
"Bunda .... "
"Ya, Sayang."
"Ayah Zia kemana? Kenapa ayah tidak pernah pulang untuk menemui kita? Apa ayah membenci kita?"
Airin terkejut, seperti tersambar petir di Minggu sore yang tenang, begitu mendengar pertanyaan dari polos dari Zia.
Meski hal itu sudah sering ditanyakan oleh putrinya, tetap saja Airin kelimpungan untuk mencari jawaban yang tepat agar Zia tak menanyakan pertanyaan itu dengan detail.
Apalagi memandang mata bening penuh harap dari Zia, membuatnya tak sanggup untuk melontarkan jawaban yang hanya akan memberikan harapan palsu pada anak semata wayangnya.
"Ayah sedang pergi bekerja. Tapi jangan khawatir, ayah akan segera pulang suatu hari nanti."
Lagi-lagi hanya kalimat itu yang sanggup Airin katakan pada Zia. Tak sekalipun Airin mengatakan hal yang buruk pada putrinya, berharap Zia mampu melanjutkan hidup tanpa ada dendam yang tumbuh di hati pada sosok sang ayah.
"Benarkah?" Zia semakin antusias mendengar jawaban itu.
"Tentu saja." Airin terpaksa mengembangkan senyumnya agar terlihat meyakinkan.
"Semoga pekerjaan ayah cepat selesai, lalu segera pulang ke rumah. Zia rindu sama ayah," balas Zia.
"Bunda juga rindu .... "
Airin teringat kembali dialognya dengan Zia kala itu. Sempat menaruh harapan besar pada orang yang tak pantas diharapkan.
"Hiks .... " isakkan yang sudah ia tahan sekuat tenaga akhirnya lolos begitu saja dari bibir yang bergetar.
Mendengar isak tangis yang semakin menyayat hati. Pemilik sepasang mata yang sedari tadi hanya memperhatikan, kini akhirnya dengan berani merengkuh tubuh Airin, lalu mendekapnya dalam pelukan penuh sesal.
Aroma maskulin yang sudah sangat Airin hafal mulai menyeruak ke dalam pernafasannya yang sedikit sesak.
Bukannya tenang, tangis Airin malah semakin pecah. Menangis dalam dekapan pria yang sudah menorehkan terlalu banyak luka.
"M-maaf .... "
"Maafkan aku .... " ulang Keano setengah berbisik. Seolah suaranya hampir menghilang karena menahan isakkan yang terus mendesak.
Tubuh Airin semakin bergetar hebat mendengar kata maaf dari bibir Keano. Membenamkan kepala dalam dada bidang itu, bagai mencari ketenangan.
Akal sehat Airin terus menyuruhnya untuk menjauh, namun tubuh seakan-akan tak mau menurutinya. Tetap membiarkan tubuhnya bertahan dalam kehangatan yang semu.
Air mata Keano sudah jatuh menyentuh punggung Airin. Kedua insan yang saling berpelukan di pinggir danau saat senja itu, seolah saling menyalurkan kesedihannya.
__ADS_1
"Maaf karena aku sempat meragukanmu. Bolehkan aku bertemu dengan anak kandungku? Maksudku, anak kita?" pinta Keano.
Permintaan yang hanya mampu dibalas dengan anggukan kecil oleh Airin. Sebenarnya dia kesal dengan dirinya yang selalu tak mampu untuk menolak Keano.
Dengan menepikan segala gejolak hati, Airin hanya pasrah. Tak pernah terbayang kehidupan selanjutnya akan seperti apa. Yang ia tahu, setelah kejadian ini, segalanya tak akan pernah sama seperti sebelumnya.
...***...
Setelah memastikan Airin benar-benar tenang, Keano mengantarkannya pulang ke rumah. Tentu saja setelah memaksa wanita itu dengan segala perdebatan yang terjadi.
Pria itu hanya mengantar sebatas gerbang depan. Karena Airin belum mengijinkan Keano bertemu dengan Zia saat ini. Ia butuh waktu.
Waktu untuk menata hati, mengatur situasi, juga untuk menjelaskan segalanya pada Zia dengan kata-kata yang tepat. Entah sampai kapan. Airin sendiri belum tahu.
Tak lupa Keano menyerahkan sepeda mungil Zia, juga dompet milik Airin.
"Kau mencopetku?" tanya Airin dengan wajah penuh selidik melihat dompet di tangan Keano, juga wajah tanpa dosa yang ditunjukkan pria di hadapannya secara bergantian.
"Sebenarnya, kau yang sudah mencopet hatiku sejak pertama kali aku melihatmu, Airin," goda Keano.
