
"Zia tidak mau keluar dari kamar," tukas Airin yang masih sempat Keano dengar.
Airin pun sudah berusaha membujuk Zia agar tidak marah dengannya. Namun gadis itu tetap kekeuh mempertahankan keinginannya agar Airin menjelaskan tentang apa yang dia dengar kemarin.
Merasa itu bukan ranahnya, Airin beringsut. Dia beralasan jika Keano lah yang lebih pantas menjelaskan. Jadilah hingga saat ini Zia masih mengurung diri di dalam kamar sebelum keinginannya terpenuhi.
Tok Tok
"Zia, ini Om Keano. Om masuk, ya?" Keano menempelkan telinganya pada daun pintu.
Tak kunjung mendapat jawaban, pria itu pun membuka pintu yang untungnya tidak terkunci dan langsung merangsek masuk.
Kedua netranya sontak tertuju pada satu titik. Dimana seorang gadis kecil tengah membenamkan wajahnya di sela kedua lutut.
Hati Keano nyeri bagai tercubit. Melihat Zia yang tengah sedih. Seperti melihat bayang Airin yang terluka karena ulahnya pada malam itu. Pergulatan batin yang tiba-tiba menyerang segera ia tepis. Dia tidak bisa selalu menskip setiap masalah yang sedang dihadapi. Tak ubahnya dia disebut pengecut. Tapi itu dulu.
Langkah kaki yang semula yakin, seketika berubah ragu saat dia mulai mempersempit jarak dari gadis kecil itu berada.
"Zia .... " panggilnya dengan suara bergetar sambil mengambil tepat di samping Zia.
Zia diam tak bergeming.
"Maaf." Keano bersuara lagi.
"Kenapa harus minta maaf?" Zia mulai memperlihatkan wajah kusutnya dengan bibir yang masih melengkung.
Persis seperti Airin ketika merajuk. Jika itu Airin maka Keano hanya akan meraup bibir menggemaskan wanita itu, lalu semua akan kembali normal. Tapi ini Zia. Dan Keano masih bingung untuk menghadapi anak gadisnya itu. Ini pertama kalinya dia memposisikan diri sebagai orang tua.
Rasa perih seketika menyerang hatinya. Hampir saja dia membuka mulut untuk membalas, suara cempreng Zia kembali terdengar. "Kenapa Om Keano tidak bilang dari awal kalau Om itu ayah Zia?"
"I-itu .... "
"Teman-teman Zia punya ayah. Tapi ayah mereka selalu pulang ke rumah. Lalu kenapa Om selama ini tidak pernah pulang? Bukankah Om ini ayah Zia?"
"Om jelaskan pelan-pelan, oke?"
__ADS_1
"Apa karena Om tidak sayang sama Zia?"
"T-tidak. Bukan seperti itu."
"Atau karena Zia ini pembawa sial. Apa itu benar?" Zia mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya, meminta jawaban.
"Tidak ada anak yang terlahir membawa sial, Zia. Bukannya kita sudah pernah membicarakan hal ini?"
"Tapi Zia lahir tanpa ayah. Itu artinya Zia anak ha—"
"Zia cukup! Jangan mudah terpengaruh dengan omongan orang-orang tentang Zia. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Hanya bisa mengomentari apa yang mereka lihat. Dan Zia sebenarnya punya ayah."
"Tapi teman-teman Zia belajar naik sepeda dengan ayah mereka, sedangkan Zia tidak."
"Zia!! Sudah Om katakan jangan terpengaruh orang lain. Zia dengar, tidak?!" bentak Keano tak bisa menahan emosinya karena merasa terus disudutkan. Rasanya ingin sekali mengembalikan anak itu menjadi zigot lagi.
Bibir Zia kembali melengkung. Mata bulatnya sudah berkaca-kaca.Hingga sepersekian detik tangis melengking mulai terdengar dari bibir mungilnya. Hal itu membuat Keano kelabakan. Lagi-lagi dia sudah terpancing ego dengan mudahnya.
Di saat yang sama, dari arah pintu muncul sosok pria yang langsung membuat Zia melompat turun dari atas ranjang dan menghambur ke arahnya. Keano hanya bisa menatap nanar punggung mungil yang semakin menjauh itu.
