
Hana mengunci kamarnya dari dalam dengan perasaan sedikit kesal. Ia langsung berbaring asal di ranjang miliknya dengan mimik wajah yang jauh berbeda dengan sebelumnya, ia menatap langit-langit kamarnya. Hana menitiskan air mata dari pipinya, tidak tau mengapa nasibnya bisa berubah drastis hanya dalam waktu kurang lebih dua minggu ini.
Hana kini hanya dapat pasrah akan nasib yang membuat ia terjebak dan terikat akan suatu hal yang tak pernah dibayangkan olehnya. Hati Hana ingin rasanya berontak dan berteriak keras, namun ia hanya mampu memendam dan menangis di bilik kamarnya ini.
Tanpa sadar dalam tangisan hatinya itu, Hana terlelap tidur masih dengan seragam sekolahnya yang belum diganti.
Tok tok
“Han, Abang pergi dulu, ya? Makan siang dah Abang letak di atas meja makan, Hana jangan lupa makan ya, Abang berangkat ye? Assalamualaikum.”
Sahlan yang berucap di balik pintu kamar Hana, akhirnya keluar dari rumah tersebut tanpa mendengar jawaban dari wanita yang dimaksudnya.
Hana yang mendengar suara mesin mobil yang dinyalakan, bangun dan membuka sedikit tirai kamarnya, “Abang dah pergi tak pamit lah,” batin Hana dengan mata berkaca.
__ADS_1
Hana keluar dari kamarnya, setelah mandi dan mengganti pakaian sekolahnya. Nampak jarum jam yang menunjukkan pukul empat sore, ia sadar bahwa dirinya melupakan salat dzuhur karena tertidur. Ia pun kembali dan segera melaksanakan salat ashar agar tidak kembali menunda-nunda dan melupakannya.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban setiap umat muslim ia pun menuju dapur, melihat atau memasak sesuatu yang bisa dimakan untuk mengisi perutnya yang lapar. Namun niatnya terhenti saat melihat tudung saji di atas meja. Tangan Hana membukanya dan melihat lauk di piring dan juga nasi yang pastinya ditujukan untuknya.
“Ini abang buat ke?” tanya Hana berbicara sendiri. Ya Allah, maafkan Hana, terlalu berburuk sangka dan jahat kepada suami Hana sendiri. Tapi Hana pun tak suka bila suami Hana masih berhubungan dengan kekasihnya, Hana ni istrinya bukan hanya muridnya sorang tau! Pertentangan batin yang terus berada di dalam hati Hana menguap sampai ke ubun kepalanya.
Pukul 01.00 dini hari, seorang gadis remaja, istri dari seorang lelaki ..., sendirian berada di rumahnya. Hana adalah seorang penakut, terlebih lagi beberapa jam lalu temannya menceritakan hal seram melalui talian telepon yang membuatnya semakin tidak bisa nyenyak untuk tertidur.
Malam yang sangat mencekam diiringi dengan gemuruh petir dan angin kencang ..., menambah sensasi ketakutan yang dialami oleh Hana seorang diri.
Jedarrr
Petir menyambar dan dalam sekejap lampu menjadi gelap, menandakan listrik yang padam.
__ADS_1
“Huaaaaaaaa ....”
Hana menangis kencang dan menutup telinganya menggunakan bantal, ia benar-benar ketakutan seorang diri. Ini adalah pengalaman kedua dan yang pertama adalah saat dia masih berusia 5 tahun. Hana benar-benar fobia akan kegelapan dan ditambah dengan suara aneh (sebenarnya adalah suara dedaunan pohon yang bergesekan dengan atap rumah 😭) serta gemuruh petir ... maka ketakutannya telah menguasai hati, pikiran dan tubuhnya.
Klotek klotek, tap tap ....
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah kamar Hana, benar-benar ketakutan. Hana tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya mampu beristighfar dengan air mata yang terus menerus mengalir di pipinya.
Langkah kaki yang misterius itu semakin dekat ..., dekat ... dan dekat.
Apakah itu hantu?Apa itu alien? Apa itu pencuri, penjahat? Atau orang atau hantu, atau orang atau hantu?! pikiran Hana terus berulang dengan pertanyaan yang diyakini ketakutan terbesarnya.
Tiba-tiba, bahu Hana ditepuk (bukan dipuk-puk😌). Hana yakin itu hantu, namun ia tak mampu untuk melawan dan hanya bisa berteriak diiringi tangisan kencang. Lalu dengan tanpa diduga, selimut yang menutupi tubuh Hana langsung ditarik dan—
__ADS_1