
Hana mengalihkan pandangannya melihat ke sekelilingnya, menampilkan sebuah restoran pizza. Sebentar ia melirik ke arah Sahlan dan bertanya, “kita di mana ni, Bang?”
“Tak mungkin yang awak ni tak tahu di mana kami berada lagi,” jawab Sahlan berselamba dengan nada gurauannya mengusik Hana.
“Terus cakap macam tu, nanti saya tak nak ikut abang ke sana!” sahut Hana yang memberi amaran kepada Sahlan dengan bersedekap dada.
“Hisy, ... jangan marah macam ni tak elok tau, Cik Adik-kepunyaan abang.” Kembali Sahlan mengusik Hana tanpa rasa bersalahnya.
“Bang?!” seru Hana yang telah menampakkan taringnya dengan disertai lirikan tajam untuk suaminya yang langsung ciut.
“Pizza Hut Delivery, Sidoarjo.” Sahlan menjawab Hana dengan mengalihkan pandangan ke kakinya tanpa berani menatap tatapan Hana.
“Good boys, Dear. Jom lah pergi sana, Hana dah lapar,” ajak Hana yang langsung keluar dari kereta suaminya tanpa menunggu lama.
***
__ADS_1
“Encik dan adik, nak pesan makan apa ni?” tanya seorang pelayan restoran pizza ini begitu Hana dan Sahlan duduk.
“Bagilah kami berdua ni, rose pizza satu beserta oriental chicken spaghetti dua sekali ya, Encik?” jawab Sahlan pada pelayan tersebut.
“Minum?” tanya pelayan tersebut lagi.
“Cappucino jelly satu,” sahut Sahlan dan mengalihkan lirikan matanya ke arah Hana.
“Lemon tea,” ucap Hana yang mengerti akan lirikan Sahlan padanya dan segera memesan drinks untuknya.
“Okelah, tunggu kejap ya.” Setelah mencatat pesanan Sahlan dan Hanya, pelayan tersebut pergi meninggalkan meja mereka untuk menyampaikan pesanan mereka kepada bagian yang menyiapkan pesanan.
Setelah puas memakan santapan hingga tandas, keduanya mengobrol sebentar seraya menunggu pesanan Asyik Berdua ( 1 Rose Pizza & 2 Lemon Tea) untuk take away siap.
“Kita nak ke mana lagi ha, Bang?” tanya Hana saat mendapati Sahlan masih belum membawanya pulang ke rumah.
__ADS_1
“Tak mungkin lah, kita jauh-jauh datang kat sini tetapi hanya makan pizza je kut. Abang nak bawak Hana jalan sekali-sekala,” balas Sahlan dengan kerlingan nakal di matanya.
Hana yang mendengar jawaban dari pertanyaannya, memilih terdiam dan menunggu ke mana tujuan Sahlan kali ini. Pikirannya semakin resah saat Sahlan menghentikan kereta mereka di dekat lobby atau tepatnya di sebuah hotel.
“Jom turun,” ajak Sahlan yang menyuruh Hana untuk turun dari keretanya, ia pun telah sedia membukakan pintu kereta di sisi Hana.
“Abang nak buat apa, ha? Jangan nak buat hal yang Hana tak suka ya bang!” sungut Hana seraya menyipitkan matanya karena merasa terancam.
“Hah?” Sahlan seakan tercengang akan Hana, namun hal itu tidak lama dan setelahnya ia mengerlingkan matanya sedikit pelik bila di pandangan Hana.
“Jom lah, tak kan yang Hana ni tak mahu rasakan abang?” usik Sahlan yang lagi-lagi menbuat Hana marah bercampur malu.
“Apa maksud abang ni, hah? Jangan nak melancong ke mana-mana ni!” ancam Hana yang masih tidak mau bergerak dari kerusi keretanya.
“Alaaa ..., booking sekali-sekala, okay-lah! Kan bagus lagi, kita belum ada honey moon kan, Sayang? Lagi pula tempat ni bagus dan serasi dengan selera kita. Ye tak?”
__ADS_1
“Aduh!” ringis Sahlan begitu botol aqua mendarat tepat di atas kepalanya yang dihadiahkan Hana begitu indah.
“Berani buat hal macam-macam, habis engkau!” ketus Hana yang tidak merasa bersalah dan masih dikuasai dengan perasaan kalut akan tindakan yang ingin dilakukan suaminya sendiri.