
Airin POV
Setelah mengantar Zia, aku bergegas menuju Rain Cafe. Nampaknya akan sedikit memakan waktu, mengingat jalanan sedang padat. Ketika meliuk-liukkan laju mobil, aku merasa diikuti dari belakang oleh mobil Ferrari berwarna merah. Sepertinya aku pernah melihat mobil itu sebelumnya.
Ah, pasti hanya perasaanku saja. Menampik pikiran negatif dari kepala, aku pun mempercepat laju mobil. Mas Rain sudah menunggu. Katanya ada sesuatu yang ingin dibahas.
Setelah sampai di kafe, kulihat mas Rain sudah menunggu kedatanganku di ambang pintu. Buru-buru turun dari mobil lalu menyapanya.
"Pagi."
Eh, ternyata malah dia yang menyapa duluan.
"Pagi juga, Mas." Aku tersenyum sambil menjawab sapaan mas Rain.
"Mari, ke ruangan. Ada yang ingin aku diskusikan."
"Oh, iya, Mas."
Aku masuk ke dalam kafe beriringan dengan mas Rain, sambil sesekali diiringi candaan. Bukan seperti bos dan bawahan, mas Rain selalu baik padaku. Dia menganggapku sudah seperti keluarga sendiri, begitu pula sebaliknya.
"Begini, Airin .... " Mas Rain sudah duduk di kursinya, dengan tangan menopang pada dagu sambil menatap lurus ke arahku.
Aku pun mendengarkan penjelasannya dengan seksama.
"Soal menu baru yang tempo hari kita bahas. Bagaimana? Kapan kau akan memasukkannya dalam daftar menu?"
Tak heran jika mas Rain, mendiskusikan perihal menu di kafe miliknya. Sekarang aku sudah menjadi kepala koki di sini, dari hanya seorang cook helper. Pencapaian ini adalah tombak yang dapat mendongkrak keuanganku secara drastis.
Hingga aku bisa membeli KIA Picanto putih. Walau harganya tak seberapa. Setidaknya benda itu sudah berjasa menemani kemanapun aku pergi.
"Minggu ini akan aku usahakan, Mas."
"Oh iya, satu lagi."
Aku mengerutkan dahi. "Apa lagi, Mas?"
"Mengenai lamaranku 3 bulan yang lalu .... "
Deg.
Jantungku serasa terhenti. Aku tak menyangka mas Rain akan menanyakan hal itu sekarang. Jujur, aku belum bisa menjawabnya.
"Tidak enak tahu, Rin, digantungkan selama itu. Hmm, bukannya mau nagih. Tapi, setidaknya jawab saja. Bersedia atau tidak. Kelar deh, simpel kan?" Mas Rain tersenyum ramah seolah yang ia ucapkan sangat ringan.
__ADS_1
Namun hatiku malah tak karuan menanggapinya. Otakku pun bekerja lebih keras. Aku harus memikirkan matang-matang keputusanku.
Sekali lagi. Walau tak bisa dipungkiri, setiap peningkatan kualitas hidupku tak lepas dari campur tangan pria baik yang sedang duduk tepat di hadapanku. Meski bibirnya tersenyum, namun aku tahu dia sedang serius menunggu jawaban dariku.
Oh, dia nampak tampan. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Setelah 6 tahun mengenalnya.
"Airin?"
"Hey, Airin?! Kau tidak apa-apa?"
Puk Puk Puk
Kurasakan telapak tangan hangat mas Rain menepuk-nepuk pelan pipiku, yang langsung menyadarkanku dari lamunan.
Namun tiba-tiba...
Brakk!
Pintu ruangan didobrak paksa oleh seseorang. Aku yang sontak terkejut pun langsung menatap ke arah suara. Sosok itu sukses membuatku mematung di tempat. Begitu juga dengan mas Rain yang tak kalah terkejutnya.
"Singkirkan tanganmu dari Airin! Dia milikku!"
Mataku hampir saja keluar dari tempatnya saat melihat sosok hantu dari masa lalu itu menerobos masuk dengan tidak sopannya.
