I Hate You!

I Hate You!
(Chapter 2) Eps 6: Flashback On~Bagaimana Cerita Dimulai!


__ADS_3

Sahlan terdiam di dalam mobilnya, ia masih mengingat bagaimana dirinya dan Hana bisa menikah dalam beberapa minggu yang lalu, ingatannya kembali pada masa itu.


Flashback On


Libur semester adalah waktu bagi sekolah untuk melepas penat dari hal-hal yang berkaitan dengan mata pelajaran. Baik murid-murid maupun guru yang berada di sekolah, tentunya akan merasakan hal yang sama saat libur dimulai. Hal ini pula dirasakan bagi Sahlan yang baru saja menjadi seorang guru pada 6 bulan lalu di sekolah SMAN 1 di wilayah kota J negara I.


Sahlan kali ini akan kembali ke kota asalnya yaitu kota L. Di sanalah ia dilahirkan dan di sana ia akan kembali bertemu dengan orang tuanya serta seluruh keluarganya.


Dalam waktu beberapa jam akhirnya Sahlan tiba di kota asalnya dengan menggunakan pesawat sebagai transportasi udara.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!” salam Sahlan kepada orang tuanya saat tiba di bandara.


“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!” jawab orang tua Sahlan serempak.


“Masya Allah, Sahlan, gimana perjalanannya?” tanya Papa Sahlan kepada anaknya.


“Alhamdulillah lancar, Papa.” Sahlan menjawab lembut.


“Ih, Mama ni rindu sangat sama Sahlan, you no lama banget nggak pulang-pulang. Adik kamu nanyain kamu terus tau, dia kangen banget sama kamu!” ujar Mama sahlan kepada putra sulungnya.


“Iyalah, Ma. Sahlan ada banyak kerja di kota. Mama kan tahu kalau Sahlan bukan cuma guru di sana, Sahlan juga buat usaha eksportir di sana.” Sahlan menjawab seraya mencium pipi mamanya.

__ADS_1


"Yelah ....”


“Eh, dahlah tu, jom kita balik ke rumah. Gisyam dan oma dah tunggu di sana,” ajak Papa Sahlan mengingatkan keduanya untuk kembali pulang ke rumah mereka.


Saat tiba di rumah Sahlan langsung beristirahat dan saat malam tiba, bersama-sama mereka makan malam di satu meja.


"Eh, Sahlan. Papa nak cakap ke Sahlan,” ucap Papa Sahlan setelah mereka berada di ruang keluarga.


“Nak bicara pasal apa, Papa?” tanya Sahlan yang telah menanti akan kelanjutan ucapan dari papanya.


“Sahlan sekarang udah umur 23 tahun kurang lebih,” ucap Papa Sahlan membuka pembicaraannya.


“Jadi?” tanya Sahlan heran, “udah tuh kenapa, Papa?”


Sejenak Sahlan terdiam untuk membuka ingatannya akan apa yang dimaksud papanya.


“Ooo ..., yang tu eee ingat lagi lah, Pa. Terus kenapa ni, Papa?” tanyanya dengan penuh penasaran.


“Dulu Sahlan pernah berjumpa dengan budak kecil—anak teman papa tuh. Kurang lebih perbedaan umur Sahlan dengan dia ada 7 tahun.” Kembali Papa Sahlan membuat putranya semakin penasaran akan inti dari pembicaraan papanya kali ini.


"Iya, Papa. Budak kecil perempuan tuh kan, yang saat Sahlan umur 8 tahun dia lagi kecil ada agaknya umur satu tahun kurang lebih, betul? Ada apa-apa dengan budak tu, hingga buat Papa bicara macam interogasi ni ke?”

__ADS_1


Sahlan terus mengajukan pertanyaannya seraya meraih secangkir kopi yang telah disediakan mamanya di meja.


“Nah, betul. Rencana esok kita akan kat rumah dia, nak lamar dia untuk Sahlan.” Papa Sahlan membenarkan sekaligus masuk dalam inti pembicaraan keduanya.


“Uhuk uhuk ....”


Sahlan tiba-tiba terbatuk dan menyemburkan kopi yang diminum dari mulutnya. Ia benar-benar terkejut akan maksud perkataan dari papanya.


Melihat Sahlan yang terbatuk-batuk, membuat mama, papa, dan oma mereka sedikit khawatir.


"Oke ke, Sahlan?” tanya mamanya memastikan.


“Tak apa-apa ... i'm okay,” jawab Sahlan lembut dan langsung mengalihkan pandangannya menuju papanya.


Ia berkata, “Apa nih, Papa? Sahlan tak maksud dengan ucapan Papa nak lamar budak kecil tuh untuk Sahlan. Seriuslah, Papa?!”


“Sahlan nih masih muda, dia pun masih muda ... apatah lagi lebih kecik dari Sahlan. Tak mungkin kalau Sahlan kahwin dengan budak kecil—pautan umur yang terlampau jauh, Papa!” lanjut Sahlan serius.


“Papa ni seriuslah,” jawab Papanya, “Mama, Oma, dan seluruh keluarga kita dah setuju, keluarga mereka pun sama. Kau dengan dia tuh dah dijodohkan dari almarhum kakek engkau dan kakek dia. Papa dan papa budak kecil itu pun dah janji, untuk laksanakan wasiat dari almarhum kakek engkau. Tak mungkin papa nak ingkar. lagi pula calon istri kau tuh baik cantik dan sempurna buat engkau.”


“Tapi, Papa. Dia kecil lagi lah, Pa!” ringis Sahlan memohon, “terus pula Sahlan nih dah ada gandengan, Papa tega, nak halau hubungan Sahlan dengan pacar Sahlan?”

__ADS_1


“Kau harus menurut, Sahlan. Ini keputusan yang terbaik buat engkau, jangan buat papa dan seluruh keluarga kita kecewa akan penolakan engkau. Apapun yang terjadi, papa nak kau dengan budak kecil itu menikah. Terus sebiji hal lagi, kau kena ikut kita ke rumah dia tuh. Okay!” tegas Papa Sahlan dan langsung berdiri meninggalkan ruang keluarga.


__ADS_2