Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 38. Pengakuan Rain


__ADS_3

Drrtt.. Drrtt...


Dahi Rain berkerut dalam, saat memandang layar ponsel yang menampilkan nomor tak dikenal yang menghubunginya.


"Halo?" sapanya.


"Hai, Arsen. Apa kabar?" tanya orang di seberang sana.


"Keano?"


"Tepat sekali."


"Jangan memanggil dengan nama itu. Panggil saja Rain." Nada tak ramah terdengar dari pria yang menerima panggilan telepon itu.


"Apa tujuanmu mendekati Airin?"


"Apa maksudmu?"


"Jangan bertele-tele. Kutunggu di resto dekat apartemen."


Pip.


Keano mematikan sambungan lebih dulu. Rain hanya bisa mendengus kesal dibuatnya.


"Siapa?"


Rain sedikit terperanjat mendengar suara wanita yang sangat dikenalnya dari belakang punggung. Wanita yang sudah mampu mencuri perhatiannya saat pertama kali bertemu kala itu.


"Orang tidak waras," balas Rain, singkat padat, dan ambigu.


"Ada-ada saja." Airin terkekeh. "Mana orang tidak waras bisa main ponsel?"


"Tentu saja ada. Aku saksinya. Oh, iya, bagaimana keadaan Zia? Maaf tadi aku berangkat duluan, tidak sempat menengok Zia. Ada hal yang harus aku kerjakan."


"Zia baik. Malah dia sudah memaksa berangkat ke sekolah. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk istirahat di rumah dulu. Dia itu suka seenaknya sendiri, seperti—" Airin buru-buru menutup mulut, sebelum nama seseorang tak sengaja disebutnya.


"Keano?"


Nama yang sebenarnya Airin hindari malah disebut dengan gamblang oleh Rain. Wanita pemilik iris cokelat itu hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


"Jangan membohongi perasaanmu."


"Hey, apa maksudmu?"


"Secara tak sadar kau selalu mengingat ayah Zia, bukan? Koreksi jika aku salah."


"A-aku hanya .... "


"Tak perlu dijawab. Aku ada urusan sebentar. Aku titip kafe sebentar, ya?" Rain beranjak dari ruangan pribadinya. Meninggalkan Airin yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


Dia baru tersadar saat Rain sudah menghilang dari hadapannya.


"Mau kemana dia?" gumamnya kemudian.


Resto Lunar


Resto dengan nuansa rustik itu tampak lumayan ramai. Di antara para pengunjung yang tengah menikmati hidangan, nampak dua pria lebih menikmati perbincangan di antara mereka.


Wajah serius terlihat jelas dari salah satunya. Sedangkan lawan bicaranya selalu menatap dengan santainya.


"Katakan apa maumu?" tanya Rain to the point.


"Dimana ponselmu?"


Keano terkejut dengan kewaspadaan pria di hadapannya. Lawan di depan tak bisa diremehkan rupanya. Dikeluarkan olehnya ponsel dari bawah meja yang sedang siaga dalam mode perekam suara.


Rain mengisyaratkan untuk mematikan ponsel Keano, lalu meletakkannya di atas meja.


"Jangan ada yang curang di antara kita." Rain juga melakukan hal yang sama. Kemudian meletakkan ponsel yang sudah dimatikan itu bersandingan dengan milik Keano.


"Baiklah, kita ulangi dari awal." Keano mendengus kesal karena rencana awalnya langsung ketahuan.


Dia berniat untuk merekam pembicaraannya dengan Rain. Dan menggunakan rekaman itu sebagai bukti yang akan ditunjukkan pada Airin, jika Rain memiliki niat lain padanya.


"Silahkan."


"Apa tujuanmu mendekati Airin?" Keano mengulangi pertanyaannya di telpon tadi.


"Tidak ada."

__ADS_1


"Kau mungkin bisa membohongi Airin, tapi tak ada gunanya melakukan hal itu di hadapanku."


"Aku berkata jujur. Aku hanya ingin melindunginya."


"Karena kau mencintainya?"


"Iya."


Keano tersenyum remeh.


"Jangan menggunakan kata cinta jika hal itu yang akan membuka jalan untuk meluruskan niat busukmu yang sebenarnya."


"Aku sungguh-sungguh menyukai Airin. Bahkan sejak di hari pertama ketika aku melihatnya."


"Jangan berbohong!!" bentak Keano geram, menyangkal mentah-mentah penuturan Rain.


Rain menatap lurus retina Keano yang mengarah tajam padanya. Hawa mencekam mulai menguar dari keduanya. Seolah aura mereka berdua mampu membunuh lalat yang hinggap di atas meja sekalipun.


"Salah satu anggota mafia yang merencanakan kecelakaan mobil keluarga Airin itu ... Ayahmu, bukan?"


Bukan hal aneh jika Keano tahu tentang keluarganya. Hal itulah yang membuat Rain dan Keano menjadi musuh bebuyutan. Alasan Keano tidak mengenal Rain dari awal, karena Rain baru menunjukkan jati dirinya saat ini.


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di SMA Gemilang, keduanya memang sudah tidak akur karena suatu insiden. Kebencian Keano semakin menjadi saat tahu, Rain adalah anak dari seorang anggota mafia yang menjadi dalang di balik bangkrutnya perusahaan ayahnya.


Sehingga dia dengan terpaksa harus menikah dengan Celia. Setelah menemukan cukup bukti di bantu dengan pamannya yang seorang polisi, Keano berhasil meringkus salah satu pelaku yang tak lain adalah ayah dari Rain, Raymond Arsenio.


Raymond pun mengakui semua kejahatannya. Termasuk menyabotase mobil milik keluarga Airin kala itu. Namun dia tidak membocorkan identitas klien yang sudah menyuruh kelompoknya. Juga Raymond yang tutup mulut mengenai fakta, jika Airin lah target mereka.


Keano sempat bertemu dengan Rain di penjara. Dengan Rain yang masih dalam mode penyamaran. Ketika itu, Rain kebetulan sedang mengunjungi ayahnya, sedangkan Keano yang baru datang dan sempat melihat interaksi di antara mereka, langsung menebak jika kakak kelasnya yang cupu itu adalah anak dari orang yang telah menghancurkan perusahaan ayahnya.


"Kau benar. Tapi, aku tak ada sangkut-pautnya dengan kelompok ayahku. Aku bukan bagian dari mereka."


"Aku tak percaya."


"Intinya aku tak ada niat lain pada Airin. Aku tulus padanya." Rain mulai beranjak dari duduknya. Tak ada gunanya berdebat dengan Keano. Dia tidak akan mudah percaya, meski Rain berkata jujur sekali pun.


"Berhenti! Aku belum selesai denganmu," cegah Keano ikut berdiri, pasalnya Rain sudah lebih dulu melangkah pergi dari sana.


"Eh, Mas. Tunggu!"

__ADS_1


Seorang wanita menghampiri Keano dengan berlari tergopoh-gopoh. Nampak raut lelah tersirat dari wajahnya yang tersapu make up tipis.


__ADS_2