Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 54. Api Cemburu


__ADS_3

"Urghh," erang Celia merasakan pusing sekaligus kram pada perutnya.


Seingatnya dia hanya tidur semalaman, namun terasa seperti tertidur berhari-hari. Diedarkan pandangan menyapu kamar tidur. Tidak ada yang aneh. Hanya perasaannya saja yang terasa janggal.


"Sisi perutku sakit sekali. Kenapa ini?" gumamnya, berusaha bangkit dari tempat tidur.


Sembari memegangi perut yang terdapat bekas suntikan yang tak dia sadari, Celia berjalan terseok menuju kamar mandi.


"Tidak biasanya perutku sesakit ini," monolognya heran.


Celia menghentikan langkah, merasakan sakit yang kian menyiksa. Dia mengurungkan niat semula lalu mengambil ponsel yang terletak di atas meja tak jauh dari tempatnya berdiri.


"H-halo, No. Aku butuh bantuanmu. Perut—"


"Siap meluncur." Jawaban dari seberang sana sebelum sambungan terputus. Bahkan Celia belum sempat meneruskan apa yang ingin dia katakan.


"Tumben," hembus Celia dengan nafas tersengal seraya berusaha meraih pinggiran ranjang.


Dia memilih menunggu Keano saja daripada jatuh sebelum sampai tujuan. Celia merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang, lalu menyalakan televisi guna mengusir rasa sepi yang melanda.


Ingin sekali dia pulang ke kota J. Berkumpul dengan keluarga dan teman-teman palsunya—teman yang ada saat senang saja. Bahkan orang tuanya sudah berkali-kali menyuruhnya pulang.


Tapi apa yang mau dikata. Dirinya malah berbadan dua sekarang. Celia tidak akan sanggup mengambil resiko mencemarkan nama baik keluarganya dengan hamil tanpa suami. Sebelum kembali rujuk dengan Keano, Celia tidak berniat kembali ke kota alasannya.


Di sisi lain, Keano segera memacu Ferrari-nya kembali ke rumah Airin setelah mengantar Zia ke sekolah. Menyadari kesalahan tadi pagi, dia berniat untuk meminta maaf pada Airin. Karena wanita itu terus mendiamkannya sampai saat ini.


Drttt ... Drrttt ....


Getaran ponsel yang tergeletak pada dashboard mobil mengalihkan atensinya dari jalanan.


"Celia .... " lirihnya terkejut.


Pikirannya auto overthinking mengingat obrolan dengan Rain yang telah melakukan tes DNA terlalu dini pada janin wanita itu. Keano menyalakan speaker sebelum menerima panggilan.


"H-halo, No. Aku butuh bantuanmu. Perut—"


"Siap meluncur," jawab Keano tanpa menunggu sangat penelpon menyelesaikan kalimatnya.


Setelah mematikan telepon, dipacunya kuda besi tersebut dengan kecepatan penuh. Menyalip setiap transportasi yang menghalangi lajunya. Tak jarang dia mendapat umpatan kasar dari pengguna jalan lain. Ferrari merahnya melaju kencang bak Valentino Rossi yang sedang berlaga di tengah sirkuit balap.


Tak memerlukan waktu lama bagi Keano untuk sampai di kamar hotel Celia. Ditekannya nomor pin yang telah dia hafal. Kemudian dengan sedikit berlari merangsek masuk tanpa mengucap sepatah katapun.


Keano menghentikan langkah saat jarak mulai terkikis di antara dia dan seorang wanita yang berbaring di atas ranjang.

__ADS_1


"Cel?" Hampir saja Celia memejamkan mata, saat deep voice itu membuat kesadarannya kembali.


Celia bahkan tak mendengar kedatangan pria itu sama sekali.


"K-Keano ... S-sakit .... " lirihnya pelan, hampir tak terdengar.


Dengan sigap Keano melesat ke arah dapur menyiapkan air hangat dalam baskom. Dia tidak bisa mengambil resiko jika mengantarkan wanita itu ke rumah sakit. Ia akan ketahuan bila sudah melakukan tes DNA secara sembunyi-sembunyi dari wanita itu.


Keano kembali dengan baskom dan kain dari dapur. Tanpa banyak bicara lagi, disibaknya baju tidur Celia pada bagian perut, kemudian mengompresnya dengan perasan kain lembut yang sudah dimasukkan ke dalam baskom berisi air hangat yang telah dia siapkan.


"Bagian mana yang sakit?" tanya Keano memperhatikan Celia yang meringis menahan ngilu.


"Bagian perut sama hatiku."


"Eh?" Keano kembali menoleh ke arah Celia dengan tangan masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Tak kusangka kau sudah memiliki anak dengan Airin. Hatiku sakit mengetahuinya, No. Perempuan itu selalu berdiri di depanku," curhat Celia.


