
“Nah, jadi ....”
"Kita akan menghabiskan waktu bersama selama kita di sini, kita bertemu di taman ini setiap jam 10 pagi. Tidak ada keberatan, Awak wajib setuju!"
Mulai dari itulah Hana dan Abian menghabiskan waktu bersama setiap waktunya, hingga berlangsung selama beberapa hari.
***
Pada saat Hana kembali ke rumah, ibunya telah menghadang di depan pintu dengan sorot mata yang tajam.
“Beberapa hari ini, mama sering melihatmu berdua dengannya. Apa yang kau lakukan dengan pria itu, Hana?” tanya ibunya kepada Hana.
“Tidak buat apa-apa, cuma healing.” Hana menjawab seraya terus berjalan menuju kamarnya.
"Mama serius, Hana! Awak ini sudah menikah, bukan wanita lajang lagi. Tidak baik jika orang yang tahu tentang pernikahanmu, melihat kamu dengan pria lain."
“Selain itu ... kasihan Sahlan, suamimu. Kamu jahat, jika kamu bahkan menduakannya!"omel ibunya panjang lebar.
__ADS_1
"Terserah Hana! Sejak awal saya bilang, kalau saya tidak mau menikah... apalagi dengan laki-laki seperti abang Sahlan." Hana memasuki kamarnya dan diikuti oleh ibunya.
"Kau harus menuruti, Hana. Kamu sudah lama di sini, tidak baik jika sekolahmu terganggu." Mama Tia yakni ibunda Hana terus berusaha menasihati anaknya.
“Jadi ... maksud Mama, saya tidak boleh tinggal di rumah kedua orang tua saya?” potong Hana cepat.
"Bukan itu maksud mama! Tidak baik bagi seorang istri yang tinggal di rumah orang tuanya dalam waktu yang lama, apalagi tanpa ditemani oleh suaminya.”
"Kamu sekarang punya tanggung jawab dan kewajiban, Hana!"sambung sang ibu yang meluruskan.
“Itu sudah menjadi hal yang mutlak karena faktanya meskipun nikah siri, kalian sudah menikah dan sekarang sudah menjadi suami istri. Tak terbantahkan, Hana!” tegas ibunya.
"Tidak ada tapi! Mama akan menceritakan ini pada papamu. Kau harus pulang, siapkan pakaianmu! Mama kesal dan kesal sama kamu, sebaiknya masalah rumah tangga jangan sampai tercium oleh orang lain. Tidak apa-apa jika masalahmu besar, ini tidak!”
“Tapi kalian bukan orang lain,” ucap Hana yang masih berusaha.
“Iya, memang benar kami adalah kedua orang tuamu. Tapi, untuk mengurus masalah pernikahan antara kalian berdua tidak boleh sampai seperti ini.”
__ADS_1
“Udahlah, pening saya mendengarnya.” Hana yang kehabisan kata, kini mengeluh.
“Tahu pun pening, masih saja melakukan dan tidak mau menurut!” sahut mamanya makin kesal, “dah ... kemas barang kau tuh, mama mau nyambut papa kau di depan.”
Mama Tia langsung keluar dari kamar Hana dan menghampiri suaminya sehabis pulang bekerja.
***
“Hana tidak mau pulang!” tolak Hana keras, "Aku sudah mengatakan bahwa jika aku tidak mau, maka aku tetap tidak mau!"
“ Apa nih, Han?! Kamu tidak boleh keras kepala seperti ini, aku pusing betul mendengarnya." Keluhan sang ibu yang lelah akan sikap putrinya yang keras kepala.
"Tapi aku masih benar-benar tidak mau, dan pria itu tidak peduli padaku. Saya sudah di sini selama berhari-hari, dia tidak mengikuti saya atau memohon saya untuk pulang, bahkan tidak menanyakan kabar saya!”
“Saya benci melakukan hal-hal yang tidak saya minati, saya lelah melakukan apa yang tidak saya inginkan." Hana melontarkan seluruh isi hatinya dengan perasaan sedih.
“Saya memohon untuk Papa dan Mama faham akan keadaan saya,” pinta Hana akan pengertian kedua orangtuanya.
__ADS_1