
Sedang santai-santainya seorang pria menikmati kopi di pagi harinya yang tenang, sebuah suara mistis yang selalu ditakutinya tiba-tiba saja terdengar.
"Nono!"
Keano tersentak. Hampir saja kopi yang dia minum membuatnya kesulitan bernafas.
"Uhuk ... Uhuk .... "
"Kok kamu ninggalin aku, sih?! Ijin dulu dong, kalau mau pergi," omel Celia, langsung mendudukkan diri di seberang Keano dengan wajah tak sedap dipandang.
"Aku mengantuk. Makanya cari kopi."
"Kan bisa bilang dulu. Aku nyariin kamu lho."
"Aku tidak kemana-mana, kok. Tetap di sini (buat Airin)."
"Sudah ngopinya?"
"Sudah."
"Pengen gimbab," rajuk Celia, Keano memutar bola mata menanggapinya.
Lagi-lagi Celia meminta yang aneh-aneh. Yang dia tahu, gimbab adalah jajanan dari Korea yang mirip dengan Sushi.
"Resto Korea jauh dari sini, Cel," balas Keano dengan wajah malas-malasan.
"Ayolah, No. Aku lagi ngidam ini. Apa kamu mau anak kita jadi ileran?"
Kebiasaan. Celia selalu menggunakan kehamilan sebagai tameng agar Keano tak bisa menolak permintaannya.
"Ya, sudah. Ayo."
"Asik. Terima kasih, Sayang." Celia langsung menghambur ke pelukan Keano yang baru saja berdiri.
"Jangan seperti ini, Cel. Malu dilihatin banyak orang." Keano menyingkirkan tubuh Celia yang menempel padanya.
Wanita itu mencebikkan bibir, lalu bergelayut manja di lengannya, saat berlalu meninggalkan kantin. Keano sudah geram dibuatnya. Lelah berdebat, dia pun pasrah dengan perlakuan Celia yang kelewat manja.
Pasalnya mereka ada di tempat umum, tidak sedikit pasang mata yang memandangi mereka. Namun Celia tetap tidak memperdulikan hal itu.
'Serasa ditempeli makhluk astral. Kenapa auranya jadi horor begini?' Keano bermonolog dalam hati. Entah mengapa bulu kuduknya tiba-tiba meremang.
Dan benar saja, monolid eyes-nya seketika bertubrukan dengan tatapan tajam yang dilayangkan seorang wanita di depannya.
"Om Keano!" pekik Zia.
Keano terperangah.
Bisa jadi ini sebuah kebetulan. Dia yang sudah merindukan Zia akhir-akhir ini, hatinya sontak menghangat. Memandang senyuman yang terlihat mirip dengan senyum miliknya itu ada di depan mata, seperti menghipnotis dirinya untuk ikut tersenyum.
__ADS_1
Keano serasa berkaca saja.
Tapi, senyum yang terukir di wajahnya seketika pudar saat melihat gadis kecil itu kini berada dalam gendongan Rain. Musuh bebuyutannya.
Melihat kedekatan Rain dan Zia membuat hati Keano terasa berdesir. Perih. Seperti baru saja menjebol gawang pertahanan lawan ketika pertama kali melakukannya. Bahkan Keano sebagai ayah kandung Zia saja belum pernah menggendong gadis kecil itu.
Keano menyingkirkan rengkuhan tangan Celia dari lengannya. Lalu mendekati Rain—lebih tepatnya Zia—untuk menyapa gadis kecil itu.
"Hai, Zia. Apa kabar? Kok, Zia ada di sini. Siapa yang sakit?" Keano sedikit menunduk memperhatikan wajah imut Zia dari dekat.
'Kenapa wajah Zia sedikit pucat?' tanyanya dalam hati.
Melihat Keano lebih tertarik mengobrol dengan gadis kecil itu dan mengacuhkannya, Celia pun meradang. Apalagi ada Airin di sana.
Ia bertanya-tanya, ada hubungan apa di antara Keano dan anak itu, sehingga mereka terlihat sangat akrab. Yang Celia tahu, Keano jarang sekali bisa dekat dengan anak kecil.
Zia hampir saja membuka mulutnya, namun Airin menyela dengan cepat," Tidak ada urusannya denganmu. Ayo, Mas." Airin sedikit memberi dorongan pada badan Rain agar menjauh dari pria itu.