Masih dengan wajah dipenuhi air mata, Zia mengangguk setuju.
Rain melirik sekilas ke arah Keano yang memandang tajam padanya, namun tersirat sedikit raut kesedihan yang tak dapat ditutupinya dengan sempurna.
'Kenapa orang itu selalu muncul tiba-tiba?' geram Keano dalam hati.
Bahkan ia merasa iri dengan Rain yang bisa mengambil hati Zia dengan mudah. Peran Rain di sini lebih kuat dibandingkan dirinya. Pria itu yang menemani Zia tumbuh hingga sebesar ini.
Rain berpapasan dengan Airin di ruang tamu. Hendak diraihnya Zia dari gendongan Rain, namun pria itu menahannya. "Selesaikan masalahmu dengannya. Biar aku yang membujuk Zia."
Airin yang sadar jika Zia masih enggan disentuh olehnya pun hanya bisa menurut.
"Kami akan pergi ke toko es krim Rainbow. Semoga berhasil menemukan jalan tengahnya. Hati-hati diserang. Emosinya sedang tidak stabil," pamit Rain dengan senyum simpulnya.
Airin melengos menanggapi ucapan Rain. Dia tahu apa maksud dari perkataan itu barusan. Setelah ciuman tadi malam, juga melihat sikap lembut Rain pada Zia, mata Airin bagai terbuka oleh kenyataan. Berbeda sekali dengan Keano yang terlalu frontal, membuat hati Airin menjadi bimbang.
__ADS_1
"Kemana mereka pergi?"
Suara deep dari belakang mengagetkan Airin yang sedang menimbang beberapa wacana. Bukannya menjawab, wanita itu malah mendekati sofa lalu meletakkan bokong di atasnya. Disusul Keano yang masih menunggu jawaban darinya.
Air bening perlahan berlinang dari sudut mata Airin. Keano yang melihatnya reflek mengelus surai wanita itu dengan lembut.
"Sudahlah, kau tak perlu menangis," bujuk Keano.
"Jelas perlu. Zia tak pernah terlihat sekecewa itu. Dan semua terjadi karena kau yang tidak bisa mengendalikan sifat impulsifmu itu," sanggah Airin.
Keano meletakkan punggungnya pada sandaran sofa,tangannya mengacak-acak rambut sehingga membuatnya terlihat semakin berantakan. "Arghh! Ini semua salah Celia."
"Lalu kau akan menyalahkan orang lain atas masalah yang kau timbulkan sendiri?" Airin menaikkan sebelah alisnya.
"Tapi jika wanita itu tidak membuntuti dan memancing emosiku, semua ini tidak akan terjadi."
"Bagaimana kalau dibalik? Jika kau tak mudah terpancing emosi, keadaan tidak akan kacau seperti ini." Airin melayangkan tatapan horor pada Keano yang terus tak mau disalahkan.
Mendapat tatapan intimidasi itu, Keano pun beringsut. "Oke, oke. Tak ada gunanya saling menyalahkan. Iya, aku salah."
"Zia masih belum bisa memahami keadaan, Ke. Kau harus tahu itu. Kita tidak bisa memaksanya untuk mengerti keadaan kita. Kita yang harusnya mengerti dia."
Keano menunduk memahami kesalahannya tadi.
"Hilangnya sosok ayah dari sisinya saja sudah membuat dia sedih. Terlebih dia harus mendengar kenyataannya itu dari orang lain. Entah sekarang siapa yang salah." Airin menunduk dalam, mengingat seberapa terluka hati anak itu. Celia memang keterlaluan, pikirnya.
"Kalau begitu, mari kita menikah."
Airin menoleh cepat. Tatapannya bertemu dengan wajah santai tanpa dosa dari pria itu. Sungguh sifat impulsif Keano selalu membuatnya geleng-geleng kepala. Tak habis pikir apa yang sebenarnya ada dalam otak pria itu.
"Jadi bagaimana? Kau bersedia, tidak?" desak Keano tak tahu diri.
"Apa kau sudah memikirkan matang-matang tentang ajakanmu barusan?"
"Bukankah sesuatu yang baik itu harus disegerakan?"
__ADS_1
Ya, Keano tidak salah. Tapi ....