
Malam itu Tanpa terkecuali para kawanan pun bubar dengan segera , begitu pula dengan pasukan KENZO , mereka pun segera pergi ke markas mereka .
Dimana di pinggiran JAKARTA dan TANGGERANG sebuah rumah di tengah lahan kosong dibangunnya tiga lantai untuk tempat tinggal mereka .
Tapi jangan salah , meskipun berjumlah puluhan orang mereka sangat tertib dengan aturan yang di jadwalkan oleh KENZO .
Diantaranya jadwal bertugas dalam bekerja dan juga jadwal kepengurusan rumah , wajar saja bila disana begitu bersih dan rapih meskipun dihuni oleh puluhan orang pria .
Disana memang tak banyak ruangan , selain kamar dan aula rapat , disana juga dilengkapi dapur , tempat gym dan area pelatihan , selainnya hanyalah ruangan kosong dengan sofa di beberapa sisinya yang menghadap ke tv .
Sedangkan dilantai 3 adalah tempat istirahat KENZO dikala dia berkunjung ke sana .
Dan kini di markas itulah KENZO , ANDINI dan orang orangnya berada .
Malam itu tanpa terkecuali mereka saling membantu satu sama lainnya untuk membalut luka yang mereka dapati malam ini . ANDINI dan mereka yang tak mengalami luka serius terlebih dulu membalut luka lainnya dengan segera tanpa terlewatkan .
"Makanan sudah datang , kalian makan saja dulu , tak perlu menunggu KENZO dan aku "
"Siap bu bos !!! " patuh mereka sembari menuju ke ruang tv , dimana sudah ada puluhan box makanan disana .
ANDINI pun pergi ke lantai atas , dimana tadi dia meninggalkan sang bos tampan itu .
Anehnya diruang pribadinya , kamar , bahkan di balkon kecil pun tak ada dirinya sama sekali .
Sementara kotak P3K masih utuh di sofa kamarnya .
Buruburu ANDINI berlari ke lantai bawah dimana para anggota KENZO bersantap .
__ADS_1
"KENZO tak disini ya ? Dikamar ko ga ada ?" Bingungnya bertanya pada para grombolan itu .
"Oohhh... mungkin di kamar mandi bu bos "
"Iya bu bos , di kamar mandi memang di pasang alat kedap suara untuk keamanan bos "
"Oohh..ya sudah kalian lanjutkan dulu makannya "
"Siap bu bos " .
Dan benar saja , begitu ANDINI kembali laki laki itu sedang mengolesi obat luka di badan dan tangannya , begitu santai padahal masih dalam balutan handuk di perutnya , sehingga membuat ANDINI malu sendiri dengan badan sixpack nya yang membiru dengan beberapa luka .
"Kau baru datang ?" Entengnya bertannya .
"Tidak , ku fikir tadi kau pergi "
"Iya..iya.." setujunya meski malu malu .
Diserahkanlah obat itu pada ANDINI , tapi karena takut KENZO mengetahui wajah merahnya dia sengaja memilih punggungnya terlebih dahulu .
"Kamu tak apa apa kalau kita bermalam disini ?"
"Tak masalah , paling hanya berisik orang orang mu di lantai bawah "
"Oh ya , sejak kapan kau bisa taekwondo dan karate ? Perasaan pak HENDRA tak pernah cerita di telpon ?"
"Aku kan memang dari SD sudah ikut ekskul itu , ditambah di sekolahan elit mu justru para perempuan tak ada yang tertarik dengan bela diri , tentu saja tak ada yang tahu "
__ADS_1
"Aku tak sangka saja , bila kau justru lebih lincah dari kami "
"Jelas lah , asal kau tahu saja ya , sebenarnya sudah dari dulu tangan ku ini gatal ingin menghajarmu , sikapmu yang dingin dan arogan , kau fikir enak apa untuk dilihat "
"Okey..okey...aku minta maaf soal itu , lagian .... sudah sejak pertama kita bertemu aku ada rasa padamu , tapi..mama justru membawa mu , dan meminta aku untuk menganggapmu seperti adik sendiri , memang kau tak akan jengkel kalau begitu " omel lelaki itu tiba tiba .
"Iiissss... terus dengan begitu kau langsung memusuhiku begitu ?? memang aku salah apa ? Padahal aku butuh kalian di sisi ku , tapi malah semua pergi ke INGGRIS , tapi aku sadar..kalau kalian semua mencari ayah dan ibu "
"Maaf ya ... kalau ternyata dengan perginya kita semua itu membuat mu terluka "
"Tak apa apa , lagi pula orang orang di rumah juga selalu menyayangi ku , bu RUM, pak HENDRA , pak UDIN , mereka sudah seperti kakek dan nenek buat ku "
Tiba tiba dengan sigap KENZO sudah berbalik dan menarik ANDINI , sehingga kini gadis itu sudah ada di pelukannya .
"Lalu bagaimana dengan ku ?" Lembutnya pada gadis yang masih syok di pelukannya itu .
"Apaan si...lepaskan , badanmu belum selesai diobati " gugupnya dan sengaja berpaling untuk menghindari tatapan tajam pria itu .
"Maaf...."
Mendengar ucapan maafnya ANDINI fikir dia hendak melepaskannya , tapi rupannya kini bibirnya justru sudah beradu dengan bibir merah pria itu .
Entah mengapa seolah terhipnotis , dirinya justru hanyut oleh ciuman dan pelukan pria itu .
Rasa lara di beberapa tubuhnya serasa kalah oleh keromantisan mereka malam itu .
Begitupun suasana dibawah dimana beberapa orang itu sudah pergi beristirahat di ranjangnya masing masing .
__ADS_1