
"Dia sopirmu mulai saat ini. Namanya Don."
"Tapi, Mas. Ini berlebihan—"
Rain menempelkan telunjuknya di bibir Airin. Membuat wanita itu menghentikan ucapannya dengan terkejut. Pria itu segera membungkuk lalu meraih Zia dalam gendongannya. Mengabaikan pipi Airin yang telah merona.
"Zia yang nurut, ya sama Bunda. Jangan bandel. Harus jadi anak baik," pesan Rain memperhatikan raut heran dari Zia dari dekat.
"Zia 'kan selalu baik, Om," sahutnya dengan mata bening mengerjap lucu.
"Anak pintar. Satu lagi. Jaga diri baik-baik dan jaga Bunda untuk Om, oke?"
"Om ini kenapa? Kok ngomongnya aneh?"
"Tidak apa-apa, Zia. Om hanya terlalu sayang dengan kalian." Rain berusaha tersenyum namun hatinya terasa sesak saat mengucapkan kata sayang.
"Zia juga sayang sama Om."
Cup.
Kecupan ringan mendarat di kening Zia. Rain menurunkan Zia. Pandangannya beralih pada Airin yang menatapnya dengan sendu.
"Kenalan Mas namanya siapa?" tanya Airin. Mengalihkan hatinya agar tetap fokus pada tujuan awal.
"Felix Anggara. Don sudah tahu tujuan kalian. Jadi percayalah padanya. Dia akan mengarahkanmu pada orang yang kau cari."
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih. K-kami pamit, Mas." Satu kalimat yang terlontar setelah tatapan mata intens dari keduanya terputus. Bahkan netra Airin sudah hampir dilapisi benda bening.
"Jika mengucapkan terima kasih jangan dengan raut sedih seperti itu. Hati-hati di jalan," pesan Rain.
Airin mengangguk, mengusap kantung matanya lalu menggandeng Zia dan bergegas memasuki mobil. Wanita itu memilih duduk di bangku belakang bersama Zia. Setelah pintu mobil tertutup, perlahan kaca jendela terbuka. Menampilkan Airin yang melambaikan tangan ke arah Rain.
Mobil pun melaju, meninggalkan Rain yang masih berdiri menatap bagian belakang mobil dengan nanar. Tangannya mulai terjulur guna merai benda pipih yang berada dalam kantung celana.
Jemarinya dengan lihai mengusap layar lalu menempelkannya pada telinga.
"Halo? Felix?" sapa Rain saat teleponnya tersambung.
"Oh, Rainand. Apa kabar? Tumben menghubungiku," jawab suara berat dari seberang.
"Aku butuh bantuan."
Terdengar suara dengusan dari sana. "Kau selalu muncul kalau ada perlu saja."
"Mau bantu atau tidak?" Rain terdengar kesal.
"Oke, oke. Kalau bukan karena aku berhutang budi dengan ayahmu, sudah kubuang tubuhmu ke laut. Hahaha."
"Sudah selesai atau belum membualnya?" Rain memutar bola matanya, malas.
"Katakan," sahut Felix mulai serius.
"Tolong terima temanku menjadi sekertaris di perusahaanmu. Dia akan—"
"Wait, Bro. Tapi aku sudah mempunyai sekertaris—"
__ADS_1
"Pecat saja," tekan Rain dengan nada memaksa.
"Kau ini kenapa?"
"Tolong. Bukankah ayahku sudah—"
"Akh! Baiklah. Karena kau memohon. Siapa temanmu itu?"
"Airin Kaila Nanda. Dia sedang dalam perjalanan menuju kantormu."
"Hmm, secepat itu."
"Bisa atau tidak?"
"Baiklah. Bisa diatur."
"Beri dia tempat tinggal yang terbaik. Jangan repotkan dia dengan pekerjaan yang berat, dan—"
"Aku paham. Memang susah kalau berbicara dengan orang yang sedang kasmaran. Aku akan memperlakukan dia sebaik mungkin," dengus Felix. Mulai kesal dengan permintaan Rain yang merepotkan.
Rain terdiam merasa tersindir.
"Ada lagi?" Suara Felix masih terdengar dari seberang sana.
"Jangan menikung."
"Hahaha. Ada-ada saja. Selera kita berbeda, Rainand."
"Ya, sudah. Aku tutup. Terima kasih."
"Tunggu. Aku belum—"
Pip.
Pasalnya Felix adalah pria yang pamrih. Setidaknya dia menetapkan winwin solutions dalam setiap bantuan yang diberikan.
Kling.
Notifikasi ponsel Rain berbunyi. Menampilkan nama Felix yang mengirimkan pesan padanya. Kalau bukan demi Airin, Rain tidak sudi membuka pesan tersebut.
