
Drrtt... Drrtt...
Rain menghentikan niatnya untuk keluar dari mobil saat ponselnya tiba-tiba berdering.
"Ya?"
"Target yang dimaksud tidak bersama nona Zia, Bos."
"Aku sudah bertemu Zia."
"Lalu kita apakan orang ini, Bos?"
"Beri dia pelajaran yang setimpal dengan perbuatannya pada Airin tempo hari. Kemudian lepaskan. Pastikan dia tidak akan mendekati Airin lagi, atau nyawa jadi taruhannya."
"Baik, Bos."
Pip.
Rain mematikan sambung telepon sepihak, lalu melanjutkan niat awal untuk menghampiri Airin yang masih mematung di tempatnya.
"Kenapa diam saja, Rin? Jawab aku. Siapa Zia—"
"Zia, dari mana saja?" Rain tiba-tiba datang dari arah belakang. Memaksa Keano untuk menelan sebagian pertanyaan yang hendak ia lontarkan.
Rain segera meraih Zia dalam gendongannya. Meninggalkan Airin yang masih bersimpuh dengan tatapan gelisah.
"Yuk, cerita di dalam saja. Di luar mulai dingin," ajak Rain cepat, sebelum Zia mengeluarkan suara.
Gadis kecil itu mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Rain.
Netra Keano terus memperhatikan pria yang baru saja datang.
'Pelayan itu... Kenapa dia ada di sini?' batin Keano bertanya-tanya.
Melihat kedekatan Zia dengan Rain menimbulkan spekulasi Keano bahwa Rain adalah ayah dari gadis kecil itu.
Lalu kenapa Zia memanggil Airin dengan sebutan bunda?
"Airin, ayo masuk."
Ajakan Rain sukses membuat Airin kembali tersadar pada kenyataan.
"I-iya, Mas," sahutnya, mulai bangkit meski kakinya masih bergetar.
Keano melotot.
Mas? Kenapa kata itu seperti ambigu di telinga Keano. Bahkan terdengar sangat seksi jika Airin yang mengucapkan. Menimbulkan suatu fantasi gila di pikiran Keano.
Rain sudah melangkah lebih dulu memasuki halaman rumah. Airin mengekor di belakang, mengabaikan Keano yang memandangi mereka dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Melihat punggung mereka bertiga, seperti menyaksikan keluarga kecil yang bahagia. Namun, mau tak mau Keano harus sadar. Airin bukan miliknya lagi. Setidaknya untuk saat ini. Tak tahu jika besok. Keano tersenyum kecut.
'Lihat, Ke. Airin sudah bahagia sekarang, bersama keluarga kecilnya. Mungkin saja pelayan kafe itu adalah ayah Zia. Siapa tahu dia adalah kekasih atau tunangan Airin, makanya Zia memanggil Airin dengan sebutan bunda. Nah, masuk akal kan? Itulah mengapa di KTP, Airin masih menyandang status belum kawin, namun mendapat panggilan bunda.' Akal sehat Keano mulai sok jadi detektif kali ini.
Ah, iya. KTP Airin!
Segera menampik segala pergulatan dalam otak, Keano mulai mengocek kantung celananya.
Plak!
Ia menepuk dahinya saat menyadari dompet Airin tertinggal di dalam mobil. Berniat berbalik namun suara cempreng Zia menghentikan langkah Keano. Membuat pria itu menoleh ke arah empunya suara.
"Om Keano!"
Terlihat Rain dan Airin berhenti di ambang pintu. Rain menoleh ke arah Keano dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedangkan Airin masih setia menunduk, tak berani memandang wajah Keano.
"Ada apa, Zia?" tanya Keano, sedikit mendekati pagar, menyambut Zia yang sudah berlari ke arahnya.
"Terima kasih sudah antar Zia pulang. Besok, Om boleh kok, main ke sini."
"Sama-sama, Zia. Kalau ada waktu, Om pasti ke sini." Keano mengusap pucuk kepala Zia dengan lembut.
"Asik. Zia senang punya teman baru."
"Om juga senang kenalan sama Zia. Ya sudah, Om pulang dulu, ya? Da Zia.... "
Keano bberanjak sambil membalas lambaian tangan Zia.
