
"Eh, jangan, Rin!"
"Kenapa? Kau mau merayuku? Basi, Ke!"
" ... "
Set.
Airin berhasil membuka simpul tali itu dengan mudah. Lalu menyerahkan kemeja crocodile pada sang pemilik.
"Nih, ambil."
"Kamu lagi datang bulan, Rin. Jadi ... Itu ... Tembus."
"Jangan mengada-ngada—ha? Tembus?!"
Airin terbelalak, sontak menolehkan kepala untuk mengecek bagian belakang tubuhnya.
Dan benar saja. Terdapat bercak kemerahan di sana. Buru-buru mengikatkan lagi kemeja crocodile Keano pada pinggang untuk menutupinya.
Semburat kemerahan mulai napak jelas dikedua pipi Airin. Membuat Keano reflek mencubit pipi itu karena gemas.
"Awh, sakit, Ke!" Airin menepis tangan jahil itu setelah selesai dengan simpul pada kemejanya.
"Ups, maaf. Kebiasaan, jadi reflek saja," sahut Keano, santai.
Tak tahu saja dia, Airin berjuang setengah mati menahan malu, juga menahan diri agar tidak terbawa perasaan.
"Kamu masih sama seperti dulu. Ceroboh."
Airin menghela nafas, mengatur irama jantungnya.
"Ke ... "
"Ya, beibeh."
Airin mencebikkan bibir, kemudian berujar, " Jangan pernah temui Zia lagi."
"Ha?! Tapi kenapa—"
Sebelum Keano melayangkan protesnya, Airin sudah lebih dulu berbalik. Memasuki mobil, lalu pergi begitu saja meninggalkan Keano yang menatap intens dengan kedua mata elangnya yang terlihat sayu.
'Huftt, untung dia tidak mengikutiku lagi.' Airin bersyukur dalam hati.
Namun diam-diam hatinya terasa perih, seperti tertancap pisau. Yang jika dibiarkan, lukanya akan semakin dalam. Namun jika dicabut, akan meninggalkan luka menganga di sana.
Mendengar Celia kini sedang mengandung benih dari Keano, membuatnya tersenyum getir.
"Kenapa aku harus bersedih? Harusnya aku tadi mengucapkan selamat pada mereka," gumam Airin, masih berusaha mempertahankan senyumnya.
Tapi air mata yang sudah berlinang di pipi membuatnya tampak menyedihkan. Bagaimana pun ia hanya seorang wanita. Sekuat apapun terlihat baik-baik saja meski sudah bersembunyi di balik senyuman, tetap saja air mata mematahkan ketegarannya.
Percuma bersikap kuat jika sedang sendiri.
Menghentikan laju mobil saat lampu lalu lintas berhenti diwarna merah. Iris matanya tak sengaja memperhatikan seorang gadis dengan usia berkisar 10 tahun sedang bernyanyi di luar mobilnya, sedangkan ukulele yang nampak usang berada dalam kendali tangannya.
Airin menurunkan kaca jendela mobil. Berniat membagi sedikit rezekinya pada anak itu.
"Aku t'lah tahu kita memang tak mungkin.
Tapi mengapa kita selalu bertemu?
Aku t'lah tahu hati ini harus menghindar.
Namun kenyataan ku tak bisa.
__ADS_1
Maafkan aku terlanjur mencinta."
Terdengar sayup suara merdu memasuki indera pendengarannya. Lirik lagu yang dinyanyikan pengamen cilik itu malah membuat Airin serasa tersindir.
Apa iya dia masih menyimpan rasa untuk Keano?
Rain juga pernah mengatakan hal itu.
"Kak?"
"Eh, i-iya... " Terbata saat pengamen itu sudah ada di depan jendela mobilnya sambil menjulurkan tangan.
"Lampunya sudah hampir hijau," ujarnya dengan tatapan polos penuh harap.
Airin segera menyerahkan selembar uang berwarna merah muda bergambar presiden dan wakil presiden RI pertama, sedang tersenyum pada gadis itu. Membuat senyum sumringah seketika terbit dari bibir kecilnya yang sedikit pucat dan pecah-pecah.
Airin pun teringat akan Zia. Ketika lampu lalu lintas sudah berganti hijau, ia segera kembali melesatkan mobil untuk pulang.
Sedangkan di tempat lain, Keano sedang pusing mendengar ocehan Celia yang tak ada habisnya. Sesekali ia menguap, bahkan tak jarang mencuri waktu untuk tidur sejenak.
Hingga ucapan Airin untuk tidak mendekati Zia kembali terngiang-ngiang di telinganya.
Keano membuka matanya. Telinganya menangkap suara Celia yang masih saja berkicau. Sudah seperti radio rusak saja, batinnya.
Beranjak dari ranjang begitu saja, Keano mengabaikan Celia yang terus memanggil namanya. Persetan dengan ular piton itu. Keano berniat pergi ke suatu tempat saat ini.
Tak membutuhkan waktu lama. Kini Keano telah menghentikan mobilnya tak jauh dari sebuah gedung sekolah. Keluar dari mobil untuk menemui seseorang yang ia cari. Kebetulan sekolah sudah nampak lenggang. Sepertinya sudah jam pulang.
