
"Deal."
Tanpa berpikir panjang kedua anak buah Rival langsung menyetujui. Doni mulai melepaskan cengkeraman tangannya di leher jenjang Airin. Meniggalkan bekas kemerahan di sana.
Airin menyerahkan mantelnya pada Zia sebelum menghadapi dua pria yang terus memandanginya dengan penuh gairah. Tubuh gadis kecil itu sudah sedingin es.
"Kita mulai."
Suara berat dari arah belakang membuat Airin bergidik, sebelum memutuskan untuk berbalik dengan gerakan slow motion. Tak ada cara lain untuk menyelamatkan diri dari sana. Setidaknya Zia tetap baik-baik saja.
"A-apa kita harus melakukannya di sini?" tanya Airin ragu, sambil menunduk. Membayangkan nasibnya yang akan menjadi pemuas nafsu dua pria asing.
"Mendekatlah," titah Alex yang langsung dituruti Airin.
'Lagi-lagi aku harus mengalah,' batin Doni, kesal.
"Berlutut. Obati hasil perbuatanmu tadi."
Glek.
Susah payah Airin menelan salivanya.
'Astaga. Haruskah aku melakukannya?' batin Airin, takut.
Mau mundur pun sudah tak bisa. Dia sudah menyetujui kesepakatan yang dibuatnya sendiri. Demi Zia. Airin meyakinkan diri.
Airin harus berhasil membuat kedua pria itu terlena, sehingga dia bisa diam-diam mengambil kunci pintu rooftop yang ia yakin ada pada salah satu pria di hadapannya itu.
Tangan gemetar Airin menyentuh resleting celana Alex. Entah karena gugup atau memang takut, Airin terlihat kesusahan untuk menurunkannya.
"Lama!" Dengan sedikit tidak sabar, Alex menghempaskan tangan Airin. Membuka resleting, lalu menurunkan celananya sendiri.
Tak!
Suara benda keras berbunyi bersamaan dengan celana Alex yang sudah berakhir di mata kakinya.
Sontak Airin menutup mata.
'Itu dia kuncinya. Sekarang aku harus melakukan rencana konyol ini demi bisa lolos dari sini,' batin Airin, menguatkan diri.
"Buka matamu!" geram Alex, melihat wanita yang bersimpuh di hadapannya hanya mematung di tempat saja.
Airin membuka matanya sebelah. Setelah diyakini keadaan masih aman. Dibukanya kedua mata dengan sempurna. Hingga boxer yang masih melekat menutupi benda menonjol itu memenuhi pengelihatannya.
"Cepatlah, kakiku sudah pegal. Atau aku akan membuatmu tersiksa lebih dulu."
Hampir saja Alex membimbing Airin untuk berdiri. Namun segera ditolaknya.
"Tidak. B-biar aku dulu yang melakukannya. Bukankah itu kesepakatannya?" cegah Airin.
__ADS_1
Ya, dia harus bisa menguasai keadaan lebih dulu. Jika dia yang terlena. Habislah dia, termakan rencananya sendiri.
"Kalau begitu cepatlah."
Doni hanya bisa memandangi tanpa berkedip, mendengarkan setiap dialog sambil menekan nafsunya sendiri.
'Sial. Aku sudah tidak tahan,' gerutunya dalam hati.
Dengan tangan yang bergetar lebih kuat dari sebelumnya, Airin memberanikan diri meriah boxer tipis—setipis lingerie yang pernah dibelikan Keano untuknya dulu, bahkan Airin pun masih menyimpan benda estetik pemberian Keano itu hingga saat ini.
Semakin tercekat saat tangannya tak sengaja bersentuhan dengan benda keras di baliknya.
"Ah ... " desah yang keluar dari mulut Alex membuat Airin malu sekaligus merutuki dirinya sendiri.
Apa bedanya aku dengan ja lang? Ayo, Airin. Kamu bisa. Nikmati saja prosesnya.
Mata Airin terpejam, saat menurunkan boxer itu dengan perlahan.
Doni yang semakin frustasi pun berusaha mengelap air liurnya yang terus saja menetes. 'Aku tidak kuat lagi! Bangst!!'
BRAK!!
Pintu besi itu tiba-tiba terlempar beberapa meter dari tepatnya terpasang. Menampilkan beberapa pria dengan pakaian hitam yang langsung menghambur ke rooftop.
Tiga kepala yang sudah lebih dulu di sana, menoleh secara bersamaan ke tempat kegaduhan itu terjadi.
Airin melebarkan netra saat iris cokelatnya bertumbuk dengan mata tajam yang menghujam tepat ke arahnya.