Ekor matanya sempat melihat Celia yang semakin mendekat. Airin khawatir, mantan sahabatnya itu menanyakan hal tentang Zia. Sudah cukup Rival saja yang berbuat jahat pada putrinya. Jangan Celia juga.
Airin yakin, wanita itu tidak akan membiarkan Zia lolos jika tahu Keano adalah ayahnya. Apa lagi, setahu Airin, Celia sedang mengandung anak Keano. Tentu mantan sahabatnya itu akan merasa tersaingi.
Celia akan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan siapa pun yang menjadi penghalangnya memiliki Keano seutuhnya.
"Tunggu!" cegah Celia, menghentikan langkah keduanya.
"M-Mas, jalan terus saja," pinta Airin.
Rain yang paham akan situasi hanya bisa mengangguk, tanpa meminta penjelasan lebih. Sedangkan Zia memperlihatkan ekspresi kebingungan. Mata bulatnya mengerjap-ngerjap beberapa kali.
"Airin!" teriak Celia, tak menyerah meski Airin terus mengacuhkannya.
Rain dan Airin segera pergi dari sana, mengabaikan Celia yang mengejar dari belakang. Sedangkan Keano memperhatikan punggung ketiganya dengan tatapan rumit.
Brugh.
"Awh!"
Hampir saja tubuh Celia terjatuh, tak sengaja ia menabrak seseorang karena terlalu fokus mengejar Airin.
"Maaf," ujar seorang pria yang ditabrak Celia tadi.
"Kalau jalan lihat-lihat, dong. Emang kamu mau tanggung jawab kalau janin di perutku ini kenapa-kenapa?!" sungut Celia.
"Tapi, Mbaknya juga yang tidak hati-hati—Eh kamu? Bukannya kamu wanita yang di klub malam waktu itu?" tanya pria itu, menelisik wajah Celia.
Celia terkejut. Air mukanya langsung berubah pucat pasi.
"Anda salah orang," elak Celia sambil berpaling, berusaha menyembunyikan wajahnya.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Aku tidak pikun, tentu aku mengingat wajahmu."
Celia beringsut ke belakang, berniat meninggalkan orang itu.
Grep.
Pria itu malah menahan tangannya, sebelum Celia semakin menjauh. Keano yang melihat ada sesuatu yang tidak beres, segera mengambil tindakan. Dia pun mendekati Celia.
"Aku tidak salah. Kau 'kan wanita yang sudah melayani kami. Kalau aku salah, kenapa kau terlihat takut?"
Deg.
Perkataan itu tak sengaja terdengar Keano yang sedang menuju ke arah mereka.
"Ada apa ini?" Deep voice Keano semakin membuat tubuh Celia menegang.
Pria itu pun ikut terkejut, hingga merenggangkan cengkraman tangannya.
"T-tidak, No. Sepertinya pria sinting ini salah orang," sanggah Celia, menepis tangan pria itu, lalu segera menarik Keano menjauh darinya.
Keano memperhatikan raut gugup Celia. Tangan wanita yang menarik lengannya itu terasa lebih dingin dibanding sebelumnya.
Tak perlu mencari jawaban dari mulut ular berbisa itu. Tentu saja Keano langsung menaruh curiga padanya. Dan hanya ada satu cara untuk mendapatkan penjelasan tentang ucapan pria asing, yang sempat dia dengar tadi.
"Cel .... "
"Y-ya?"
"Sepertinya kita perlu melakukan tes DNA pada janin itu."
Deg.
Astaga. Apa Keano mendengar ucapan pria tadi?
"T-tapi, No. Ini anakmu loh. Kau tak percaya? Bukankah kita pernah melakukannya di apartemenmu?"
"Oke, oke. Kita memang pernah melakukannya. Tapi apakah kau bisa menjamin, jika kau tidak melakukannya dengan orang lain?"
"A-apa maksudmu!" Celia tidak terima. Masa iya, dia ketahuan secepat ini?
'Pria sialan. Kenapa muncul di saat yang tidak tepat?' gerutu Celia dalam hati.
"Kalau begitu lakukanlah tes DNA," tuntut Keano.
Celia terdiam beberapa saat. Membuat Keano semakin ragu jika janin yang dikandung Celia adalah anaknya.
"Bagaimana?" Pria pemilik monolid eyes itu terdengar tidak sabar.
"Aku .... "
__ADS_1