Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 21. Pertemuan yang Menyisakan Tanda Tanya


__ADS_3

McLaren berwarna abu-abu membelah jalanan kota yang nampak ramai sore ini. Lajunya lumayan santai, namun tak sesantai penumpangnya.


Di dalamnya duduk dua manusia yang berbeda gender. Mereka saling diam, memperhatikan jalanan dengan pikiran masing-masing.


"Sudah, Airin. Jangan menangis. Aku yakin kita akan menemukan Zia," tutur Rain menenangkan Airin yang terus berlinang air mata.


Mata sembabnya terus melihat ke luar jendela. Semenjak Nisa mengabari tentang hilangnya Zia melalui sambungan telepon tadi siang menjelang sore, hati Airin sudah tidak bisa tenang.


Buru-buru ia meminta ijin pulang, namun Rain memaksa untuk ikut membantunya. Pria itu khawatir membiarkan wanita yang sedang kalut menyetir mobil sendirian.


"Aku takut Zia tidak baik-baik saja. Bisa saja ini ulah Rival," ungkap Airin.


Rain terdiam sesaat. Entah apa yang ia pikirkan. Tapi, dia yakin akan sesuatu. Zia tidak bersama Rival.


Menoleh sembari memegang bahu Airin yang bergetar, dengan satu tangan tetap memegang kemudi.


"Kita akan menemukannya," ucapnya yakin.


Tanpa mereka sadari, mobil Ferrari berwarna merah terparkir di sebuah butik ternama yang baru saja mereka lewati.


...***...


"Berhenti, Om!" pekik Zia, saat Keano melewati sebuah rumah bercat biru yang sudah beberapa meter di belakang mereka.


Ciitt!!


Keano menginjak rem mendadak.


"Kenapa, Zia?!" tanya Keano menoleh ke arah Zia dengan bingung dan setengah kesal.


Pasalnya ini sudah ke lima kalinya mereka memutari daerah di sekitar taman, berputar-putar tanpa arah tujuan yang pasti. Dan lagi-lagi Zia menyuruhnya untuk berhenti.


Setelah insiden hujan-hujanan, atau lebih tepatnya main lumpur tadi, Keano mengajak Zia ke sebuah butik untuk membeli pakaian. Mengganti baju kotor Zia dengan baju baru yang tentu lebih bersih dan wangi, wangi baju baru maksudnya. Tak lupa ia juga mengajak gadis kecil itu mampir sebentar di sebuah resto untuk makan.


Tak terasa hari sudah mulai malam, dan Zia belum makan apapun dari tadi siang. Keano sedikit terkejut saat mengetahui makanan yang dipesan Zia adalah spaghetti bolognese, persisi seperti makanan kesukaannya.


Mungkin hanya kebetulan, pikirnya.


"Sepertinya itu rumah Zia," ujar Zia sambil menunjuk rumah bercat biru di seberang sana.


Keano mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kau yakin? Maksud Om, ini sudah rumah ketiga yang Zia bilang adalah tempat tinggal Zia. Dan ujung-ujungnya, Om harus menanggung malu karena kita salah rumah. Bahkan tadi Om hampir dicurigai sebagai sindikat penculik anak yang meminta tebusan. Rumah bercat biru banyak. Mungkin Zia keliru."


"Tidak, Om. Zia yakin itu rumahnya."


Keano menggeleng.


"Tidak mungkin...." lirihnya pelan.


"Ayo, Om!"


Ceklek.


Zia sudah membuka pintu mobilnya, lalu berlari menuju rumah yang dimaksud.


"Hey, Zia tunggu! Cih, merepotkan!"


Keano buru-buru melepas seltbelt-nya, lalu bergegas menyusul Zia. Ia takut Zia salah rumah, pasalnya Keano tahu betul rumah siapa yang Zia tuju saat ini.


Keano sengaja melewati komplek rumah Airin untuk memastikan wanita itu ada di rumah atau belum. Namun sekarang ia malah direpotkan oleh gadis kecil biang keladi itu.