"Om, tunggu!"
Lagi-lagi teriakan Zia menghentikan langkah pria yang sudah bermuka masam itu. Namun ekspresinya langsung berubah saat netranya bertemu dengan manik bening milik Zia.
"Apa lagi, Zia?"
"Ini punya Om, tadi jatuh."
Keano menautkan alisnya. Kemudian mendekati Zia yang memegang secarik kartu di tangan mungilnya.
"K.E.Ke-A. Kea. N.O-no. Kea-no." Zia mengeja setiap huruf yang tertera di kartu nama di tangannya.
"Keano Kaivan Narendra." Keano membantu membacakan nama pada kartu itu agar mempersingkat waktu. Meski nama itu sudah hafal di luar kepala.
Dia sudah menahan gejolak api cemburu sedari tadi. Namun Zia terus menerus menahannya. Serasa ada niatan untuk mencekik gadis kecil itu. Namun segera diurungkan karena pria di sana sudah memandangnya dengan tatapan tak bersahabat.
"Terima kasih, Om harus segera pulang." Keano menyambar kartu namanya dari tangan Zia, lalu berbalik.
"Nama kita mirip Om," celetuk Zia yang sukses membuat Keano kembali menoleh ke arahnya.
"Maksud Zia?"
__ADS_1
Airin yang mendengar pembicaraan dua orang beda generasi itu seketika menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Mencegah agar Zia tidak melanjutkan ocehannya sangat tidak mungkin. Anak gadisnya akan terus berkicau sampai dia puas.
"Zia, ayo masuk!" titah Rain setengah berteriak, ia paham akan kekhawatiran Airin.
"Zianne Kainav Narendra, mirip kan? Zia masuk dulu, ya, Om. Da... " Zia melambaikan tangannya sambil berlari menyusul dua orang dewasa yang sudah menunggunya.
"Na-Narendra?" lirih Keano.
Netra monolidnya sempat bertemu tatap dengan manik cemas Airin sebelum pintu rumah tertutup rapat.
...*...
Malam sudah larut. Setelah insiden yang menegangkan tadi, mata Airin seolah sulit untuk dipejamkan.
Rain sudah pulang beberapa jam yang lalu, setelah memastikan dirinya baik-baik saja. Zia pun kini sedang terlelap dalam bunga tidurnya.
Drrtt... Drrtt...
Airin meraba meja nakas, guna mengambil ponselnya yang berdering. Alisnya tertaut tatkala melihat nomor tak dikenal mengirimnya sebuah chat.
Aku mau mendengar penjelasan darimu. Keano.
Deg!
Ternyata nomor Keano. Darimana pria batu itu tahu nomor ponselnya? Airin menerka-nerka dalam hati.
Drrtt... Drrtt...
Pesan masuk dari nomor yang sama. Airin pun membukanya meski enggan, namun ia penasaran juga.
Besok. Di Kenangan Mantan Cafe. Jam 10. Telat 5 menit, aku akan datang ke tempat kerjamu. Jika kau menghindar, aku tidak akan mengganggumu. Paling cuma menerormu seumur hidup😈
Airin berdecak kesal.
Apa-apaan ini? Dia mengancam?
Tapi sudah tak ada gunanya lagi menghindar. Keano sudah terlanjur tahu keberadaan Zia, meski belum mengetahui kenyataan jika Zia adalah perwujudan benih yang dulu ia tanam.
Terus merapalkan doa agar Airin sanggup menjelaskan kenyataan pada Keano. Mengacuhkan pria itu sama saja membiarkan hantu masa lalu itu terus bergentayangan dalam hidupnya.
Pria itu tak akan pernah menyerah sebelum mendapat jawaban yang ia mau. Seperti Zia saja.
Tak sadar, Airin tertawa kecil memikirkannya.
Di sebuah apartemen....
Seorang pria sedang berdiri di balkon apartemen sambil memandangi taburan bintang yang berpendar di atas sana.
"Pelayan yang selalu ada di dekat Airin tadi... Aku seperti pernah bertemu sebelumnya... Tapi, dimana ya?"
__ADS_1