
Dia cakap hanya saya di hatinya, tapi tak pernah pun muncul ungkapan cintanya pada saya. Hana membalas dalam diam setiap perkataan Sahlan kepadanya.
Begitu tiba di rumah Hana langsung masuk ke kamarnya dan Sahlan ... guna berganti pakaian, dari seragam kini berubah menjadi baju rumahan.
“Sayang, buatkan abang minum!” pinta Sahlan berteriak dari arah dapur memanggil Hana.
“Iya ... tunggu kejap!” sahut Hana dari arah kamar dan langsung segera menuju dapur.
Setelah beberapa minit akhirnya secangkir kopi telah bertandang di hadapan Sahlan. Tanpa fikir panjang, ia langsung meraihnya dari tangan Hana. Hana pun ikut duduk begitu Sahlan menikmati kopinya, termangu ia menelisik wajah ayu suaminya.
“Saya ada sesuatu buat Hana,” cakap Sahlan mematahkan renungan dari Hana.
“Apa dia?” tanya Hana ingin tahu.
Sahlan mengeluarkan sesuatu dari saku dan memberikannya langsung pada Hana. “Apa ini?” tanya Hana yang meski ia tau bahwa terdapat kartu kredit di tangannya.
“Kartu kredit milik Hana,” jawab Sahlan singkat.
__ADS_1
“Saya tau ini kartu kredit, maksudnya ... untuk apa kamu berikan kepada saya?” soal Hana seraya mengerutkan kening.
“Untuk belanja kebutuhan kita, saya serahkan segala urusan itu kepada awak.” Sahlan menjelaskan seraya meneguk kopinya yang lumayan hangat.
“Tapi uang dari mak dan bapak saya masih cukup untuk kebutuhan saya ... . Saya rasa ini tidak perlu,” tolak Hana yang tidak ingin menggunakan uang suaminya sendiri.
“Mama dan papa tidak akan mengirimkan lagi wang kepada you. Saya yang akan membiayai segala keperluan awak. Faham?” jelas Sahlan.
“Tapi ini kartu kredit—”
“Tidak mengapa, Hana, saya masih ada yang lainnya lagi. Bahkan bila mahu, awak boleh memegang kesemuanya. Saya rasa untuk sekarang card itu cukup untuk awak, saya percaya awak boleh.” Sahlan lagi-lagi meyakinkan Hana mau memegang apa yang diberikannya.
“Bagus,” balas Sahlan seraya tersenyum.
“Dahlah, saya mau sembahyang Zuhur, dah hampir nak lewat masa ni. Baik awak pun ikut saya,” ajak Sahlan pada Hana untuk melakukan ibadah. Tanpa pikir panjang, Hana pun mengikutinya dan beribadah.
***
__ADS_1
“Tengah tengok apa tu?” soal Sahlan pada malam harinya begitu selesai melakukan solat Isyak.
Hana yang tengah rebahan di ranjang seraya fokus menatap handphonenya, mengalihkan pandangannya begitu Sahlan bertanya. Ia pun menjawab, “Lagi liat anime. Dari semalam lebih saya tidak sempat melihat, baru ini saya teringat dan tengah senggang–teruslah saya menonton.”
“Anime?” tanya Sahlan memastikan dan menghampiri Hana serta ikut melihat.
“Iya, Kimetsu No Yaiba.” Hana menjawab masih fokus menatap handphonenya. Kini bukan hanya yang menyaksikannya, tapi juga pria yang berada di sampingnya, lebih tepatnya ikut berbaring telungkup sepertinya.
“Dah tamat buat hari ini, jumpa lagi hari Isnin. Aku kesal tau, tayang anime ini hanya 24 minit, sangat singkat!” keluh Hana pada Sahlan begitu film yang ditontonnya bersambung.
“Aku sangat cinta mati dengan tokoh utamanya, mereka semua kacak! Andaian saya dapat suami macam mereka,” celoteh Hana dengan mata berharap.
“Dasar husbu,” ujar Sahlan bernada mengejek seraya menyeringai.
“Cih, biar saya husbu dibanding awak yang gemar sangat dengan KPop!” balas Hana asal.
“Awak tau itu dari siapa?” tanya Sahlan terkejut sebab apa yang dikatakan Hana adalah benar.
__ADS_1
“Whatt?!” jerit Hana terperanjat, “serius yang kamu suka KPop? Bwahahahahahaha ... .”