
“Bertingkahlah sewajarnya padaku di sekolah nanti! Jangan sampai teman-temanku mencurigainya,” ketus Hana sombong.
“Up to you ....”
***
Ckittttt
Mobil berhenti setelah nampak sedikit bangunan sekolah yang tertutup pohon dan bangunan lainnya.
“Terimakasih.” Hana keluar dan langsung pergi menuju sekolahnya. Sementara mobil masih berhenti dan kembali melaju setelah sosok yang baru saja turun, telah tidak terlihat lagi.
“Pagi, Han.”
“Pagi,” jawabnya ramah.
“Gimana liburan mu, aman?” tanya Selin yang membuka pembicaraan mereka setelah dua minggu tidak bersekolah. Memang seluruh sekolah baru saja libur semester dan hari ini adalah pertemuan pertama mereka di semester dua.
“Kamu nenye? Kamu bertanya-tanya bagaimana liburan saya,” canda Hana.
“Iye,” balas Selin yang kesal.
“Kacau.”
“Kacau gimana? Kan enak bisa healing,” sahut Selin yang penasaran.
“Gatau lah, malas bahas. Cari topik lain,” saran Hana yang mengalihkan pembicaraan.
Selin mengangkat bahunya acuh, tak bisa dibantah kalau sahabatnya menolak bicara. Keduanya lebih memilih membicarakan hal lain dibandingkan memikirkan hal yang tidak mau dibahas Hana sendiri.
Hari pertama di semester kedua tentunya sekolah masih belum melakukan pembelajaran. Pastinya akan menyiapkan berbagai hal agar pembelajaran dapat dilakukan sampai tepat sasaran yakni sesuai yang diharapkan.
Dua hari berbenah sekolah, akhirnya tepat hari Rabu ini semua murid akan dapat melakukan pembelajaran seperti semester sebelumnya.
__ADS_1
“Terimakasih,” ucap Hana dan melakukan hal yang sama seperti kemarin.
Bunyi bel sebanyak empat kali menandakan bahwa pelajaran akan dimulai. Jam pertama adalah mata pelajaran Agama, Hana menyiapkan peralatan belajar yakni buku dan pena di atas meja.
“Assalamualaikum,” salam Bu Mely yang merupakan guru agama mereka.
“Waalaikumsalam,” jawab murid kompak termasuk Hana.
“Apa kabarnya semua? Gimana liburan semesternya nih, terus puas atau tidak dengan nilai ujian kemarin?”
Bla bla bla ..., obrolan sebatas basa-basi yang berujung pada pembelajaran baru di semester 2 ini.
“Agaknya nak jajan apa nih?” tanya Selin berdampingan dengan Hana.
“Up to you lah.”
“Hiiii ... sok english dah,” rungut Selin pura-pura kesal.
“Hmm ..., oky lah”
“Pesen nasi uduknya satu, Mak. Pake telor goreng diceplok yak!” teriak Selin memesan makanan kepada penjual nasi uduk langganan mereka.
“Satu aja Sel? Si Hana gak pesen?” tanya penjual nasi uduk tersebut.
“Biasa, Mak. Kagak dianggep, dikira tadi Hana cuma angin sepoi-sepoi,” sinis Hana.
“Eh, iya juga yak. Lupa, ya udah nasi uduk telor ceploknya dua piring, es tehnya juga dua.” Selin menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya cengengesan.
Sambil menunggu pesanan nasi uduk mereka tiba, keduanya lebih memilih bercerita satu sama lain. Namun diselang pembicaraan, ternyata guru Ipa mereka, pak Sahlan juga berada di sana.
“Eh, Han. Itu teh pak Sahlan kan yak? Dia makan di sini juga tah, panggil pak Sahlan kali ya, nyapa guru gituloh.” Selin menepuk lengan Hana seraya berbicara dengannya.
“Halah, ngapain nyapa segala, biarin aja ngapa, malas lah.” Hana menolak dan memilih untuk duduk diam.
__ADS_1
“Hilih, gak biasa dah lu gini. Biasanya dah ngiprit duluan dah.” Selin masih menepuk lengan Hana seraya terus melihat pak Sahlan yang tengah memakan nasi uduknya sambil fokus menatap hp-nya.
“Pak Sahlan!!”
Pada akhirnya Selin berteriak memanggil gurunya itu tanpa memedulikan Hana yang nampak jutek, namun masih coba ia tutupi.
Sahlan melihat orang yang memanggilnya barusan, salah satu murid di kelas MIPA XI-2. Tak hanya satu melainkan dua orang siswi yang dilihatnya.
Selin mangajak Hana untuk menghampiri guru mereka, “yuk ke situ!”
“Males lah,” tolak Hana.
Dengan tolakan Hana tak mampu membuat Selin puas, ia menarik paksa temannya untuk tetap ikut.
“Pagi setengah siang, Pak.” Selin menyapa dengan senyuman manisnya dengan satu tangan memegang tangan Hana di sampingnya.
“Juga,” balas Sahlan sedikit tersenyum, “kalian pada mau makan atau udah selesai makan?”
“Baru aja mau makan kok, Pak. Nah, tu dia pesanannya,” jawab Selin kemudian memanggil penjual nasi uduk yang ingin mengantar makanan untuk mereka.
“Nasi uduknya bawa ke meja yang ini aja, Mak.” Selin memanggil Bik Hel yang membawa pesanan mereka dan mengikuti apa yang diinginkan pelanggannya.
“Boleh ni makan satu meja bareng Bapak kan, ya?” tanya sekaligus pinta Selin sopan.
“Boleh.” Sahlan menjawab singkat dan kembali memakan makanannya serta menatap hp-nya
Hana yang sejak tadi diam menyaksikan pembicaraan keduanya lebih memilih langsung memakan makanannya. Sebelum sesuap nasi uduk masuk ke dalam mulutnya, suara Sahlan menghentikan gerakannya.
“Doa dulu sebelum makan,” titahnya seraya fokus menatap hp di tangannya.
Hana berpura-pura tidak mendengar, tetapi ia justru menaruh sendoknya kembali ke piring dan mengambil tisu di depannya. Setelah membersihkan mulutnya sebentar, mulutnya nampak komat kamit yang bermakna ia tengah membaca doa makan. Selin yang melihatnya hanya tersenyum-senyum dan geleng kepala.
“I Hate You!” batin Hana yang ternyata kesal.
__ADS_1