Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 49. Jawaban Ada di Depan Mata


__ADS_3

Tak dapat dipungkiri, perasaan Airin saat ini tengah bahagia bercampur haru. Seolah hari ini adalah hari istimewa baginya. Momen dimana dia menyaksikan ayah dan anak yang akhirnya bisa bertemu dan saling berpelukan, saling melepas rindu, dan juga saling mengungkapkan perasaan masing-masing.


Airin tersadar jika mempertemukan mereka bukan keputusan yang sepenuhnya salah. Bukan Airin lebih tepatnya. Tapi takdir yang diatur sedemikian rupa telah mempertemukan keluarga kecil itu.


Bahkan air mata masih tercurahkan, mengingat akhirnya untuk yang pertama kali Zia memanggil Keano dengan sebutan Ayah.


Airin menyeka bulir air bening sebelum berlinang menyentuh pipi. Didekapnya Zia yang sudah terlelap di sampingnya, sembari ikut meraih mimpi.


"Bunda .... "


Netra Airin kembali terbuka lebar tatkala mendengar suara serak Zia yang memanggil. Pandangan wanita itu langsung bertemu dengan mata bening di depan wajahnya.


"Zia belum tidur?" tanya Airin terkejut.


Tanpa sepengetahuannya ternyata dari tadi Zia hanya pura-pura tidur.


"Zia tidak bisa tidur, Bun, meski Zia sudah berusaha memejamkan mata."


"Kok gitu?"


"Tidak tahu. Hanya keinget ayah saja."


"Memangnya ayah kenapa?"


"Zia terlalu senang. Ternyata Zia punya ayah. Dan akhirnya ayah pulang."


"Setiap anak punya ayah, Zia," sahut Airin. Hampir saja air bening itu kembali menetes melalui sudut matanya.


"Apa kedatangan ayah membuatmu senang?"


Mata bulat Zia kembali berbinar. "Tentu, Bunda."


Hati Airin berdesir, entah dia harus bahagia atau bersedih. Menganggap ini anugerah atau bencana. Dirinya saja tak bisa memahami keinginan hatinya sendiri. Dia seperti berada di tengah jalan bercabang. Masih bingung untuk menentukan jalan mana yang akan dilewatinya.


Jika mengikuti kata hati, Airin takut kecewa untuk yang kesekian kalinya. Baginya kebahagiaan Zia adalah yang terpenting. Tapi menurutnya, melabuhkan hati pada Keano sama saja mengulangi kesalahan yang sama.


Dielusnya dengan lembut surai Zia. "Besok Bunda bisa suruh Ayah buat antar Zia ke sekolah. Makanya Zia cepat tidur biar tidak terlambat."

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Zia antusias.


"Tentu. Makanya Zia harus cepat tidur." Airin tersenyum simpul.


"Siap, Bunda."


Zia selalu terlihat bersemangat jika membicarakan Keano. Mungkin sel Keano memiliki andil yang lebih besar dibanding miliknya saat percetakan berlangsung.


Hembusan nafas teratur membuat Airin yakin jika Zia akhirnya terlelap.


"Cepat sekali tidurnya," gumam Airin heran, membelai lembut pipi gembul Zia.


Perasaan haru dan bangga membuncah dari dalam kalbu. Bangga pada Zia yang begitu tulus dapat menerima dan memaafkan ayahnya. Melihat binar pada mata, juga antusiasme saat membicarakan ayahnya, membuat Airin berpikir jika Zia bahagia memiliki Keano sebagai ayahnya.


Rasa kagum dengan Rain tak luput Airin sematkan pada pria yang sudah banyak berjasa pada hidupnya itu. Tak dapat disangkal, jika pria itu sudah ikut serta dalam mewujudkan takdir Tuhan yang begitu rapi.


Terima kasih, Mas. Good night.


Tulis Airin dalam pesan singkat yang dikirimnya pada nomor Rain sebelum menyambut alam mimpi.


...----------------...


"Ya, Zia."


"Kenapa ayah tidak tinggal bersama kita?"


