I Hate You!

I Hate You!
Eps 9: Flashback On~Lusa bahagia bagi semua, Lusa bencana bagi HanSah


__ADS_3

“What?! Hana menikah dengan Pak Sahlan nih, seriously!” Hana menatap tak percaya saat dirinya diberitahu berita ini oleh semua orang.


Hana melihat ke arah Sahlan yang hanya mampu memijat pangkal hidungnya, Hana sangat kesal akan ketidakberdayaan Sahlan.


Hama tidak pernah bermimpi untuk bisa menjadi pendamping hidup gurunya yang satu ini, bukan alasan wajah tampan yang dimiliki Sahlan dapat membuat hati Hana terpaut atau menyetujui rencana pernikahan ini.


Banyak sekali wanita-wanita, baik itu teman wanita ataupun guru-gurunya di sekolah mengincar dan mengidolakan gurunya yang satu ini.


Tak sedikit orang yang menyukai Sahlan, namun tidak dirinya. Ia jauh lebih merasa kesal apabila melihat wajah itu, apa alasan yang membuat ini adalah saat Hana yang dihukum sebab dirinya dituduh mencontek saat ujian IPA semester satu beberapa hari lalu. Dengan mudahnya Sahlan justru percaya akan perkataan teman sekelas Hana. Hanya karena secarik kertas berisikan jawaban ujian berada di bawah mejanya, bukan berarti dirinya mencontek, melainkan teman laki-laki yang sangat menyebalkan itu melempar batu sembunyi tangan kepadanya. Sejak saat itulah Hana benar-benar semakin kesal pada Sahlan.


Bukan cuma itu saja, Sahlan bahkan seringkali mengerjainya dengan status guru untuk membuatnya membersihkan toilet bagian lelaki dengan alasan tidak mengerjakan PR, ‘yah walaupun itu benar, tapi tidak sebegitunya dong!


“Ma! Hana tak mau menikah ataupun dijodohkan dengan Pak Sahlan, Hana kesel banget tahu! Hana tak mau, tak mau, tak mau!” tegas Hana yang tetap pada pendiriannya.


“Hana harus mau tau! Ini dah ada di perjanjian kita dahulu, ini mimpi kakek engkau.” Mak Cik Tia atau Mama Hana menjawab dengan lembut.

__ADS_1


“Tapi Hana ni masih kecik! Pak Sahlan dah tuwir.” Hama menjawab dengan berkacak pinggang sekaligus nada mengejek gurunya, Sahlan.


“Hana!”


Dengan satu kata teguran dari papanya, Hana langsung menunduk dan meminta maaf.


“Sorry,” ucapnya pelan.


“Oke,” jawab Sahlan santai namun dalam hatinya, “bocah ingusan jelek menghina guru yang real tampan, damn!”


“What?!”


Sahlan dan Hana yang mendengar ucapan dari Papa Sahlan, kembali dibuat terkejut dan syok.


“Papa! Sahlan tak siap lagi, lah!” keluh Sahlan merayu.

__ADS_1


“Ha‘ah Pak Cik. Mak, Pak! Hana tak siap lagi lah, Hana tak mahu bila perkawinan Hana dijodohkan. Kuno, Mak, kuno! Hana tak mungkin lagi menikah di usia muda macam nih. Hana mahukan sekolah, dan yang paling utama ...,” cibir Hana, “Hana tak cinta dengan Pak Sahlan yang nyebelin macam ini.”


“Apa pula aku kena macam nih? You sejak tadi bercakap kalau ai ni nyebelin, tuwirlah. Saya pun tak nak, bila nak kawin dengan murid tak disiplin macam you bahkan menyontek pun saat ujian. Ck,” balas Sahlan yang membuat Hana kesal.


“Hey!” hardik Hana keras, “bukan aku yang menyontek! Akbar yang tuduh aku, padahal dia yang buat macam tu iii, tapi pak Sahlan ni tak percaya!”


“Up to you lah, ai tak kesah.” Hana sangat kesal dibuat akan jawaban Sahlan yang sebenarnya.


“Pernikahan Hana dan Sahlan akan dilaksanakan lusa nanti.” Kini giliran papa Hana yang berkata dan mengejutkan keduanya.


Hana yang terus menolak dengan berbagai alasan, sementara Sahlan yang sudah buntu hanya mampu terdiam dan kembali memijit pangkal hidungnya karena pusing.


“Ai harus kena telepon, Dahlia!” Dalam hati yang mengingat kekasihnya, Sahlan harus memberitahu hal ini.


Sahlan keluar dari rumah Hana dan mencari tempat yang cocok untuk mulai menghubungi kekasihnya, berulang kali ia mencoba menyambungkan talian telepon. Namun, selalu saja tidak terjawab padahal number kekasihnya ini aktif. Sahlan semakin merasa frustasi dan pusing memikirkan masalahnya yang cukup sulit untuk kali ini.

__ADS_1


__ADS_2