I Hate You!

I Hate You!
Eps 22: Menyembunyikan Amarah


__ADS_3

“Dahlia,” lirih Hana memejamkan matanya masih dengan pelukannya, sepintas air mata sedikit menetes dari pada netranya. Sejak tadi, ia terus mendengarkan berita isu dari meja di sebelahnya. Perasaan kesal, marah, sedih, semuanya kini berada dalam hatinya begitu mendengar gosip tentang Sahlan dan wanita yang ditemuinya.


“Perasaan dari ujung utara ke selatan, beritanya itu-itu ae tah.” Selin menggerutu seraya mengaduk es teh di hadapannya. Sementara Hana masih termenung jauh di pikirannya sebab sibuk menerka apa yang terjadi pada Sahlan dan juga Dahlia.


“Han .... Kau dah nampak cewek pak Sahlan tu, belum?” tanya Selin yang menatap jauh ke depan yang sebenarnya menatap orang yang tengah berada di meja kantin bagian ujung.


“Han?” tanya Selin lagi pada Hana, “kau dengar aku ke tak nih?”


Hana memangku dagunya dengan menggunakan tangan kirinya, saat melamun dirinya sampai tidak mendengar panggilan dari pada temannya.

__ADS_1


Selim yang tidak mendengar sahutan sedikit pun dari Hana, dibuat mengatur emosinya sesabar mungkin. “Dipanggil dari tadi, ternyata eh ternyata asyik berkhayal!”


“Hanaaaaa! ...” panggil Selin yang kali ini membuat Hana terkejut.


“Ish kau nih! Buat aku terkejut, tau. Tak bisa ke, biarkan aku berpikir kejap aja?!” sungut Hana yang mengelus dadanya penuh belas kasih. Bagaimana pun jantungnya hanya satu dan tidak dijual sembarang di kedai, bukan hal mudah dapatkan stok jantung. Apa lagi bila memesan di aplikasi Lazada atau semacamnya, justru hanya mendapatkan zonk!


“Lah, aku pulak? Kau nih kenapa? Asyik-asyik melamun, biar betul kau nih nak tiru Mat Janin?” balas Selin dengan nada gurauan.


“Yelah, kan asik kalau engkau curhatkan apa yang nak kau cakap kat aku. Lagi pulak, aku asyik cerita kau tak dengar. Jadi baik lagi kalau yang engkau ganti balik bercerita.” Selin meminum es tehnya setelah lama dimainkan olehnya.

__ADS_1


“Tak lah. Aku malas nak cerita, baik kau aja yang cakap, aku dengar. Kali ni aku dengarkan,” tolak Hana yang sejujurnya tidak ingin membongkar rahasia dirinya.


“Hadeh, jaga-jagalah kalau sampai you ni tipu!” tegas Selin yang memberikan ancaman pada Hana dengan kesal.


Sejak tadi ia hanya berbicara sendiri layaknya orang bodoh, Hana yang dipanggil berulang kali hanya terdiam tanpa mendengar. Bukan masalah baginya bila Hana begitu padanya, namun ia khawatirkan Hana yang ditakutkan memiliki masalah rumit sampai tidak bisa menceritakan kepada satu orang pun. Oleh sebab itulah sejak pagi tadi ia selalu mencoba membuat Hana berhenti termenung memikirkan hal yang tidak jelas.


“Dah tu, sekarang ni apa hal yang nak kau bagi tahu pada I?!” balas Hana yang acuh tak acuh pada Selin.


“You dah tahu atau pernah nampak, perempuan dengan pak Sahlan kat kafe?”

__ADS_1


Lagi-lagi pertanyaan ini, ini dan ini! Pertanyaan sesat yang akhirnya membawa hal buruk dan tanggapan kesal terhadap temannya ini. “Huh, menyebalkan!” batin Hana yang kesal akan ucapan yang terlontar oleh teman sekelasnya.


Kini Hana hanya mampu menyembunyikan segala emosi yang telah bergejolak di hatinya. Ia harus tetap bersemangat dan ceria, lagi pula keduanya memiliki hubungan hanya sebatas kertas. Seperti di perjanjian awal, yang mengatakan bahwa keduanya tidak akan saling mengurusi kehidupan masing-masing orang. Dirinya harus tetap seperti biasanya tanpa harus peduli akan bagaimana Sahlan bertindak, mau Sahlan melakukan apa, pergi ke mana, dengan siapa? Peduli apa?!


__ADS_2