Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 47. Saling Terikat


__ADS_3

"Kalau begitu, mari kita menikah."


"Jadi bagaimana? Kau bersedia, tidak?" desak Keano tak tahu diri.


"Apa kau sudah memikirkan matang-matang tentang ajakanmu barusan?"


"Bukankah sesuatu yang baik itu harus disegerakan?"


Airin melongo. Sebuah gagasan yang akan semakin memperkeruh suasana, pikirnya. Bahkan urusan Keano dengan Celia yang tengah hamil anaknya saja belum selesai. Bisa-bisanya pria itu akan menimpa masalah dengan masalah lainnya.


"Apa kau gila?"


"Aku tergila-gila padamu, Rin."


"Aku tahu—oh, maksudku bagaimana dengan Celia dan janinnya? Kau tak berniat untuk lari dari mereka 'kan?"


"Sudah aku bilang. Janin itu belum tentu benih yang aku tabur. Bisa saja dia milik orang lain."


Airin menutup mulutnya yang reflek terbuka lebar. "Apa kau bisa membuktikan ucapanmu barusan?"


"Sayangnya Celia menolak melakukan tes DNA. Tapi dia tetap kekeuh jika yang dia kandung itu anakku."


Airin memijat pelipisnya, semakin pusing dengan beban hidup yang datang keroyokan. Dirinya sudah seperti berada di tengah-tengah tawuran suporter bola. Mau melangkah kemanapun, semua ada hambatannya.


"Jangan mengajakku menikah jika kau belum bisa mengambil hati anakmu sendiri," final Airin membuat senyum getir terbit di wajah tampan Keano.


"Mengenai Celia, urus dulu masalahmu dengannya. Jangan libatkan aku dengan masalah kalian," sambungnya.


"Itu artinya kau menolak lamaranku?"


Airin mendengus lirih. "Entahlah, aku masih bimbang dengan perasaanku sendiri."


"Apa itu karena Rain? Kau ada rasa dengannya?"


Airin diam tak menanggapi. Masih bingung dengan perasaanya sendiri. Mungkin ini salah satu ultimatum dari seorang perempuan yang jarang diketahui oleh kaum adam, dan baru ia rasakan sekarang.


Mencintai dua laki-laki dalam satu hati.


"Bukan begitu. Aku hanya perlu waktu untuk berpikir," elak Airin kemudian.


"Itu berarti jika saatnya tiba, kau akan menerima lamaranku?" Binar harapan terpancar jelas pada netra Keano.


"Bisa iya, bisa tidak."


Jawaban ambigu yang sukses membuat Keano berpikir panjang. Namun ia merasa jika keinginannya untuk kembali bersanding dengan Airin masih ada harapan.

__ADS_1


'Yah, sebelum janur kuning melengkung, Airin masih bisa menjadi milik siapa saja. Termasuk diriku,' batin Keano.


...----------------...


Di sebuah kafe yang khusus menjual es krim, Rain duduk berseberangan dengan Zia. Di atas meja sudah tersaji dua jenis es krim. Satu gelas besar es krim rasa cokelat strawberry dengan topping biskuit dan potongan cokelat kecil. Dan satunya lagi ukuran gelas sedang es krim rasa cokelat dengan taburan meises warna-warni dan susu cokelat.


Zia asyik melahap es krim cokelat strawberry pesanannya dengan wajah antusias. Rain tersenyum senang, gadis kecil itu sudah melupakan kesedihannya. Setidaknya untuk sementara ini.


"Menurut Om Rain, om Keano itu benar ayah Zia, bukan?"


Suara yang tiba-tiba terdengar itu hampir saja membuat Rain tersedak.


"Uhuk ... Menurut Zia bagaimana?" Rain balik bertanya.


Gadis itu mengarahkan bola matanya ke langit-langit. Seolah tengah berpikir keras seperti saat mendapat ulangan mendadak yang menurutnya sulit.


"Tapi om Keano tadi membentak Zia. Apa ayah selalu semenyeramkan itu?"


Rain tersenyum gemas pada Zia. "Mungkin om Keano sedang banyak masalah. Makanya dia tidak sengaja membentak Zia tadi. Tidak ada ayah yang tak menyayangi anaknya."