Airin melengos.
Bisa-bisanya dia merayu di saat hatinya sedang tak karuan seperti ini. Kan jadi baper.
"Sekali lagi aku minta maaf. Maaf atas segala perbuatanku selama ini. Aku tidak ada saat kau butuh bahu untuk bersandar," ujar Keano sambil menunduk.
"Airin!"
Panggilan seseorang lantas memutus kontak mata kedua insan yang berdiri di depan gerbang tersebut.
" ... Aku butuhnya kamu," lanjut Airin, segera menyambar dompet dari tangan Keano, lalu menghampiri Rain yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.
Entah apa yang dipikirkan Airin, sehingga bisa berkata demikian. Keano merasa semakin bersalah. Bahkan ia sempat melihat mata Airin kembali berkaca-kaca.
"Hai, Mas," sahut Airin yang sudah ada di hadapan Rain, sambil tersenyum manis.
"Aku pamit. Zia baru saja tidur," tutur Rain, ekor matanya tak sengaja bertumbuk pada netra monolid Keano yang menatapnya dengan tajam.
"Terima kasih, Mas. Kenapa buru-buru? Baru mau aku buatkan kopi."
"Sama-sama. Tapi tidak perlu. Ada hal lain yang harus aku kerjakan."
"Oh, begitu."
__ADS_1
Tangan Rain terangkat untuk menyentuh pipi Airin, lalu mengusap perlahan dengan ibu jarinya. " Jangan menangis lagi."
Airin terkejut. Sikap Rain dari dulu tak pernah berubah. Hal apapun pada diri Airin tak pernah lepas dari pandangannya.
"D-darimana, Mas tahu?"
"Kelihatan."
Rain tersenyum hangat, kemudian berlalu. Meninggalkan Airin yang masih tersipu di tempatnya.
Sorot mata Rain seketika berubah saat bertatapan dengan Keano yang menyaksikan setiap gerak-geriknya dari balik gerbang.
Saat jarak mereka sudah semakin dekat, seolah ada percikan petir yang muncul dari sorot mata mereka. Memandang Rain dari jarak sedekat ini membuat Keano teringat akan seseorang. Bahkan seringaian dari bibir Rain yang tak sengaja ia lihat semakin membuatnya nostalgia.
Keano baru tersadar akan hal itu meski sudah beberapa kali bertemu. Ketika pertemuan pertama, dia sama sekali tak menyadarinya, karena sedang dibutakan dengan api cemburu.
"Tunggu!" seru Keano, mencegah langkah Rain yang semakin menjauh.
Rain menoleh. Namun tak ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya.
"Apa kita pernah saling bertemu sebelumnya?" tanya Keano.
"Sepertinya kau salah orang."
"Tidak. Wajahmu tak asing. Aku yakin pernah bertemu denganmu di masa lalu."
"Apapun itu, aku tak peduli. Tapi tolong ingat satu hal. Jangan pernah menyakiti Airin lagi, atau kau akan berurusan denganku. Dan bila kau ingin mendekatinya, maka mari bersaing secara sehat," jelas Rain, sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
Meninggalkan Keano yang memandang punggungnya dengan sengit.
"Apa dia baru saja menantangku?" gumam Keano dengan tangan terkepal.
Pulang dengan perasaan kalut membuat Keano tak bisa fokus pada jalanan. Akhirnya ia memutuskan untuk menepi sebentar.
Mendengar segala kenyataan yang diungkapkan Airin hari ini, membuat hatinya seperti disayat-sayat. Sangat kecewa, karena dia melewatkan banyak hal penting selama ini.
Tak menampik kenyataan bahwa jika menjadi Airin, ia juga akan melakukan hal yang sama. Kali ini dia mengaku salah.
"Maaf, aku sempat meragukan keberadaan anak kita. Kau mengandung tanpa sosok suami di sampingmu. Siapa yang membelikanmu sesuatu saat kau mengidam? Bahkan lebih parahnya, aku melewatkan momen kelahiran anak kita .... "
"Ayah macam apa aku ini?"
Air bening yang mulai menggenang di bawah mata, kini sudah tumpah kembali. Baru kali ini Keano merasakan keinginan kuat untuk menangis. Keinginan yang jika ditahan akan membuat hatinya semakin sesak dan sakit.
__ADS_1
"Arghhh!!"
Mengerang penuh sesal, hingga membuat suaranya menjadi serak. Bahkan raungannya terdengar memilukan di telinganya sendiri. Hari ini Keano menunjukkan kelemahan dari dirinya. Membiarkan dirinya sendiri terlihat begitu menyedihkan.