I Hate You!

I Hate You!
Eps 2: Encik Sahlan


__ADS_3

“Sebentar lagi bel masuk, kalian berdua segera kembali ke kelas masing-masing. Saya duluan kembali ke sekolah,” ujar Sahlan pada kedua muridnya agar segera menyelesaikan makanan yang tengah mereka lahap.


“Okelah, Pak. Aman kami berdua mah,” sahut Selin cepat.


Sahlan berdiri dari mejanya menuju ke arah penjual nasi uduk untuk membayar makanannya.


Tak selang berapa lama Hana dan Selin akhirnya mampu menghabiskan makanan mereka, tinggal beberapa menit lagi untuk bel masuk tiba keduanya bergegas untuk membayar nasi uduk yang dijual Bi Hel.


“Bi, ini duit nasi uduknya.” Selin dan Hana mengeluarkan uang mereka, namun Bi Hel menolak karena nasi uduk keduanya telah dibayar oleh guru mereka yang tak lain adalah Sahlan sendiri.


Selin yang mengetahui bahwa makanannya telah dibayar oleh gurunya langsung tersenyum sumringah. Dalam hatinya ia bersyukur memiliki guru yang baik hati, tidak pelit dan juga tampan. Di perjalanan kembali ke kelas mereka, Selin terus menceritakan dan memuji-muji Sahlan.


“Udah ganteng, gak pelit lagi, ya nggak?” tanya Selin pada Hana dengan nada memuji.


“Biasa aja sih, lagi pula baru bandar sekarang pun, juga nggak ganteng amat,” elak Hana akan perkataan temannya.


“Ih apalah, jujur aja nggak usah bohong, dalam hatimu aku tahu bahwa you memuja-muja Pak Sahlan kan ya?” canda Selin yang membuat Hana semakin kesal.

__ADS_1


“Iiii ..., apa pula lah ni. Tak benar lah yang you cakap nih. I tak ada muji-muji dia tuh dalam hati ini!” ketus Hana dan kembali bergumam, “apatah lagi bila tatapan denganku dah bikin hati kesal tau!”


“Hilih, yelah ...,” balas Selin yang tidak ingin membuat temannya semakin kesal. Saat bel masuk berbunyi, Hana dan Selin tepat waktu dan telah duduk di kursi masing-masing. Keduanya belajar sampai waktu pulang tiba.


“Han, Kau ..., nak pulang dengan siapa? tanya Selin saat bersiap untuk pulang.


“Entahlah,” jawab Hana sesaat.


“Ya dah bila macam tu, you ikut aku je, deddy aku dah siapkan jemputan buatku,” ajak Selin pada Hana.


“Eee ..., tak payah lah. Thanks dah ajak, biarlah aku naik angkutan kota pun tak apa.” Hana tersenyum kecil.


“Eh, tak ada apa-apa pun. Kan dah biasa aku naik angkot dulu,” jawab Hana ketar ketir.


“Ouh, okay.” Selin mengangkat bahunya.


“Kalau macam tu, aku balik dulu ya.” Selin pamit pada Hana dengan lambaian tangan kepada temannya.

__ADS_1


Setelah sering pergi Hana pun melangkah keluar dari kelasnya untuk segera pulang. Saat sekolah tampak sepi mobil hitam melintas dan berhenti tepat di hadapan Hana.


“Masuklah,” perintah pria yang berasal dari dalam mobil.


Tanpa berkata apapun, Hana langsung masuk setelah mengetahui siapa yang mengajaknya pulang bersama.


“Thanks dah bandar tadi, nanti uangnya Hana balik kan ke Abang.”


“Tak payah dah, saja nak bandar Hana dan Selin tu,” tolak pria tersebut yang tak lain adalah Sahlan.


“Oke,” jawab Hana pelan.


Tanpa berkata apapun lagi, dalam mobil keduanya hening tanpa bicara sama sekali sampai dengan mobil berhenti di sebuah perumahan minimalis yang asri dengan pepohonan hijau di sekeliling rumah tersebut.


“Abang nanti balik lambat sikit,” ucap pria yang tak lain adalah Sahlan membuka pembicaraan saat di rumah.


“Okelah, nak jumpa Dahlia yang cantik tuh kan?” sinis Hana. Sahlan terdiam namun pandangan matanya tetap mengarah ke arah Hana. Sadar karena mata yang saling berlawanan membuat Hana mengalihkan pandangan matanya.

__ADS_1


“Apa pula lah nih, Hana. Abang tuh cuma nak buat ker-”


“Tak perlu cakap lah, Bang. Hana masuk dalam bilik dulu misi, Bang.” Tanpa mendengar penjelasan Sahlan, Hana langsung masuk ke kamarnya meninggalkan Sahlan sendirian.


__ADS_2