saat berada di ruang yang dia sebut gudang tadi, dengan yang dia lihat sekarang ini sungguh berbeda.


'Sialan! Dua pesuruh tadi benar-benar mengerjaiku,' Keano tersungut-sungut dalam hatinya.


"Kau tidak ingin menyiksaku lagi?" tanya Keano memastikan.


"Oh, kau mau aku memukulmu dengan tongkat baseball lagi?" Rain terdengar antusias sembari melirik benda tumpul itu di dekat meja nakas.


"Tidak, tidak. Aku hanya bertanya."

__ADS_1


"Sebenarnya aku ingin memukulimu sampai puas, tapi aku ada penawaran bagus untukmu."


"Penawaran? Apa itu?"


"Jauhi Airin atau kau akan mati."


Deg.


"K-kau serius?"


"Sangat."


"Kenapa tiba-tiba? Bukankah kita sudah berdamai? Kau laki-laki 'kan? Kenapa plin-plan seperti ini? Kau ini kawan atau lawan?"


"Aku tak peduli. Hanya ingin menjaga perasaan wanita itu dari predator sepertimu."


"Hei, apa maksudmu?!" seru Keano dengan nada tak terima.


Video itu diputar dan menampilkan momen di saat dua manusia berbeda gender memasuki sebuah resto, dengan si pria yang menggendong wanitanya ala bridal style. Karena kamera CCTV yang diambil dari seberang jalan, keduanya yang duduk di bangku dekat jendela pun dapat terlihat dengan jelas pada video tersebut.


Tak lama sebuah KIA Picanto putih yang sangat Keano kenal berhenti dan terparkir di depan resto. Namun sang pemilik mobil tak kunjung keluar. Keano beralih memandang dirinya dan Celia yang seolah menjadi peran utama dalam video berdurasi pendek itu.


"A-Airin .... " gumamnya pelan hampir tak terdengar.


Melihat Celia mendaratkan kecupan ringan di pipinya, sekaligus mobil putih yang terparkir tepat di dekat jendela, membuat aliran darah Keano seolah diponoa lebih kuat.


"Dasar wanita ular. Apa dia sengaja karena tahu Airin ada di sana?" desis Keano geram.

__ADS_1


Klik.


Rain menutup laptopnya lalu meletakkan pada tempat semula.


"See? Sekarang kau tahu kesalahan apa yang sudah kau berbuat? Kau menyakitinya lagi. Dan yang aku lakukan padamu hanyalah peringatan," jelas Rain.


"Aku harus menemuinya." Keano beranjak dari ranjang. Namun karena kondisinya yang lemah juga tangan dan kaki yang begitu sakit, membuat tubuhnya limbung hingga tersungkur di atas lantai.


Brugh.


"Akh! Dam it!" makinya masih kekeuh ingin berdiri.


"Untuk apa?" Rain terlihat tak memperdulikan pria di dekat kakinya itu. Membantu pun terasa enggan.


"Menjelaskan semuanya pada Airin. Kejadian sebenarnya tidak seperti dengan apa yang terlihat. Wanita itu spontan melakukannya padaku, dan aku tak merespon," bela Keano.


"Terlambat. Airin sudah pergi."


"Pergi? Kemana?"


"Kau tak perlu tahu. Dan aku juga tak berniat memberitahumu." Rain beranjak dari sana.


"Hei, kau tak ingin membantuku berdiri? Katanya masih punya hati," cibir Keano melihat Rain yang sudah melangkah menjauhinya.


"Bantuanku hanya sampai tes DNA itu keluar, tidak lebih. Aku tak akan mau membantumu dalam hal apapun." Rain melangkah hingga sampai di ambang pintu.


"Setidaknya bantu aku berdiri," cicit Keano lagi.

__ADS_1


Rain menoleh ke arahnya sejenak. Seringai tipis tersungging dari bibirnya.


'Aku sengaja membuatmu tak bisa menggunakan tangan dan kaki untuk sementara. Supaya kau tak bisa mengejar Airin. Setidaknya hal itu bisa menghambatmu sampai Airin bertemu dengan Felix,' batin Rain lalu kembali pada niat awal. Pergi dari sana, meninggalkan Keano dengan erangan kesalnya.


__ADS_2