Setelah menelusuri taman bermain yang terdapat di depan gedung, ekor matanya tertuju pada seorang gadis kecil, sedang duduk sendirian di atas bangku panjang.
"Zia ... " gumamnya, dengan mata tak lepas dari gadis kecil yang tengah memandang beberapa temannya sedang bermain ayunan.
Mengabaikan larangan Airin, Keano berjalan mendekati Zia. Namun langkahnya langsung terhenti tatkala mendengar suara cempreng dari anak perempuan yang tiba-tiba menghampiri Zia.
"Hai, anak haram," sapa seorang anak perempuan, yang tak lain ialah Gendis. Di belakangnya ada Cilla yang mengekor sambil melambaikan tangan.
Deg.
Panggilan macam apa itu?
Tangannya terkepal. Kalau saja yang ia hadapi bukan anak kecil mungkin bogemnya sudah mendarat di wajah si pemilik mulut tak bertata krama itu.
Zia memasang wajah cuek, tak menanggapi.
Hal itu membuat dada Keano semakin sesak.
'Gadis yang tangguh, seperti Airin,' batinnya.
"Anak haram, apa kau tidak mendengarku?"
Sudah cukup! Ini sudah keterlaluan.
Keano melanjutkan langkahnya, sudah tak tahan mendengar cemooh dari mulut mungil biadab itu. Siapa yang patut ia salahkan? Gurunya? Atau orang tuanya?
Kenapa bisa anak sekecil dia mengucapkan kata-kata tak beradab seperti itu? Ini namanya perundungan.
'Sebelum menyalahkan orang lain, cobalah bercermin dulu, Ke.' Akal sehat Keano mulai unjuk gigi, membuatnya tersenyum getir.
"Zia," panggil Keano, membuat ketiga kepala mungil itu menoleh ke arahnya.
"Om Keano?!" Wajah cuek Zia seketika lenyap. Digantikan dengan senyum antusias dan mata berbinar.
Zia melompat untuk turun dari bangku. Kemudian menghampiri Keano sambil berlari kecil.
Baru kali ini dua gadis kecil itu melihat Zia dijemput laki-laki dewasa asing—selain Rain tentunya. Membuat jiwa penasaran keduanya bergejolak. Gendis dan Cilla mengekori Zia dari belakang.
__ADS_1
"Kenapa Om Keano ada di sini?" tanya Zia.
"Om, mau jemput Zia."
"Apa bunda tahu?"
"Airin—eh, bundanya Zia yang suruh Om tadi."
"Hai, Om." Panggilan dari arah gadis kecil di belakang Zia, Keano abaikan begitu saja.
"Om?"
Kaos Keano ditarik-tarik oleh Gendis. Dengan malas Keano menoleh ke asal suara.
"Hai, adik-adik yang manis. (Saking manisnya jadi pengen makan satu-satu, he**m)," sapa Keano dengan senyum yang dipaksakan.
Sejenak kedua gadis kecil itu terpana dengan senyuman Keano.
"Om, jangan dekat-dekat sama anak itu," ujar Gendis, sambil menunjuk Zia, yang disambut anggukan mantap oleh Cilla.
"Memangnya kenapa?"
"Sini, aku bisikin."
Keano berjongkok dan sedikit mencondongkan badan ke samping, agar Gendis dapat mencapai telinganya.
"Nanti bisa kena sial," bisik Gendis di telinga Keano.
"Kok bisa?"
"Karena dia anak haram."
"Tahu dari mana?"
"Kata mama."
Air muka Keano seketika menggelap, menatap lekat Gendis.
"Siapa namamu, Nak?"
"Gendis, Om."
"Aku Cilla," sambar Cilla, padahal tidak ada yang bertanya.
Keano menetralkan nafasnya yang memburu, menahan amarah.
"Apa Gendis tahu, apa maksudnya anak haram?" tanya Keano, memicingkan matanya.
"Anak yang lahir dari kesalahan, sampai ayahnya saja membuangnya. Makanya ayah Zia tak pernah pulang."
Deg.
'Sial! Kenapa hatiku seperti tersentil?' Keano merutuk dalam hati.
"Dengar, Gendis tidak boleh bicara seperti itu. Apalagi sampai mengejek teman. Kalau Gendis yang ada di posisi Zia, bagaimana? Mau?"
Gendis tampak terkejut, begitu pula dengan Cilla, kemudian menggeleng.
"Jadi, Om harap Gendis tidak memanggil Zia dengan sebutan seperti itu lagi. Panggil namanya dengan benar. Tidak ada namanya anak pembawa sial, haram atau apalah. Semuanya sama. Sama-sama makhluk ciptaan Tuhan," final Keano sebelum berdiri lalu meraih tangan Zia.
"Om?" panggil Gendis.
Keano menoleh dengan enggan, " Ya?"
"Om siapa? Kenapa jemput Zia?" Gendis nampaknya masih penasaran.
__ADS_1
"Om itu ... Ayah Zia."
Sontak ketiga gadis kecil itu terkejut berjamaah.