
Hana masuk ke dalam mobil suaminya saat hendak pulang ke rumah. Seperti halnya kemarin dan pagi ini, Hana masih tetap mendiamkan Sahlan tanpa mau berbicara dengannya. Ia masih kesal karena Sahlan yang mengingkari janjinya sendiri untuk mengajarinya IPA.
Sebenarnya bukan hanya itu yang menjadi alasan utama Hana marah, melainkan karena Sahlan yang tidak menemaninya malam tadi hingga larut malam.
Hana benar-benar kecewa dan menaruh rasa penuh curiga akan kemana perginya Sahlan hingga selarut itu saat pulang. Lain halnya dengan Sahlan yang mengira bahwa Hana merajuk karena dirinya tidak mengajari IPA yang sama sekali tidak dimengerti oleh Hana.
Di lain sisi Hana merasa curiga akan Sahlan yang bertemu dengan Dahlia tadi malam dengan menggunakan alasan kerja. Namun di sisi lain jika memang itu dibuktikan benar, ia tidak punya hak sama sekali untuk mengatur bagaimana suaminya untuk melakukan apa yang diinginkannya.
Seandainya ia memiliki hak yang pasti, tentunya ia akan rela mati-matian membuntuti ke mana suaminya pergi. Namun, kembali lagi ke perjanjian awal di mana keduanya memiliki kesepakatan untuk tidak mencampuri kehidupan masing-masing.
__ADS_1
“Hana masih marah sama, Abang?” tanya Sahlan saat keduanya memasuki rumah mereka.
“Tak ada hak untuk Hana marah ke Abang.” Hana menjawab dan menaruh bag-nya di sofa.
“Hana cakep apa, nih? Hana 100% ada hak dengan Abang!” tegas Sahlan yang membuat Hana tertawa sinis.
“Tapi,Han! Kita nih udah kahwin,” protes Sahlan.
“Udah lah, Bang. Hana capek nak baring kat ranjang. Baik lagi abang lakukan apa hal yang abang nak buat, Hana ngantuk, bye.” Hana meninggalkan Sahlan sendirian dan memilih masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Sahlan mendengus akan sifat keras kepala yang dimiliki oleh Hana, memang salah dirinya membuat kesepakatan di antara keduanya dahulu. Kini justru dirinya yang malah tersiksa dan termakan aturannya sendiri. Apabila Hana telah merajuk seperti ini, maka akan sulit untuk membujuknya.
Makan siang dilewati olehnya dan Hana. Meskipun Sahlan memanggilnya berulang kali, ia tetap tidak menjawab hingga membuat Sahlan ikut belum mengisi perutnya.
Hana terlalu lelah untuk memikirkan beban di kepalanya, ia benar-benar jengah akan semua perihal yang berada di hidupnya. Ingin rasanya ia lari dari kehidupan dunia dan memilih untuk sembunyi daripada menghadapi ujian maupun tantangan dalam kehidupannya di bumi.
Sahlan hari ini juga buntu untuk melakukan aktivitas, hanya karena pusing memikirkan Hana yang tidak mau dibujuk. Segala-galanya justru membuat mood Sahlan terganggu. Tak pernah dia merasa seperti ini hanya karena dibuat oleh seorang wanita, walaupun itu kekasihnya sendiri. Hanya Hana seorang yang mampu membuat hatinya merasakan marah, sedih, senang, gelisah dan segalanya. Ia benar-benar bingung akan perasaannya terhadap Hana, Sahlan tidak pernah berniat untuk menganggap seorang Hana sebagai istrinya, melainkan seorang remaja yang telah dianggap sebagai adiknya dan juga muridnya di sekolah. Namun hal itu berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan kini.
Sahlan bingung untuk memikirkan cara agar Hana dapat berbaikan dengan dirinya. Sahlan justru tanpa sadar tertidur di sofa tanpa membuka sepatunya terlebih dahulu. Karena lelah bercampur pusing Sahlan tertidur dengan lelap hingga sore hari.
__ADS_1