Hujan Untuk Airin

Hujan Untuk Airin
Eps 16. Turn On


__ADS_3

Keano POV


"L-lepas, Ke!"


Mendengar nada sengau dari suara Airin aku pun melepaskan genggaman tanganku meski tak rela. Ingin rasanya mendekap tubuhnya yang hampir saja terjatuh, namun tangan Celia menyulitkanku untuk bergerak.


Apalagi dengan orang-orang yang sedang menatap ke arah kami. Kami akan terus menjadi tontonan gratis untuk mereka jika tidak segera pergi dari sini.


Sialan!


Lebih kesal lagi saat teringat jika pertanyaanku belum sepenuhnya terjawab. Sekarang malah semakin menyisakan sebuah teka-teki.


Siapakah pria yang dimaksud Airin? Pria yang ia sayangi melebihi dirinya sendiri itu. Huh, beruntung sekali dia. Aku merasa iri. Airin terlihat serius membicarakannya tadi. Membuatku penasaran saja.


"Hai, Nono apa kabar?"


Dengan wajah sok manisnya, Celia menyebutku dengan panggilan menggelikan itu. Ingin kusumpal mulutnya dengan kaos kaki basahku. Tapi teringat ini di tempat umum, aku pun mengurungkannya.


"Ikut denganku!" ajakku yang sudah muak jadi bahan tontonan gratis.


Brugh!


Aku menghempas tubuh Celia di atas sofa. Mungkin saja aku sudah gila karena mengajak mantan istri memasuki apartemenku. Tapi apa boleh buat. Kami sudah cukup membuat kehebohan di luar tadi.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku to the point saja.


"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa Nono-ku ada di sini? Apa kau berniat kencan dengan wanita murahan itu?"


"Filter mulut busukmu itu!" geramku tak terima wanita itu menjelekkan Airin.


"Aku bicara fakta," sangkal Celia, acuh.


"Jawab aku. Kenapa kau bisa ada di sini?!"


"Tentu saja untuk mengikutimu. Buat apa lagi? Aku tidak akan membiarkan pelakor itu merebutmu dariku."


Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum sinis.


"Apa perlu aku jatuhkan tal—"


"Aku haus. Kau tidak mau mengambilkanku minum? Aku tamu di sini."


Celia memotong ucapanku seenak jidat.


"Ambil minum sendiri di dapur," ketusku.


Ia lalu pergi begitu saja menuju dapur setelah tersenyum penuh arti padaku.


Arghh! Harusnya dari dulu saja aku jatuhkan talak 3 padanya. Tapi dengan gesit seperti belut, dia akan menghindariku.


Aku pastikan kali ini dia tidak akan bisa menghindar lagi. Aku ingin segera selesaikan urusanku dengannya.


Mendudukkan diri di atas sofa sambil memijat pelipisku. Pikiranku kacau. Memikirkan Airin di luar sana.

__ADS_1


Apalagi saat ini hujan sedang turun dengan derasnya. Ah, apa yang aku takutkan. Airin kan suka hujan.


"Apa kau baik-baik saja, Rin?" gumamku.


Aku khawatir. Setelah cacian Celia yang keterlaluan tadi, aku harap kau baik-baik saja.


"Nono.... "


Suara lengkingan kuntilanak itu membuatku langsung menoleh.


"Cel, ada yang ingin aku—"


"Aku membuatkanmu kopi. Minumlah."


Celia meletakkan kopi di hadapanku, sambil ikut duduk di sofa.


Hufft...


Wanita itu lagi-lagi memotong ucapanku seenak udelnya.


Segera kusesap kopi buatannya, hanya ingin membuat wanita yang menatapku dengan seringai nakalnya itu segera lenyap dari sini.


"Pulanglah, Cel. Tidak seharusnya kau ada di sini."


"Tapi, No—"


"Pergi!" bentakku dengan suara yang meninggi.


"Jangan sekasar itu Nono, bagaimanapun kita pernah ada dalam satu selimut."


Kenapa ini?


Perasaan itu muncul kembali. Gelora kenikmatan yang susah payah aku tahan.


Walau sudah satu tahun ini aku tak menghiraukan perasaan ini. Karena terus teringat dengan Airin, melihat wanita manapun aku tidak selera. Tapi ada apa denganku saat ini?


Kenapa hasrat itu kembali datang? Udara seolah sangat gerah. Bahkan celanaku sudah terasa sesak.