"Tapi kenapa om Keano tidak mengatakannya dari awal saja, kalau dia itu ayah Zia?"


"Mungkin om Keano takut."


"Takut Zia akan marah dan tidak mau menerima om Keano sebagai ayah Zia. Sepertinya om Keano memerlukan waktu yang tepat untuk mengatakannya."


Rain yang sudah mengetahui duduk permasalahan dari Airin tadi malam berusaha memposisikan diri sebaik mungkin. Memberi alasan yang dapat diterima oleh gadis kecil itu.


"Begitukah?"


"Tentu. Bukannya Zia senang karena ayah Zia sudah pulang?"


Zia menunduk, tangannya mengaduk-aduk es krim yang tinggal seperempat gelas itu.


"Harusnya Zia senang jika ternyata Zia punya ayah seperti teman-teman yang lain. Tapi kenapa Zia malah merasa sakit? Di sini." Zia menempatkan jari telunjuk di dadanya.


"Itu karena Zia tadi tidak sengaja membuat om Keano sedih. Itu namanya ikatan batin orang tua dan anak. Om Keano sedih, Zia juga sedih. Begitu pula dengan bunda. Zia sedih, bunda juga ikut sedih."


Zia menatap Rain dengan mata yang mengerjap-ngerjap lucu. Terlihat jelas jika dia tidak mengerti maksud ucapan Rain.


Rain meraih jemari mungil Zia sembari berucap. "Zia pernah 'kan mainan pisau waktu di kafe Om dulu. Terus jari Zia tak sengaja tergores sampai berdarah. Nah, apa itu sakit?"


"Iya, sakit. Zia tidak mau mainan pisau lagi," balas Zia seraya memasang wajah takutnya.


"Yang sakit jari Zia, bukan?"

__ADS_1


"Iya, yang ini." Zia memperlihatkan jari telunjuknya pada Rain.


Rain tersenyum lalu melanjutkan. "Tapi waktu itu kenapa Zia menangis?"


"Karena sakit, Om."


"Katanya yang sakit jarinya, kenapa Zia juga menangis?"


"Eh? Kenapa, ya?"


"Itulah yang disebut ikatan. Seperti halnya ikatan keluarga yang Om bilang tadi. Kalian seperti satu tubuh. Dimana salah satu bagian tersakiti, bagian yang lain juga ikut merasakan sakit. Itu juga yang terjadi pada Zia sekarang."


Zia hanya ber-oh ria. Wajah gembulnya terlihat semakin imut dengan ekspresi itu.


"Jadi Zia sekarang percaya jika Om Keano itu ayah Zia?" tanya Rain kemudian.


Zia mengangguk sembari tersenyum cerah.


"Jadi Zia sudah tidak marah lagi 'kan sama Om Keano?" Rain kembali bertanya.


"Masih." Zia melipat tangannya di depan dada.


"Kenapa?"


"Om Keano belum minta maaf sama Zia."


"Kalau nanti om Keano minta maaf, Zia mau memaafkannya?"


"Mau dong, Om." Zia kembali melahap es krim yang sudah seperti bubur itu. Ditandaskannya hingga tak tersisa apapun lagi di sana.


"Jadi tak perlu bertanya pada orang lain lagi. Cukup tanya sama hati Zia. Kalau Zia yakin, kenapa tidak?" Rain bersuara lagi.


"Siap, Om." Zia beranjak dari tempat duduknya.


Mengikis jarak di antara dirinya dan Rain. Dia berusaha naik kepangkuan Rain. Setelah berhasil karena mendapat bantuan dari pria itu, Zia memeluknya dengan erat. Seolah menyalurkan rasa sayang pada pria yang sudah menemaninya sejak pertama kali melihat dunia itu.


"Zia maunya Om Rain saja yang jadi ayah Zia," celetuknya di sela pelukan.


"Eh? Kenapa?"


"Om Rain baik."


Rain mengulum senyum mendengarnya.


'Andai Om bisa. Om mau sekali mengabulkan permintaan Zia,' lirihnya dalam hati, semakin membalas pelukan Zia sembari mendaratkan kecupan pada pucuk kepala gadis kecil yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu.

__ADS_1


__ADS_2