Dia khawatir, Airin akan berpikiran yang tidak-tidak saat melihat Keano ke rumahnya malam-malam begini, apalagi sekarang ia datang bersama anak kecil. Bisa saja kan, Airin menganggap gadis kecil itu adalah anaknya dengan Celia.


Bisa pupus harapan Keano untuk mendekati Airin, jika wanita itu sudah salah paham duluan. Keano tidak bisa membiarkan citra buruknya terus-menerus ada di mata Airin.


Sret!


Keano segera menarik tangan Zia, saat gadis kecil itu sudah mencapai pintu gerbang.


"Kyaaa! Kenapa, Om? Zia mau masuk rumah. Zia sudah rindu sama bunda," rengek Zia, tak terima dengan perlakuan Keano.


"Zia, dengarkan Om. Pasti Zia sudah salah rumah. Soalnya, Om tahu betul ini rumah siapa. Jadi, ayo kita cari lagi rumah Zia. Yang catnya warna biru kan? Tuh, di depan sana masih banyak," bujuk Keano sambil menunjuk ke sembarang arah.


"Om, tahu ini rumah siapa?" tanya Zia dengan mata berbinar.


Keano menepuk dahinya.


Astaga! Sepertinya dia sudah salah cakap. Zia pasti akan bertanya lebih detail, mengorek informasi sedalam-dalamnya hingga Keano kelimpungan untuk menjawab.


Keano menghela nafas kasar. Huftt....


"Om cuma kenal saja. Dia teman Om. Teman hidup suatu saat nanti. Hehe," balas Keano, namun menurunkan nada suara di akhir kalimat.

__ADS_1


Zia kembali mengerutkan kening.


"ZIA!"


Teriakan seseorang dari arah belakang mengurungkan niat Zia untuk bertanya maksud dari ucapan Keano tadi.


Gadis kecil itu sontak menoleh ke asal suara. Senyumnya seketika mengembang.


Grep!


Orang yang memanggil nama Zia tadi langsung berlutut untuk merengkuh tubuh Zia yang berbalut baju baru yang di belikan Keano.


Dress selutut berwarna merah itu nampak kebesaran di badan mungil Zia, dengan label harga yang masih menggantung di bagian ujungnya.


"A-Airin... A-aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kau pikiran... Anak ini.... " Keano tergagap karena kemunculan Airin yang tiba-tiba.


"Anak ini bukan—"


"Bunda, kenalkan. Ini Om Keano. Om ini yang antar Zia pulang," penjelasan Zia membuat Keano tak melanjutkan penuturannya.


Keano terlihat tercengang. Matanya melebar dengan mulut sedikit terbuka. Apakah dia tidak salah dengar? Apa Zia tadi bilang bunda? Zia memanggil Airin dengan sebutan bunda?!


"T-tunggu. Kalian sudah saling mengenal? Zia memanggilmu... Bunda? Rin... Apa maksudnya ini?" cecar Keano dengan nada sedikit menuntut. Lantaran ia yakin betul di KTP tertera jika Airin masih singel.


Lalu siapa Zia?


Deg.


Saking bahagianya bertemu dengan Zia, hingga membuat Airin melupakan kehadiran Keano di sana. Airin mendongak sambil menelan salivanya dengan susah payah.


Tubuh Airin mematung seketika. Debaran jantung yang sudah tak terkontrol, membuatnya bergetar dengan keringat dingin yang mulai muncul dipermukaan kulit putihnya.


"Ternyata benar, Om Keano sudah kenal dengan Bunda." Zia tersenyum cerah menoleh bergantian pada dua orang dewasa yang sedang saling menatap itu.


"Rin? Jangan bilang.... "


Airin tak kuasa untuk berkata-kata. Ia seperti tak mampu menjelaskan apapun pada Keano saat ini. Terlebih soal Zia.


'Bagaimana ini?' cemas Airin dalam hati.


Rain menatap datar ke arah keluarga kecil yang sudah terpisahkan jarak dan waktu bertahun-tahun lalu, dengan duduk di dalam mobil yang berhenti tak jauh dari tempat tiga insan itu berpijak.

__ADS_1


"Senang dengan pertemuan kalian. Tapi maaf, Keano. Sekarang Airin milikku."


__ADS_2