Ku gelengkan kepala sebelum berdiri lalu menyeret Celia menuju pintu keluar. Keberadaannya di sini mengancam kewarasanku.


Grep!


Aku terkejut. Tiba-tiba wanita itu malah berbalik memelukku. Suhu tubuh terasa semakin panas dibuatnya. Benda di bawah sana benar-benar sudah tidak nyaman. Terus mendesak meminta sentuhan.


Apalagi Celia malah menggosok-gosokkan dada besar yang menyembul dari baju kurang bahan itu.


Sensasi ini...


Sudah satu tahun lamanya aku tidak merasa gairah seperti ini. Sentuhan Celia seolah mampu mengaktifkan hormon yang selama ini tertahan dalam diri.


Nyicip sedikit tak apa lah, ya?


Toh, aku sudah terlanjur tegang. Seperti tak rela momen ini terlewat begitu saja.

__ADS_1


Segera kugendong tubuh ramping Celia menuju kamar, lalu ku dudukan di atas ranjang. Nafasku sudah memburu saat dengan lihai Celia sudah memainkan tangannya di bawah sana. Menanggalkan pakaian yang kukenakan dengan sekali hentakkan.


Wow, lincah sekali tangan ramping itu.


Bibirnya kini sudah menelusuri setiap lekuk tubuhku. Tak terkecuali di tempat 'dia' bersemayam.


Perasaanku saja atau memang Celia sekarang sudah lebih pandai dalam urusan ranjang?


Sial. Perlakuan mulutnya saja sudah membuatku langsung turn on.


Segera kurebahkan tubuhnya di atas ranjang. Si 'dia' sudah tidak sabar mencari kehangatan yang sesungguhnya. Tak puas hanya dengan permainan lidah.


Tak membutuhkan waktu lama untuk menanggalkan baju kurang bahan itu. Serasa tubuhku tak bisa dikendalikan. Ia bergerak begitu saja mengikuti permainan.


Oke, tak perlu pemanasan lagi. Aku sudah cukup frustasi menahan gelora penyatuan yang terus mendesak. Dengan mudahnya kepemilikanku kini sudah menemukan sarangnya.


Bergerak sesuai irama. Gerakan yang awalnya bertempo lambat, semakin lama kian cepat begitu akan mencapai ujung kenikmatan. Entah mengapa posisi ini malah mengingatkanku pada seseorang.


"Airin..." lirihan yang tak sengaja keluar dari bibirku.


Ku rasakan Celia semakin liar di bawah tubuhku. Dia membuat tanda di dadaku dengan sedikit kasar. Tak jarang sesekali mengigit dengan keras. Membuatku meringis kesakitan.


Segera kucabut 'dia' dari sarangnya, sebelum memuntahkan lahar berwarna putih pekat itu. Menumpahkannya di atas perut Celia, sebelum akhirnya tumbang.


Sempat melihat raut kekecewaan dari wanita itu. Tak peduli. Aku lelah sekali. Celia sepertinya belum puas hanya dengan satu ronde.


Terserah dia mau apa. Kepalaku pusing. Setelah itu aku tak mengingat apapun lagi, karena pandanganku seolah buram, lalu menggelap.


Aku merasa sudah melakukan kesalahan. Semoga saja tidak fatal. Jangan lagi. Kumohon....


...***...


Tok Tok


Airin yang setengah terjaga, masih bisa mendengar pintu rumahnya diketuk beberapa kali.


"Apa mas Rain melupakan sesuatu?" gumamnya.


Mengingat beberapa saat lalu, Rain masih setia menemani untuk mendengarkan isi hati Airin, yang sukses membuatnya merasa lebih baik.


Sebelum beranjak dari ranjang, ia memastikan Zia terlelap dalam tidurnya.


Dengan langkah gontai, setengah mengantuk, Airin berjalan menuju ruangan depan.


Sebenarnya ada sedikit rasa curiga. Sebab Airin yakin sudah menggembok gerbang depan tadi. Namun kenapa mas Rain bisa mengetuk pintu?


Atau dirinya saja yang lupa? Entahlah.


Ceklek.


"Kenapa, Mas—"


Airin menggantung ucapannya. Terpaku di tempat dengan raut wajah penuh selidik, saat melihat sosok hitam yang memunggunginya. Dari posturnya, Airin yakin betul jika dia bukan Rain.

__ADS_1


"K-kamu siapa? Bagaimana bisa—"


"Hai, Airin. Apa kabar?"


__ADS_2