"M-mas Rain?" lirih Airin tak percaya.
Mas Rain datang? Dia benar-benar datang?!
Diam-diam Airin terharu sekaligus bahagia. Ia tak mengira dirinya akan selamat dari jeratan dua makhluk mesum itu.
Sebelum sempat Airin sadari, Alex terlebih dulu mengangkat tubuhnya. Secepat kilat hendak meraih bibir penuh Airin dengan bibirnya. Nampaknya permainan yang belum sempat dimulai tadi sudah membuatnya frustasi.
Dugh!
"Akh!"
Tubuh Alex lebih dulu dilempar dengan tendangan tenaga dalam dari Rain sebelum sempat niatnya terpenuhi.
"Mas Rain? Kau datang?" Airin terkesiap.
Rain tersenyum, " Tentu saja."
"Tapi, bagaimana kau tahu kami ada di sini."
"Aku melacak posisi ponselmu sebelum ponsel itu mati. Kau tidak terluka 'kan? Biar aku urus pria brengsek itu."
__ADS_1
Rain segera melesat sebelum Airin sempat membalas pertanyaannya. Raut wajah ramah dan tenang saat berhadapan dengannya seketika berubah menggelap. Airin dapat melihat sorot kemarahan dari mata Rain.
Di bawah sinar bulan, ia melihat dua pria itu saling beradu mekanik. Alex terlihat kesulitan mengimbangi gerakan Rain karena direpotkan dengan celananya yang masih melorot.
"Zia!"
Tiba-tiba Airin teringat Zia yang masih terkulai lemah kedinginan di atas kursi. Segera ditolehkan kepalanya ke arah Zia berada. Namun kursi itu sekarang sudah kosong. Hanya ada bekas tali yang tadi melilit tubuh mungil Zia.
Kemana Zia?!
Airin menolehkan kepala ke kanan dan kiri dengan panik. Sebelum air bening memenuhi kantung mata, seorang pria telah mendekat ke arahnya. Digendongannya sudah ada Zia yang masih tertidur.
Ini bukan tidur lagi. Apakah Zia pingsan? Atau dia dalam pengaruh obat tidur?
"Zia!!" Airin menyambar tubuh Zia dari pria yang tadi datang bersama Rain itu.
"Nyonya, mari saya antar ke rumah sakit. Kondisi nona Zia sepertinya tidak baik-baik saja," tutur pria itu.
Airin mengerutkan dahinya, heran. Kenapa dia seperti sudah mengenal dirinya dan Zia?
"Hhh ... Airin!" Rain memanggil dari arah belakang sambil terengah.
"Mas? Zia!"
"Mari kita bawa ke rumah sakit," ajak Rain yang langsung disetujui Airin.
Mengabaikan dua pria suruhan Rival yang sudah diringkus oleh beberapa anak buah Rain. Rasa cemas berlebihan membuat Airin tak memperdulikan segala hal di sekitarnya saat ini. Hanya keselamatan Zia yang kini menjadi prioritas.
Rumah sakit Husada
Airin dan Rain menunggu di kursi tunggu depan ruangan dimana Zia di rawat. Setelah dipindahkan dari UGD ke ruang rawat, Zia dinyatakan mengalami demam dan dehidrasi. Tubuhnya lemas karena tidak mendapat asupan cairan ataupun makanan dari siang hari.
Udara malam yang menusuk hingga ke tulang memperparah kondisi gadis kecil itu.
"Rin?" Rain mencoba berinteraksi dengan wanita yang hanya diam sedari tadi.
Saling diam membuat suasana malam itu semakin horor dan mencekam. Meski Rain tahu pikiran Airin sedang kacau, setidaknya mereka tetap saling berbicara.
"Airin!" Karena tak mendapat respon, Rain meninggikan nada suaranya sambil menggoyangkan bahu Airin.
Brugh!
Rain terkejut, tiba-tiba badan Airin limbung ke arahnya. Dengan sigap pria yang masih dalam mode kagetnya membimbing kepala Airin untuk direbahkan pada bahunya dengan pelan.
"Dikira kesambet. Eh, tahunya tidur. Dasar kebo Afrika, orang lagi panik dianya malah tidur." Rain terkekeh melihat tingkah absurd wanita itu.
Suasana malam yang hening dipadu dengan angin semilir yang terus berhembus, membuat pertahanan Rain untuk terjaga runtuh juga. Kelopak matanya kian terasa berat, hingga tak sadar dirinya ikut terpejam dengan menyandarkan kepala pada pucuk kepala Airin.
"Good night. Have a nice dream."
__ADS_1
...----------------...
"Bunda .... "