
Hana yang kesal langsung bangun dan terduduk. Ia mau saja keluar dari kamarnya meninggalkan si berengsek Sahlan
“Kamu ni tak lelah? Tak penat? Sejak tadi kita bolak balik dari kamar ke sana, lalu dari sana kemari. Saya butuh istirahat dengan ditemani awak, saya memohon kepadamu.” Sahkan meluahkan apa yang kini dirasakannya setelah jenuh bolak balik sejak tadi.
Hana yang mendengarnya menghembuskan nafasnya kasar, mengapa ia tidak memahami hal itu. Kalau diikutkan hatinya pun ia tidak mau untuk menyusahkan Sahlan, tapi karena ego yang senantiasa bertandang membuatkan dirinya bertingkah kesal.
“Hana, maafkan saya ya?” pinta Sahlan memohon untuk kemaafan dari Hana.
“Atas dasar apa awak meminta maaf dari saya? Apa kesilapan yang kamu perbuat?” tanya Hana seraya menghampiri suaminya.
“Maaf kerana saya telah membuat kamu sakit hati, jujur saya tidak bermaksud untuk sengaja, saya juga terkejut karena dia melakukan hal itu secara tiba-tiba.”
“Itu adalah kesalahan saya, tapi itu juga bukan sepenuhnya saya mau atau berniat. Saya janji tidak akan berbuat atau bertingkah semacam itu lagi, juga saya dan dia sekarang telah melaju pada jalan kami sendiri. Sekarang saya mau berjalan bersama kamu dalam hidup yang sama,” luah Sahlan tulus.
Hana yang menatap mata Sahlan dengan intim masih mencari kebenaran dibalik mata suaminya, mencari akan kejujuran yang nyata dan ketulusan yang bukan sekadar fana.
__ADS_1
“Tolong jangan meragukan saya lagi!”
“Kamu yakin, kamu ingin dengan saya? Meninggalkan segala kenangan yang ada bersama wanitamu itu? Ini adalah sebuah hubungan, jangan pernah awak permainkan.”
“Lagi satu, bukankah yang awak sendiri yang mengatakan bahawa kita tiada apa hubungan apa pun, dan perkahwinan kita ini hanyalah nama? Mau dikemanakan kata-kata awak?”
“Perbuatan awak waktu itu memang menyakitkan saya kerana apa yang berlaku di antara awak dan dia tampak di hadapan mata saya. Bukan kerana saya yang mempunyai perasaan tetapi kerana saya yang merupakan istri awak diperlakukan seperti itu terlebih lagi di hadapan wanitamu,” terang Hana masih menatap Sahlan lekat.
“Maafkan saya, saya betul-betul tidak ... ”
Sahlan menunduk malu dan sedih, penuh rasa bersalah dirinya kini tidak mampu menatap Hana. “Saya benar-benar menyesal kerana sikap saya kepada Hana ... saya benar-benar menyesal! Sikap saya kepada awak benar-benar buruk, saya sama sekali tidak dapat menjadi baik dan menjadi teladan bagimu padahal secara status saya adalah suami, bahkan gurumu sendiri.”
“Saya ... ,” lirih Sahlan yang tidak sanggup melanjutkan ucapannya, bahkan tanpa sadar air matanya telah menetes dari pipinya.
Hana yang kecewa mencuba mengukir senyuman begitu melihat air mata Sahlan, ia meraih jemari Sahlan untuk digenggamnya. Ia mengatakan, “Sekarang apa yang mau awak lakukan?” tanyanya.
__ADS_1
Sahlan yang sedikit terkejut akan genggaman dari Hana dan ucapannya, mulai menjawab pertanyaan isterinya. “Saya mau maaf dari Hana,” ucapnya, “dan saya ingin menjadi suamimu yang sebenarnya. Saya mau bersama kamu selamanya, sampai bila-bila!”
Hana memeluk Sahlan langsung, “Maaf kan saya juga!” cakap Hana sedikit isak dan pelukan yang dibalas oleh Sahlan pada akhirnya.
“Maaf, Hana! Maafkan saya yang selama ini jahat pada istri saya sendiri, saya benar-benar sayang kat awak!” sahut Sahlan menciumi pucuk kepala Hana bertubi-tubi, dilanjutkan dengan ciuman yang berlabuh pada pipi cubby istrinya.
***
Begitulah kehidupan kadang di bawah, kadang pula di bawah tanah ... ups, mengarut pula saya mwehehhe ...
...----------------...
...Kehidupan kadang pahit, namun dibalik pahit-Nya masih ada kasih yang akan diberi sebagaimana upaya kita menghadapi dengan benteng keteguhan dan kesabaran yang ikhlas dan tulus di hati 🌹...
...----------------...
__ADS_1