[Kau paham 'kan setiap bantuan dariku harus ada syaratnya.]
Isi chat yang berhasil membuat Rain menggeram kesal. Namun jarinya tetap saja mengetikkan sebuah balasan.
...----------------...
Brak!
"Keano!" pekik Rain. Baru saja mendobrak pintu apartemen Keano setelah menghack password-nya dengan bantuan salah satu anak buah yang ahli meretas.
Sunyi. Tak ada jawaban. Maka Rain langsung saja merangsek masuk, mencari sosok yang dia cari. Setiap ruangan sudah disambanginya, namun nihil. Keano tidak berada di apartemen.
"Kemana orang itu?" gumam Rain celingukan.
"Jangan-jangan dia berada di tempat wanita itu," monolog Rain kemudian.
__ADS_1
Rain segera pergi dari sana setelah mendapatkan sebuah alamat dari anak buahnya. Tak perlu waktu lama untuk sampai di hotel tempat wanita itu tinggal.
Ting Tong
Ceklek.
Seorang wanita yang masih mengenakan baju tidur membuka pintu tak lama setelah suara bel terdengar olehnya.
"Siapa?" tanya Celia memperhatikan wajah lelaki di depan yang seperti tak asing baginya.
"Keano ada?"
"Keano? Kau salah alamat. Dia tidak tinggal di—Hei, jaga sopan santunmu!" Celia terkejut saat tamunya menerobos masuk begitu saja. Dengan acuh melewatinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kau pikir kau siapa?!" hardik Celia mengejar Rain dari belakang.
"Dia tidak ada di sini," lirih Rain setelah memeriksa setiap ruangan.
"Sial. Kemana dia?" kesalnya tak menghiraukan Celia yang menatapnya kesal.
"Pergi atau aku panggilkan security?" tawar Celia berusaha bersabar yang sebenarnya emosi sudah mencapai ubun-ubun.
"Aku akan pergi. Tak ada gunanya berlama-lama di sini. Permisi," pamit Rain.
"Dasar pria aneh. Tapi wajahnya seperti tak asing. Siapa dia?" Celia termangu dengan mengamati kepergian Rain.
Blam.
Setelah pintu ditutup barulah dia teringat akan seseorang.
"Ah, kak Arsen! Kenapa aku tidak menyadarinya?" decak Celia.
"Kenapa dia mencari Keano? Jangan-jangan Keano ada masalah dengannya. Aku harus menghubungi Keano," tebak Celia. Lalu ia berjalan menuju dekati meja nakas dan meraih ponselnya.
"Ah, sial. Ponsel Keano mati. Kemana dia sebenarnya." Celia meremat ponsel di tangannya. Menyadari Keano tak bisa dihubungi, membuat perasaannya seketika resah.
Terlebih mengingat wajah dingin yang ditunjukkan Rain tadi. Celia yakin ada yang terjadi di antara mereka.
...----------------...
"Arghh!" Rain memukul kesal setir mobilnya seraya mengerang sebal.
Merasa jika Keano seperti sengaja menghindarinya. Setelah apa yang dia lakukan untuk pria begajuan itu, nyatanya Keano tetap mengingkari janjinya untuk tidak menyakiti Airin. Entah apa yang terjadi di antara mereka, Rain merasa harus mencari tahu.
"Halo? Temukan Keano untukku. Bawa dia ke hadapanku sekarang juga. Aku tidak menerima kata gagal untuk misi ini."
Pip.
Rain mematikan panggilan telepon sepihak setelah mengucapkan keinginannya. Pikirannya tiba-tiba bercabang. Memikirkan Airin, Zia, dan Keano.
"Huh?! Aku ini kenapa? Sebenarnya ini masalah keluarga mereka. Tapi kenapa aku yang repot?" kesal Rain pada diri sendiri.
Kesal karena dia tidak dapat diam saja saat wanita yang dicintai sedang menghadapi masalah. Apalagi melihatnya sedih dan menangis. Hati Rain seolah akan ikut sedih.
"Bagaimana aku bisa lepas dari pesona wanita itu? Akh! Lama-lama dia akan membuatku gila. Tapi sebelum itu, aku harus mengurus cecunguk satu itu agar rasa kesalku terbalaskan."
__ADS_1
Rain menekan pedal gas dengan kakinya, melajukan McLaren abu-abu dengan lebih kencang. Udara panas di luar masih terasa sampai dalam mobil, padahal dia sudah meninggikan suhu AC-nya.
'Udaranya yang panas, atau hatiku yang panas?' batinnya gusar.