Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 44. Menyerah


__ADS_3

Keano segera kembali ke tempat Airin dan Zia berpijak tadi. Namun sosok keduanya sudah menghilang dari sana. Bahkan tak terjangkau lagi dari pandangan netra monolid-nya.


"Argghh!" geramnya kesal.


Bugh!


Melayangkan bogem mentah pada pohon yang tadi sempat digunakan Celia untuk bersembunyi. Melampiaskan seluruh kekesalan yang ia rasakan, hingga tangannya sendiri mendapat luka gores yang cukup serius.


Namun semua itu tak sepadan dengan luka yang sudah dia torehkan pada Airin. Keano menyadari itu. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Airin. Tetapi, tak kunjung mendapat jawaban, maka Keano mengirim chat padanya.


Diluar dugaan, ternyata Airin mau membalasnya. Wanita itu mengatakan jika sedang ingin sendiri. Hal itu membuat Keano lega. Setidaknya Airin masih mau menanggapinya.


Keano pulang dengan perasaan berkecamuk. Dalam otaknya terlintas beberapa strategi untuk mendekati Airin lagi, tak lupa untuk menyiapkan beberapa skenario untuk meminta maaf.


"Aku akan tetap mencintaimu sampai batas waktu yang ditentukan, Airin. Jika batas waktu itu telah berakhir. Maka pegang empat kata pertama yang aku ucapkan tadi," tekadnya.


...----------------...


Hari sudah mulai gelap, senja yang tadinya muncul malu-malu kini digantikan oleh gelapnya malam. Beruntunglah bulan malam ini mendapat pantulan cahaya matahari yang cukup. Sehingga dia dapat terlihat dengan jelas, hingga pekatnya malam dapat ternetralisir dengan baik. Dipadukan dengan terangnya lampu-lampu jalan yang mulai dinyalakan. Memperindah suasana malam dingin yang sunyi itu.


Rain berdiri di balkon lantai dua kamarnya. Menatap ke bawah dimana terdapat seorang wanita sedang duduk sendirian di halaman belakang dengan punggung bergetar kecil.


"Lagi marahan, ya?" Suara Nisa yang tiba-tiba muncul dari belakang mengejutkan Rain.


"Begitulah," sahutnya, enggan menoleh ke asal suara.


"Kak Airin sudah tau siapa Kak Rain sebenarnya?"


"Iya."


"Jangan dibiarkan berlarut, Kak. Aku tahu kak Airin itu pemaaf."


"Begitukah?"

__ADS_1


Nisa mendekat, berdiri sejajar dengan kakak angkatnya. Manik matanya di arahkan mengikuti titik pandang Rain, memandangi wanita yang duduk sendirian di bawah sana.


"Kak Airin sedang sedih. Hibur, gih."


"Aku tidak berani." Rain mendegus pelan.


"Pengecut," cibir Nisa.


"Kau tak tahu urusan hati, Nisa."


"Siapa bilang. Utarakan, Kak. Bukan malah dipendam."


"Tapi itu sudah aku lakukan. Aku menunggu—"


"Dan Kakak akan menyerah begitu saja?" Nisa menatap Rain sembari menaikan sebelah alisnya.


Merasa ditatap, Rain mengarahkan pandangannya mengamati ekspresi adik angkatnya itu. Nisa tersenyum menyemangati, dia pun ikut tersenyum penuh arti.


Tak lama Rain berucap. "Tidak. Jika aku menyerah sekarang, perjuangan yang aku lakukan dari awal akan sia-sia. Aku tak bisa membiarkan dia terus disakiti seperti ini."


"Terima kasih," ucap Rain, berbalik sekejap, lalu menghilang ke dalam rumah.


"Sama-sama, Kak. Kau sudah banyak membantuku. Harusnya aku yang berterima kasih padamu," lirih Nisa, kembali memusatkan atensinya pada wanita di bawah sana.


Di bawah cahaya bulan, Airin duduk seorang diri di bangku yang terletak di belakang rumahnya. Matanya tak lepas dari air mata yang sudah berlinang dari beberapa menit yang lalu.


Krusakk... Krusakk...


Brugh!


Dirinya tak ambil pusing, malah terkesan tidak peduli saat mendengar seseorang yang baru saja melompati pagar belakang rumahnya. Airin tahu betul siapa orang itu. Sosok bayangan tersebut semakin mendekat, lalu meletakkan bokongnya di samping Airin.


Sunyi. Tak ada yang memulai percakapan. Seolah mereka hanya mendengar jangkrik dan hewan malam sedang bercengkrama. Rain dengan kepalanya yang menengadah memandangi ribuan bintang di angkasa. Dan Airin yang masih setia menundukkan kepala, hingga beberapa helai rambut yang tergerai menutupi sebagian wajah. Namun air matanya telah kering semenjak Rain datang tadi.

__ADS_1


"Rugi sekali jika kau hanya menunduk. Mengabaikan cantiknya bintang malam ini." Rain mengalihkan arah matanya, melirik Airin yang tak bergeming.


Sadar diperhatikan, Airin mendongak. Mengarahkan tatapan matanya menerawang ke depan. Air matanya luruh kembali, selaras dengan bibirnya yang mulai terbuka.


Bukan untaian kata yang keluar dari bibir ranum itu, melainkan sebuah isak tangis yang semakin terdengar keras dan menyayat hati. Merasa bersalah, Rain pun panik dibuatnya.


"M-maafkan aku. Tidak ada maksud untuk mengganggu atau menyakitimu. Aku kemari hanya berniat menghiburmu. Siapa tahu kau masih membutuhkan bahuku untuk bersandar. Aku selalu siap jika kau butuhkan."


Airin tak menyahut, ia masih saja menangis sesenggukan di tempatnya.


"Jika kehadiranku membuatmu sedih, aku akan pergi sekarang juga," pamit Rain. Mengajak tubuhnya beranjak dari sana.


Belum ada selangkah kepergian pria itu, tangan Airin mendadak mencekal lengan Rain. Membuat pria itu tersentak seraya menoleh.


"A—"


Grep.


Rain terkesiap mendapat pelukan tiba-tiba dari Airin, dia pikir wanita itu tak akan memaafkan dirinya sama sekali. Tangannya yang sedikit bergetar terangkat, menyentuh surai Airin lalu mengelusnya lembut.


"Bukan kau yang membuatku sedih ... Kehadiranmu juga tidak salah ... Yang salah itu aku .... "


Rain terdiam. Tak berniat membuka mulutnya, dia paham jika wanita itu belum menumpahkan segala hal dalam benaknya. Maka dia menunggu.


"Aku yang tetep bertahan mencintainya, padahal dia terus menyakitiku. Kau benar, harus kuakui ternyata aku masih mencintai Keano," sambung Airin.


Deg.


Rain merasa seolah langit pekat malam itu runtuh mengenai tepat di atas kepalanya.


'Airin masih mencintai Keano? Aku sudah menyadari hal itu. Tapi saat kalimat itu meluncur langsung dari bibirnya, kenapa hatiku terasa sangat sakit? Apakah ini kode jika aku harus menyerah?' batinnya.


Air bening mulai tergenang di sudut netra. Kedua tangannya merengkuh tubuh Airin lebih erat ke dalam pelukan. Hal itu tak lepas dari pandangan seorang gadis dari atas sama. Ujung bibirnya tersungging membentuk sebuah senyuman.

__ADS_1


"Kau berhasil, Kak," gumamnya, tak menyadari situasi sebenarnya.


__ADS_2