I HATE U MY BROTHER

I HATE U MY BROTHER
TAMBANG EMAS PART 2


__ADS_3

Malam itu tuan MAHARDIKA yang rupanya mengajak rekan bisnisnya tuan muda MARCO itu ke area pertambangan dan sekitar nya .


"Maaf paman , ini..ruangan pertambangan juga ?" Ucapnya yang sangat penasaran dengan lorong yang memang tak nampak seperti gua atau pun pintu pertambangan .


"Oh...kalau ini adalah gudang penyimpanan kami " polosnya tuan MAHARDIKA berkata .


"Jadi begitu .... sebagai rekan bisnis , bukan kah kita harus saling percaya satu sama lain "


"Maksud anda ?"


"Yaaa...tak ada salahnya kan kalau saya hanya sekedar menengok gudang anda , bagaimana aku percaya akan mengirimkan bahan bahan lainnya , kalau tanpa aku tau kondisi cadangan anda untuk membayar kami "


Tuan MAHARDIKA yang kala itu memang sudah pusing dengan bahan tambahan perhiasan yang selalu kosong , dia pun akhirnya mengijinkan tuan muda itu masuk ke dalam lorong .


Sebenarnya tuan MAHARDIKA pun tak ingin bila ada dari pihak lain yang tahu mengenai gudangnya , tapi di sisi lain karena permintaan nya yang tak kunjung datang , mau tak mau dia pun harus menerima permintaan kerjasama dari MARCO .


Tapi anehnya saat itu ada lebih dari 2 orang pekerja bawahannya pula yang ikut masuk , sehingga pak SLAMET pun mendiam kan HP nya dan berusaha memulai untuk mengambil video mereka sambil diam diam mengikuti mereka di belakang .


"Ini sudah pasti ada yang tidak beres " gumamnya terus merekam mereka .


Di sebuah brankas yang mirip BANK itu pun mereka berhenti , baru saja tuan MAHARDIKA hendak memutar nomor dan mengambil kunci kalungnya , tiba tiba dia sudah dibuat kaget oleh munculnya 4 orang pekerja yang juga mengikuti mereka dibelakang .


"Loh...kenapa kalian ikut masuk , kalian tahu kan di sini ada larangan untuk pekerja masuk ke area gudang dalam selain ruang depan " kesal nya pada mereka .


Namun justru tuan muda MARCO dan ke 4 pekerja itu tertawa terbahak bahak .


"Pantas saja setelah kepergian INDRA perusahaanmu merosot tajam kakek tua , kau sangat bodoh rupanya hahahahaha..." sombong CHRISTIAN MARCO itu .


"Apa maksudmu CHRIS ? jadi kalian..?"

__ADS_1


"Ya...mereka adalah para bawahanku yang sudah lama memata matai tempat ini , terimakasih ya karena kamu sudah membuang anakmu "


"Aku tak menyangka kau rupanya begitu jahat , berbeda jauh dari ayahmu CHRIS , kalau aku tak memandang kau anak sahabat ku , mungkin aku tak akan mau bekerja sama denganmu " geram tuan MAHARDIKA .


"Aku akui...kalau MARCO bodoh itu memang lebih bodoh dari mu , bisa bisa nya dia tak bisa memanfaatkan sahabatnya yang bergelimang emas , baru satu menit saja kututup dengan bantal , langsung mati dia..hahahhaha...." bangganya tanpa berdosa mengatakan nya .


Sementara pak SLAMET yang tengah merekam aksi mereka dari kolong meja di ruang depan justru sudah gemetaran dengan apa yang kini direkamnya itu .


Entah mengapa tiba tiba badan tuan MAHARDIKA pun mulai lemah , seperti ada sesuatu yang salah padanya , sehingga membuat dia bersandar didinding sambil memegang dadanya .


"Ada apa ini....apa kau sudah memberiku sesuatu ?" Lemah tuan MAHARDIKA .


Sedangkan diluar samar samar terdengar teriakan seseorang memanggil AYAH yang menggema ke mana mana .


"Tentu saja , itu agar kau tak bisa berteriak , kalian urus dia dan kirim kalung kunci itu kepadaku , seseorang yang aku tunggu sudah kesini , bahaya kalau sampai ada jejak tanganku padanya "


CHRISTIAN MARCO itu pun buru buru berlari ke arah parkiran dimana tadi dia sudah memarkirkan mobilnya .


Dan tentu saja saat hendak dia putar arah dia justru mendapati INDRA yang tengah menghadangnya , tanpa rasa takut dia menancapkan gasnya yang tentu saja menyerempet INDRA disana .


Tapi INDRA buru buru memilih masuk ke gudang dari pada mengejarnya , dimana disana sudah ada 4 orang pekerja yang tengah menarik kunci dari ayahnya ,INDRA yang langsung masuk tentu saja membuat mereka kaget dan mau tak mau harus berduel demi kalung itu , dengan merebut besi tambangnya mereka pun tumbang oleh INDRA .


"Jangan menyentuhku nak...tolong jangan menyentuhku !!" Teriak kakek itu di sisa tenaganya .


"Kenapa ayah , ayo aku bawa ke rumah sakit " pinta INDRA kemudian .


"Tidak...sekarang sebaiknya kau segera pergi dan bawa kunci ini , MARCO mau menguasai tambang kita , mereka adalah orang suruhannya , karena kau datang dia belum sempat merebut nya dari ku , PUTRA tak tau tentang hal ini , dan sekarang CHRISTIAN pasti akan mengincarmu ...pergilah..pergi...!!!! " teriaknya di sisa tenaganya .


Pak SLAMET pun muncul dari ruang depan dan hendak menunggu tuan mudanya dengan gelisah .

__ADS_1


"Pak SLAMET " kaget tuan mudanya itu .


"Tuan ... saya sudah menelfon tuan PUTRA untuk ke sini , sebaiknya tuan sekarang segera pergi sebelum orang mengira ini perbuatan tuan , dan tolong bawa ini....cctv sudah di otak atik , tapi aku berhasil merekam semuannya "


"Terimakasih pak saya pergi dulu " pamit tuan mudanya itu dengan segera .


Sekiranya begitulah cerita yang di sampaikan oleh pak SLAMET malam itu , begitu jelas sehingga membuat ke tiga tuannya itu mengerti .


"Kenapa dulu ayah mengira paman yang mengambil kalung untuk kepentingannya ?"


"Itu karena para pekerja besikeras tak mau berbicara jujur di kepolisian , sedangkan pegawai resto tempat kakek dan tuan MARCO dinner bilang bila di suruh mas INDRA untuk menaruh obat di makanannya "


"Semudah itu om percaya...?" Terkejut KENZO .


"Kalian jangan menyalahkan pak PUTRA , bagaimana pun dulu banyak mata mata diantara pekerja , bahkan di perusahaan " terang pak SLAMET .


"Tuhh... dengerin pak SLAMET , begitu ayah tahu semuanya makanya dulu ayah bermaksud menemui mas INDRA di jawa timur , gak tahunya mobilnya justru mengalami kecelakaan " kenang tuan PUTRA itu .


"Kenapa malah ngerumpi disini , ayo semua bergegas pulang , semua sudah ada di truk kan ?" Ucap tuan INDRA yang baru keluar dari gudang .


"Iya mas "


"Pak SLAMET , kami pamit dulu ..saya sepenuhnya menyerahkan semua pada bapak "


"Terimakasih pak , hati hati..... firasat saya tak enak jika sudah mengenai MARCO "


"Baik pak...kami permisi "


"Ya.."

__ADS_1


__ADS_2