"Itu kesalahanku. Tapi aku tak pernah menganggap Zia sebagai kesalahan. Dia anugerah."


"Termasuk anak dalam perutku ini?"


Keano terdiam.


"Apa kau bersedia menganggapnya sebagai anugerah juga? Kau juga ikut andil. Kau ingat?" sambung Celia.


Celia menitikkan air mata mendengar jawaban Keano. "Apa bedanya aku dengan Airin? Aku sudah menyerahkan apapun dan berusaha yang terbaik untukmu. Tapi apa balasan yang kau berikan? Bahkan dengan anakmu sendiri saja kau ragu."


"Cinta."


"A-apa?"


"Bedanya aku mencintai Airin. Bukan kamu. Paham?" tekan Keano


Dia tahu jika Celia begitu ingin memilikinya, namun hatinya sudah tak bisa berubah haluan dari Airin. Apalagi dengan keberadaan Zia menambah rasa cinta yang semula hampir redup.


Air mata Celia semakin menganak sungai. Hatinya semakin sakit, begitu pula dengan perutnya yang mendadak bertambah nyeri.


"Awh," rintih Celia. Wajahnya bahkan sudah memerah menahan sakit.


"Kau baik, Cel?" Keano tampak khawatir saat melihat Celia meringkuk memegangi perutnya.


"Pergilah. Aku akan mengurus diriku sendiri. Percuma aku menahanmu jika kau tak menginginkan keberadaan kami." Celia menepis tangan Keano yang terjulur untuk membantu.

__ADS_1


Keano meraup kasar wajahnya. Bingung apa yang terjadi dengan ibu hamil di hadapannya. Ada sedikit rasa iba juga melihat Celia nampak menahan sakit seperti itu.


"Mari aku bantu. Kita ke rumah sakit saja," final Keano.


Menggendong paksa Celia ala bridal walau wanita itu menolak. Lalu membawanya keluar kamar hotel menuju Ferrari yang terparkir di halaman depan. Keano terpaksa mengambil tindakan ini. Dia bimbang, bahkan sempat bergelut dengan pikiran sendiri. Namun sadar hal itu hanya akan memperburuk suasana.


Maka dengan tindakan cepat, ia memutuskan. Celia dan janinnya harus mendapat penanganan segera. Tak peduli jika perbuatan Rain pada wanita itu akan terbongkar. Keano siap menanggung resikonya. Karena sadar jika sumber masalah ini ada pada dirinya.


"Tunggu, No," cicit Celia saat berada di tengah perjalanan.


Keano menoleh sekejap. "Ada apa?"


"Tiba-tiba aku ingin makan es krim."


Pria itu menatap Celia heran. "Tapi janin itu perlu ditangani segera."


"Tapi aku ingin. Please .... " Celia mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Oh, baiklah." Keano memutar balik arahnya. Menuju kafe yang khusus menjual es krim dengan jarak terdekat.


Keano berhenti di depan bangunan kafe minimalis yang didominasi warna tosca dengan papan nama bertuliskan Rainbow & Caffe.


"Mau pesan es krim apa?" tanya Keano pada Celia.


"Aku mau makan di dalam."


"Tapi perutmu sedang tidak baik-baik saja. Bahkan kau tak bisa berjalan dengan kakimu sendiri," protes Keano.


"Tapi aku ingin, No," kekeuh Celia.


"Celia, tolong pikiran kondisimu."


"Gendong aku saja kalau begitu," usul Celia tak mau kalah.


Membuat Keano memutar matanya jengah. "Oke, oke."


Setelah keluar dari mobil, dia memutar guna membukakan pintu mobil untuk Celia. Tak perlu membuang waktu untuk bertanya, Keano segera meraih tubuh Celia lalu menggendongnya. Tak lupa ia menutup pintu mobilnya dengan kaki. Celia yang begitu sumringah sontak mengalungkan lengannya di leher Keano dengan senyum cerah yang mengembang bebas.


Baru beberapa langkah memasuki kafe, sebuah KIA Picanto warna putih tiba di area parkir. Pemandangan pria dan wanita yang baru saja melewati pintu kafe itu membuat pemilik mobil tercengang.


"I-itu ... Keano dan Celia 'kan?" gumam Airin seraya memicingkan mata.


Dia membenarkan dugaan tatkala dua insan tersebut mendudukkan diri di salah satu bangku dekat dinding yang terbuat dari kaca. Keano menurunkan tubuh Celia di atas kursi dengan hati-hati. Kecupan ringan yang dibubuhkan Celia pada salah satu pipi Keano mendapat sorot tajam dari pemilik KIA Picanto yang terparkir tak jauh dari mereka.

__ADS_1


Dug.


"Dasar buaya cap kadal. Kutil anoa menyebalkan!" berang Airin sembari memukul setir mobilnya dengan emosi meluap-luap.


__ADS_2