
“Banyak sekarang ini kejadian realita di mana Istri yang memiliki sifat kekanakan dan suami yang memiliki watak keras, menyebabkan rumah tangga yang tidak tentram karena kedua pihak yang sama-sama tidak mau mengalah.”
“Nih juga, beruntung karena Mas Sahlan dan Mbak Hana masih berdua dan belum memiliki anak. Jika sudah ada, maka bayangkanlah nasib anak kalian berdua jika memiliki sikap yang egois?!” lanjut Bu Indah yang menanyakan Hana dan Sahlan bersamaan.
Hana semakin menunduk, sementara Sahlan juga melakukan hal yang sama. Berbagai omelan yang didapatkan keduanya dari Bu Indah malam itu, hingga membuat Sahlan dan Hana hanya mampu terdiam membisu.
***
Keesokannya Hana sengaja tidak berangkat ke sekolah, ia masih lelah karena pertengkaran serta omelan yang berlaku semalam. Ia sudah meminta izin terhadap wali kelasnya melalui pribadi dan grup sekolah. Tak dapat dinafikan cekraman kuat yang Sahlan berikan masih membekas di hatinya dan sakitnya masih terasa.
__ADS_1
Sahlan yang masih tidak berani untuk mengajak Hana berbicara, memutuskan untuk diam dan berangkat menuju sekolah sendirian dengan menggunakan keretanya.
Sahlan benar-benar merasa bersalah karena telah berlaku kasar pada isterinya, ia tidak menyangka yang dirinya dapat bersikap sehina itu pada Hana.
Sepanjang berangkat hingga ke pulang, tidak dirasakan Sahlan pada hari ini. Sahlan sangat ingin secepatnya segera tiba di rumahnya dan meminta maaf kepada Hana.
Begitu tiba, Sahlan mencari Hana di rumahnya. Namun tidak ditemukan seseorang yang dicarinya itu di segala penjuru rumah.
Hana melirik ke arah seseorang yang baru berada di sampingnya. Pria yang menyakitinya baru-baru ini, ingin kembali menangis apabila mengingatinya.
__ADS_1
Hana menatap jernihnya air yang mengalir di dekatnya. Kakinya sengaja ia celupkan ke dalam air yang hanya sebatas mata kakinya. Dalam keheningan keduanya, Sahlan melabuhkan kepalanya ke bahu Hana. Tanpa berbuat, Hana hanya terdiam akan Sahlan yang tidak biasa untuk kali ini.
“Sorry!” lirih Sahlan tulus meminta kemaafan dari Hana, "Maafkan saya kerana berlaku kasar pada awak! Saya benar-benar tidak sangka saya boleh melakukan perkara yang kurang ajar kepada awak.”
Hana hanya menunduk tanpa berkata apapun, ia juga sebenarnya merasa bersalah akan sikapnya tetapi lain sisi dirinya masih tidak rela memaafkan Sahlan.
"Saya merayu! Apa yang awak tahu tentang saya dan Dahlia adalah tidak benar, saya masih mempunyai kepercayaan untuk tidak melakukan kesalahan yang sangat berdosa apabila saya melakukannya."
“Banyak perkara yang awak tak tahu tentang saya setakat ini, tapi saya pasti ada masa nanti awak faham. Yang pasti, awak sepatutnya boleh mempercayai saya!” lanjut Sahlan yang kini menegakkan kepalanya serta membalikan tatapan Hana kepadanya.
__ADS_1
Hana menatap Sahlan dengan tatapan berkaca, sama halnya dengan Sahlan. Tersedar akan tatapan intim keduanya, Hana segera mengalihkan pandangannya. Benci masih ada, luka masih ada! Itulah ego yang berada dalam diri Hana yang mengalahkan kasih sayangnya terhadap pria di depannya.
“Hana mau masuk,” ucap Hana sambil berdiri. Sebelum melangkah, Sahlan menghentikan Hana dengan meraih tangan istrinya.