Set!
Tanpa diduga, sosok itu langsung menarik kerah baju mas Rain lalu melayangkan tinjunya membabi buta.
Baghh!
Bughh!
"Astaga!"
"KEANO! STOP!!" Reflek aku meneriakkan namanya.
Tampak mas Rain mengerutkan dahi dari balik lengan yang digunakan untuk melindungi wajahnya. Mungkin dia heran, kenapa aku mengenal pria tak punya tata krama tersebut.
Tak hanya diam, sekarang mas Rain nampak melawan perlakuan Keano, saat mulai pulih dari keterkejutan.
Apakah aku akan diam saja menyaksikan pertarungan sengit ini?
Oh, tentu tidak.
__ADS_1
Aku kenal betul siapa Keano. Dia tidak akan berhenti sebelum lawannya tumbang. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi pada mas Rain.
Dengan nafas memburu tak beraturan–sebab menahan marah–kulangkahkan kaki mendekati dua pria yang sedang adu jotos itu.
"Hey! Apa baut di kepalamu itu sudah longgar? Apa kau sudah gila, hah?!" sarkasku yang sudah menarik baju belakang Keano.
"Masuk tanpa ijin, dan memukul orang sembarangan. Sebenarnya apa maumu?!" lanjutku, masih dengan nada tinggi.
Pria gesrek itu nampak tak bergeming sedikitpun. Bahkan tarikanku tak berpengaruh apa-apa padanya.
Sudah kuduga. Aku tak akan pernah menang melawannya. Seperti kejadian malam itu.
Ayolah, ini bukan saatnya untuk mengingat masa lalu. Aroma parfum Keano yang tak berubah sejak pertama kali bertemu dengannya, merasuk ke dalam indra penciuman, dan merusak sistem pertahanan di otakku.
Hal itu berhasil membuat ingatanku menampilkan setiap adegan panas bersamanya. Apalagi menatap punggung tegap itu dari belakang menambah sensasi desiran di dadaku menjadi semakin kuat.
Stop, Airin!
Jangan terus terjebak dengan masa lalu. Hentikan sekarang juga. Sebelum semuanya terlambat.
Bughh!
"Akh!"
Pekikan yang berasal dari mulut mas Rain mampu menyadarkanku dari ingatan kilas balik yang tiba-tiba menyerang.
"Berhentilah, Ke. Aku mohon .... " pintaku dengan suara parau.
Tak tega dengan mas Rain yang sudah babak belur, atau karena teringat perilaku Keano malam itu, air mataku tiba-tiba saja menetes tanpa persetujuan dari pemiliknya.
Brugh!
Lututku terasa sangat lemas, hingga tak mampu menopang berat tubuhku sendiri. Aku bersimpuh di hadapan dua pria itu. Sambil menangis sesenggukan.
Entah apa yang terjadi denganku, tapi bukan hal ini yang aku inginkan. Aku sudah gagal mempertahankan gelarku sebagai wanita kuat di hadapan orang lain. Aku gagal. Maaf.
Menyembunyikan wajah menyedihkanku di balik telapak tangan. Aku malu. Malu pada diri sendiri. Dengan segala kejadian yang sudah kulewati, kenapa aku tetap selemah ini?
Terasa tangan besar namun hangat mengelus pundakku yang bergetar dengan lembut, sebelum membimbingku untuk berdiri.
Tubuhku diangkat dalam gendongannya, seperti anak kecil yang lututnya terluka karena jatuh dari sepeda lalu sang ayah membopongnya untuk diajak pulang.
Kami keluar dari ruangan yang langsung dihujani tatapan heran para karyawan kafe, namun hal itu tak dihiraukan Keano sama sekali. Ia terus berjalan dengan santai, hingga membawaku memasuki mobil merah yang sempat aku lihat melaju di belakang mobilku tadi.
__ADS_1
Dan bodohnya aku hanya bisa diam saja, saat mobilnya melaju menjauh dari area kafe. Apa aku tidak punya malu, hah? Kemana harga dirimu? Airin, ayo, sadarlah!