
Beberapa hari sudah Keano berusaha menguatkan hati untuk bertemu dengan anaknya. Tak tahu kenapa ia merasa sangat gugup. Takut Zia akan membencinya.
Memang dia sudah bertemu dengan Zia sebelumnya. Namun itu sebelum dia mengetahui kenyataan bahwa Zia adalah darah dagingnya.
Seperti tak mampu menunjukkan wajahnya di hadapan gadis kecil itu. Rasa bersalahnya pada Airin pun masih mencokol dalam hati.
Selama itu pula ia tak berani menghubungi Airin sama sekali. Bukankah tugasnya datang ke kota B sudah selesai?
Ternyata rasa penasaran yang berlebihan malah akan menyakiti diri sendiri. Apalagi jika menyangkut masa lalu.
Sanggupkah Keano pulang dengan tenang setelah mengetahui kenyataan ini?
Oh, tentu saja tidak.
Keinginan Keano untuk mendapatkan Airin kembali dalam pelukannya malah semakin besar. Dia bertekad membawa serta Airin dan Zia untuk pulang bersamanya.
Saat itu pula, Celia yang hendak pulang ke kota J harus menunda niatnya, karena merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.
"Huek .... "
Berkali-kali Celia harus berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan sesuatu dari perutnya. Tak merasa salah makan, namun pagi ini ia merasa sangat mual.
Ingin mengetahui apa yang terjadi pada dirinya, Celia pun langsung menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan. Ia benci sakit yang berlarut-larut.
Cukup sakit hatinya yang tak dapat diobati. Namun jangan tubuhnya juga. Bagaimana ia bisa bersenang-senang jika tubuhnya sakit?
"Saya sakit apa, Dok?" tanya Celia yang sudah menyelesaikan pemeriksaannya.
Kini ia sudah duduk di depan meja dokter wanita yang memeriksanya tadi. Yang mana di tangannya sudah terdapat hasil pemeriksaan.
"Selamat, Bu. Anda dinyatakan positif hamil."
Deg.
"Ha-hamil, Dok?!"
"Benar. Kandungan Ibu sudah berjalan 1 minggu. Kandungannya masih sangat muda, jadi jangan lakukan hal yang berat-berat dulu. Jangan terlalu stres, jaga asupan nutrisi—"
Celia sudah tak bisa mendengar penjelasan dokter dengan baik. Pikirannya mulai berkecamuk.
Dia... Hamil?!
Setelah sekian purnama, akhirnya Celia bisa merasakan rasanya menjadi wanita seutuhnya.
Jika hamil anak dari Keano maka bisa dipastikan ia akan melakukan koprol depan belakang sebagai selebrasi untuk mengungkapkan kegembiraannya.
Sayangnya Celia tahu betul, malam itu Keano mengeluarkan semburan lavanya di luar. Setelah itu tak ada kegiatan lain selain Celia yang memainkan milik Keano seorang diri, sebelum terlelap karena kelelahan.
Jadi, sekarang ini dia hamil anak siapa?
__ADS_1
Semakin merasakan pening di kepala, tatkala teringat segerombolan pria yang mendekatinya di klub malam saat itu.
"Sialan!"
"Apakah anda baik—"
Celia pergi begitu saja dari ruangan, setelah mengambil surat hasil diagnosa dari tangan dokter, lalu meletakkan beberapa lembar uang tanpa berkata apa pun lagi. Mengabaikan panggilan dokter yang terus dilayangkan padanya.
Apakah takdir sedang mempermainkannya?
Kenapa di saat ia begitu mengharapkan benih Keano tumbuh dalam rahimnya, dengan segala cara dan upaya yang diam-diam ia lakukan demi mewujudkannya, namun hasilnya nihil?
Meski harus melakukan hal diluar akal sehat, seperti mengambil sper ma milik Keano yang terkadang dikeluarkan di atas perutnya untuk mendukung proses bayi tabung.
Rela membayar mahal demi program kehamilan yang tak kunjung mendapatkan hasil. Dan hanya satu cara yang belum–enggan lebih tepatnya–ia lakukan.
Pergi ke dukun.
Namun dasarnya Celia tak percaya dengan hal yang berbau mistis, meski dia juga pernah mendengar desas-desus tentang dukun anak yang sakti mandraguna sekali pun.
Segala bentuk perjuangan untuk mendapat momongan tak diketahui oleh Keano sama sekali. Celia khawatir jika dia dinyatakan tidak subur atau mandul, dan Keano mengetahui hal itu.
Tapi apa ini?
Sekarang dia hamil!