"Uhuk .... " Airin terbatuk. Meletakkan gelas yang ada pada tangannya di atas meja.


Manik cokelatnya melirik Rain yang duduk di seberang meja. Airin mengundang Rain untuk menikmati sarapan bersama pagi ini, saat Zia menanyakan pertanyaan yang membuatnya kelabakan.


Mendapat tatapan sepasang mata yang seolah meminta bantuan, Rain pun berujar. "Ayah Zia masih sibuk, jadi belum bisa pulang ke rumah."


"Lalu kapan ayah bisa pulang ke rumah ini?"


Rain dan Airin saling bertukar tatap, sebelum akhirnya memandang Zia lagi. Tanpa diberi aba-aba mereka membuka mulut bersamaan. "Secepatnya."


Keduanya kembali saling melempar pandang kembali dengan tatapan terkejut. Rain seolah meminta penjelasan atas ucapan Airin tadi. Begitu pula dengan Airin.

__ADS_1


"Yeay, Zia bakal tinggal sama ayah." Zia melompat dari kursinya, kemudian menghambur memeluk erat tubuh dari samping Airin yang masih pada mode tertegunnya.


Tok Tok


Ketukan dari arah pintu mengalihkan atensi tiga kepala di ruang makan. Senyum sumringah sontak mengembang di wajah Zia.


"Ayah datang!" serunya, sontak berlari menuju ruang depan.


Untuk yang kesekian kalinya, Airin dan Rain bertukar pandang lagi. Pancaran mata Airin yang terlihat panik seolah bertanya. 'Bagaimana ini?'


Maka Rain tersenyum simpul, menggenggam tangan Airin dengan erat. Dalam pandangan teduh itu ia bagai berujar. 'Tunggu apa lagi? Jawaban sudah ada di depan mata.'


Airin menaikkan alis. 'Maksudnya?'


'Lihatlah lurus ke depan, dan fokus dengan apa yang ada di depanmu.' Begitulah kata Rain melalui isyarat netra menurut pandangan Airin.


Sebab Rain lah yang ada di hadapannya saat ini, tatapan Airin menghujam lurus pada sepasang netra penuh kelembutan milik Rain. Beberapa detik mempertahankan posisi itu, owner Rain Cafe tesebut tiba-tiba menggeser tempat duduk dan memutus kontak mata dengan wanita di depannya.


Sepasang iris cokelat Airin langsung bertemu dengan netra monolid tajam bagai elang di depan sana. Seketika telepati di antaranya dan Rain terputus saat itu juga.


Sempat merasakan api cemburu yang mulai terpecik, Keano buru-buru menetralkan emosi mengingat Zia masih menggenggam jemarinya.


"Pagi semua," sapanya dengan ramah.


"Pagi, Ke," jawab Rain, menoleh sekilas lalu kembali menikmati hidangan di meja. Namun ekor matanya sempat mencuri pandang ke arah depan tipis-tipis.


Berbeda dengan Airin yang masih terdiam tak menjawab sapaan Keano. Sepasang maniknya pun belum terlepas dari tatap tajam itu, seolah mencari jawaban di dalam sana.


"Ayah sama Bunda, kok cuma lihat-lihatan dari tadi?" Celetukan Zia sontak membuat Airin salah tingkah.


"I-iya, pagi." Senyum manis merekah dari bibir ranumnya.


Dua pria di ruangan itu menelan saliva dengan susah payah. Pasalnya senyum manis yang sempat hilang beberapa hari belakangan, kini dapat mereka saksikan lagi tepat di depan mata.


Apalagi Keano yang sudah tidak bisa mengontrol hormon dalam tubuh yang mulai bekerja keras hingga membangunkan sesuatu di bawah sana.


'Belum saatnya bangun. Tidurlah kembali,' bujuk Keano dalam hati. Menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah.

__ADS_1


Sempat merutuki diri karena dia selalu lemah jika dihadapkan dengan senyuman wanita pujaannya itu.


"Bunda, Ayah 'kan sudah di sini. Jadi mulai sekarang kalau Ayah tinggal bersama kita, boleh tidak?"


__ADS_2