
"Eh, Mas. Tunggu!"
Seorang wanita menghampiri Keano dengan berlari tergopoh-gopoh. Nampak raut lelah tersirat dari wajahnya yang tersapu make up tipis.
Keano menoleh pada wanita itu.
"Bill-nya, Mas." Wanita itu menyodorkan secarik kertas pada Keano.
"Astaga! Bisa-bisanya aku lupa," keluhannya, menepuk jidatnya sendiri.
Dikeluarkan selembar uang dari saku celananya, lalu diberikan pada wanita itu. Tanpa berkata-kata lagi, Keano segera menghilang dari sana. Mengejar Rain yang ternyata sudah lebih dulu pulang.
"Sial!" erang Keano. Memukul keras atap mobil, menyalurkan kekesalan, sebab Rain menghindarinya.
"Tunggu saja. Kau tak bisa lari dariku," tekadnya menatap jalanan di depan yang nampak beberapa kendaraan berlalu lalang dengan kecepatan normal.
...----------------...
"Nono .... " Suara memekakkan telinga itu membuat tidur siang Keano terganggu.
Sial. Memberikan pin apartemen pada Celia adalah ide yang buruk, pikirnya.
"Makan siang, yuk?" Celia duduk di ranjang samping Keano.
"Aku mengantuk."
"Ayolah, No. Ini demi—"
"Demi siapa?! Anakku? Atau anak orang lain? Huh?" bentak Keano. Tak bisa menahan emosi lagi.
Sudah muak dengan alasan wanita itu. Demi anaknya lah. Biar tidak ileran lah. Mau dipanggil ayah yang tak bertanggungjawab pun dia sudah tidak peduli. Yang diinginkan sekarang hanya kepastian.
"Jahat!" rengek Celia. Netranya sudah berkaca-kaca.
Semenjak kejadian di rumah sakit tempo hari, kelangsungan hidup Celia serasa terancam. Pria yang menjadi harapan satu-satunya kini meragukan pengakuannya.Tidak mungkin bayi yang dikandungnya kelak lahir tanpa ayah. Bahkan hal yang mustahil jika dia menemukan ayah biologis dari janin itu.
Celia juga tidak akan sanggup menerima jika ayah kandung bayi tersebut adalah seorang berandalan. Seingatnya, sebelum benar-benar mabuk, segerombolan pria yang menghampirinya tampak seperti preman.
Celia sudah meraung keras untuk mendapatkan simpati Keano. Bukannya merasa kasihan, pria itu malah bertambah jengkel. Dia pikir Celia itu penuh dengan sandiwara.
Jika seseorang sudah tahu jika dia dibohongi, apakah dia akan tetap percaya pada orang yang sudah membohonginya? Tentu ada rasa curiga meski hanya setitik. Sebagai perlindungan diri dari rasa sakit karena terkhianati untuk yang kesekian kalinya.
Hal itulah yang dirasakan Keano sekarang. Tak ayal juga Airin melakukan hal itu pada Keano.
'Sial. Selama ini aku selalu beranggapan jika aku yang terus tersakiti. Sedangkan sebenarnya Airin lah yang paling tersakiti. Aku harus menemuinya.' tekad Keano dalam benak.
Pria itu beranjak dari ranjang meninggalkan Celia yang tengah menangis, menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Menangislah sepuasmu," cibir Keano lirih. Berharap Celia tak mendengar kepergiannya.
Keano melesat dengan cepat, menggunakan jurus menghindar dari kenyataan. Menaiki Ferrari kesayangannya dengan arah tujuan ke rumah Airin. Setidaknya Keano masih bisa menggunakan Zia sebagai jembatan menuju hati Airin kembali.
Terdengar licik, tapi setidaknya dia bisa menjauhkan wanita itu dari pria bernama Rain.
"Aku yakin, anak mafia itu merencanakan hal buruk pada Airin. Ayahnya saja bisa kabur dari penjara dengan mudah. Keluarga mereka itu selicin belut," gumam Keano geram. Tangannya meremat setir mobil dengan kuat.
__ADS_1
"Akan kubongkar kebusukan keluargamu. Lihat saja," tekadnya seraya menginjak pedal gas untuk mempercepat laju kuda besinya.
Keano dapat melihat Zia yang sedang bermain sepeda di sekitar pekarangan rumah Rain, di sana juga terlihat seorang gadis muda tengah mengawasi Zia dari dekat.
Dahi Keano berkerut dalam. Seingatnya Rain adalah anak tunggal dari keluarga Arsenio. Lalu siapa gadis itu?
Pria itu lebih memilih menghentikan Ferrari-nya di depan rumah Airin. Membuat dua gadis berbeda usia itu mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Om Keano!" pekik Zia, langsung melompat turun dari sepeda mininya, lalu berlari mendekati Keano yang baru turun dari mobil dengan kedua tangannya sibuk menenteng beberapa paperbag.
"Zia, tunggu!" Nisa yang memang belum mengenal Keano segera menyusul Zia dari belakang. Takut jika pria itu orang jahat yang ingin menculik Zia.
Srett!
Nisa menarik tangan Zia sebelum jemari mungil itu mencapai Keano yang sudah merentangkan kedua tangannya, siap menyambut Zia dalam pelukan.
"Kenapa, Kak? Om Keano baik, kok," protes Zia, menggerak-gerakkan tangan mungilnya yang dicengkeram Nisa.
"Benar. Om tidak berniat jahat. Nih, Om malah bawain oleh-oleh." Keano memperlihatkan beberapa paperbag di tangan kanan dan kirinya.