Dan kenyataan bahwa dia berhasil hamil tanpa melakukan perjuangan apapun. Bahkan saat pembuatannya pun ia tak merasakan kenikmatan sama sekali.
Air matanya mulai menetes satu per satu. Antara sedih, marah, kecewa. Siapa yang harus ia salahkan? Pantaskah dia menyalahkan takdir? Atau Tuhan?
Apakah ini bencana atau malah keberuntungan?
Tak tega jika Celia harus membunuh janin yang sedang berusaha tumbuh dalam rahimnya. Bukankah hal ini yang ia minta dan perjuangkan selama bertahun-tahun lamanya?
"Tapi tidak dengan orang lain juga, ya Tuhan... Arghh!"
Saat ini Celia sudah ada dalam perjalanan entah kemana. Meski pikirannya tak tahu akan membawa dirinya kemana, namun hatinya hanya punya satu tujuan.
"Kenapa takdir tidak pernah berpihak padaku? Selalu mempermainkan kehidupanku dengan seenaknya." Celia meremas setir dengan penuh kekesalan dan tatapan membara.
Tak selang lama, ia menghentikan laju mobilnya di depan gedung apartemen seseorang yang sangat dikenalnya. Berdiam diri cukup lama, memperhatikan bangunan itu sambil menenangkan diri, dan berpikir.
Anggap saja malam itu dia sedang sial. Karena selama ini Celia tak pernah lupa untuk menggunakan pengaman jika bersenang-senang dengan teman laki-lakinya.
"Baj*ngan! Brengsek!"
Entah sudah berapa kali Celia mengumpati pria-pria yang menjamah tubuhnya malam itu. Sialnya lagi tak ada satu wajah pun yang melekat dalam ingatannya.
Kenapa ia malah hamil di saat sudah berpisah dengan suaminya? Jika hamil saat masih bersama Keano tentu pria itu tidak akan menceraikannya, meski ia hamil dengan pria lain sekalipun.
__ADS_1
Bukankah dia ratu drama?
Nah, itu dia.
Sebuah ide gila tiba-tiba tercetus di otak encer Celia. Dia pun keluar dari mobilnya menuju unit apartemen seseorang yang akan ia mintai pertanggung jawaban atas apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Jika tidak karena pria itu, dia tidak akan berakhir dengan segerombolan pria brengsek malam itu, pikiranya.
Mungkin takdir memang mempermainkannya, tapi dia masih bisa bermain-main dengan takdir.
Ya, inilah kesempatan untuk mendapatkan perhatian dari Keano.
Ting tong
Memakan waktu lumayan lama untuk menanti pintu terbuka. Untung saja dia masih bisa bersabar untuk tidak mendobrak pintu itu.
Ceklek
Akhirnya pintu terbuka, menampilkan seseorang yang selalu ia rindukan. Membukakan pintu dalam keadaan berantakan. Seperti habis melakukan ....
"Kenapa kau masih ada di sini?" ketus pria itu.
Celia sudah menduga Keano akan bertanya seperti itu.
Menggigit bibir bawah untuk mengumpulkan kekuatan. Matanya sudah kembali berkaca-kaca.
"Ada yang ingin aku bicarakan."
"Sudahlah, Cel. Kita sudah selesai. Aku akan segera mengurus perceraian kita."
"Kau tidak bisa melakukannya, No."
"Tentu aku bisa." Keano tersenyum remeh.
"A-aku... Hamil."
Deg.
Serasa sambaran petir langsung menghujam jantungnya, hingga membuatnya berhenti berdetak sejenak.
'Apakah Celia bercanda? Tapi kehamilan tak pantas untuk dijadikan lelucon. Ekspresi Celia bahkan begitu meyakinkan.' batin Keano gusar, menatap lurus pada kedua mata Celia yang sudah berlapis cairan bening.
Kepalanya yang sudah pusing sejak beberapa hari lalu, kini bertambah berat seperti tertimpa beban beribu-ribu ton. Apakah ia harus menyangkal seperti saat Airin pertama kali mengatakan bahwa Zia adalah anaknya?
Dia mungkin brengsek. Tapi lari dari tanggung jawab bukanlah jalan ninjanya.
Keano tak bisa menyangkal, sebab ia yakin sudah meniduri mantan istrinya beberapa hari yang lalu.
"Ke, bolehkah aku pamit? Aku harus—" Seorang wanita tiba-tiba muncul dari balik punggung Keano.
__ADS_1
Wanita itu menggantungkan ucapan saat iris coklatnya bertemu pandang dengan mata sembab Celia yang menatapnya dengan tajam.
"Kau!"