"Om ini siapa?" selidik Nisa.
"Om ini—"
"Teman bunda," sambung Zia tiba-tiba.
"Ya, teman bundanya Zia. Dan kamu siapa?" Keano mencondongkan badannya ke arah Nisa.
"Namaku Nisa. Adik kak Rain."
"Ayo masuk, Om."
Keano sedikit tersentak, ketika tangan mungil Zia sudah menarik-narik lengan kekarnya untuk memasuki halaman rumah Rain.
"Wow, tunggu, Zia! Sepertinya kita salah arah. Om berniat bertamu ke rumah bundanya Zia. Bukan ke rumah itu," tolak Keano, menunjuk rumah Rain dengan dagunya.
"Tapi Zia biasa main di rumah om Rain kalau bunda belum pulang." Zia menatap Keano dengan mata bulat beningnya yang polos.
Akh! Mana bisa aku menolaknya. Sudahlah.
Keano pun pasrah. Mengikuti kedua gadis itu memasuki rumah berlantai dua tersebut.
Sampailah mereka di ruang tamu. Keano mendaratkan bokongnya pada salah satu sofa. Meletakkan beberapa bawaan yang merepotkannya di atas meja. Zia segara menyusul duduk di samping Keano, sedangkan Nisa pamit menuju ke dalam rumah.
"Om bawa makanan kesukaan Zia. Buat bunda Zia juga ada." Keano mengeluarkan makanan dari salah satu paperbag.
"Yeay, asik. Spaghetti bolognese." Netra bening Zia semakin berbinar melihat makanan di depan mata.
Tak lama Nisa datang sembari membawa nampan berisi segelas minuman.
"Silahkan, Om," ujarnya sembari menaruh gelas di atas meja.
"Terima kasih. Anak pintar." Keano mengeluarkan senyum mautnya. Seketika pipi Nisa merona dibuatnya.
Sedikit terkikik geli melihat respon Nisa, Keano sontak teringat Airin saat masih sekolah dulu. Setiap dia tersenyum, sudah dipastikan kedua pipi Airin akan bersemu merah. Meski Airin berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk, tetap saja rona merah muda akan nampak kontras dengan pipi putihnya.
__ADS_1
"Om Keano kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Zia. Sukses membuat Keano tersentak, lalu menatap gadis cilik itu.
Bertemu pandang dengan Zia setelah teringat masa lalu membuat perasaan haru mulai melingkupi hatinya. Tak percaya jika dirinya kini sudah menjadi seorang ayah. Setiap melihat Zia, tekadnya untuk meluluhkan hati Airin terus menggebu dalam diri.
"Loh? Om, kenapa?" panik Nisa, menyaksikan setetes air bening berlinang di pipi Keano.
"Tadi senyum-senyum, sekarang nangis. Om Keano sakit?" Zia reflek mengusap air mata itu dengan jemari mungilnya.
Hati ayah mana yang tak terenyuh melihat anaknya yang perhatian seperti ini. Nampak sederhana, namun cukup membekas dalam hati.
...----------------...
Bulan sudah muncul, menggantikan tugas matahari di langit sana. Tak terasa malam sudah larut, namun belum ada tanda-tanda kepulangan Airin.
Kini Keano sudah berada di kamar Zia. Dia tadi meminta kunci pintu rumah Airin pada Nisa. Untung saja gadis itu sudah percaya jika Keano bukan ancaman bagi Zia. Kekuatan senyum mautnya memang tak diragukan lagi. Sayangnya, Airin sudah tak mempan lagi dengan jurus itu.
Untuk pertama kalinya Keano berkesempatan menidurkan putri yang selama ini tidak dia ketahui.Ada rasa haru, sedih, senang, bercampur menjadi satu.
"I love you, kesayangan Ayah."
Cup.
Setelah menggumamkan kalimat sayang, Keano mendaratkan kecupan di dahi Zia. Namun, saat berbalik berniat meninggalkan kamar, hampir saja jantungnya melompat keluar dari posisinya bernaung.
Monolid eyes-nya langsung bertubrukan dengan tatapan tajam Airin. Rain pun juga sudah berada di samping wanita itu.
'Sejak kapan mereka ada di sana?' batin Keano dalam mode terkejutnya.
"Hai—"
"Silahkan keluar!" Airin lebih dulu berucap sebelum Keano menyelesaikan kalimatnya. Kemudian meninggalkan kamar begitu saja.
Keano yang sadar jika Airin sedang marah, segera bergegas keluar kamar. Saat berpapasan dengan Rain, mata mereka sempat beradu dengan singkat.
"Akan kubongkar kebusukanmu sekarang juga," tantang Keano, sebelum kembali mengejar Airin.
Ia segera menghampiri Airin yang saat ini sudah membuka pintu depan. Membantu melebarkan jalannya untuk keluar dari rumah itu.
"Ada yang ingin aku bicarakan," ujar Keano dengan tampang serius.
"Pulanglah, Ke." Airin tak bergeming.
"Tapi—"
"Tak ada yang perlu kita bicarakan."
"Ini penting."
"Please, Ke. Jangan ganggu kehidupanku lagi. Kembalilah pada Celia, dan berbahagialah."
"Kau dengar yang dikatakan Airin, bukan?" Rain tiba-tiba datang dari balik punggung Keano.
Sebelum Keano berbalik, Rain sudah mendorong tubuhnya lebih dulu, membimbingnya hingga sampai di luar rumah.
"Airin! Asal kau tahu. Rain terlibat dengan orang yang menjadi dalang di balik kecelakaan yang menimpa kedua orang tuamu."
__ADS_1