
“Bang!” panggil Hana, “mana laptop yang abang nak pinjamkan ke Hana, nih?!”
Saat puas melihat kamar baru yang akan ia tinggali, Hana memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia pun berinisiatif untuk meminjam laptop Sahlan yang akan ia pakai.
Di saat keluar, Hana melihat Sahlan bersama seorang ibu-ibu yang diperkirakan lebih muda dari ibunya, tengah mengemas barang-barangnya.
“Eh, anak mana yang kau bawa dari kampungmu tu, Lan?” tanya Bu Indah pada Sahlan dan terpaksa menghentikan kegiatannya.
“Ouh, maaf saya terlupa pula. Bu, ini Hana ... Hana, ini Bu Indah, tetangga sebelah rumah abang.” Sahlan memperkenalkan Hana dan Bu Indah bersamaan.
“Wah, Hana ni pasti adiknya Mas Sahlan, ya? Ayu'ne temen lah!” puji Bu Indah yang mengira bahwa Hana adalah adik perempuan Sahlan.
“Eh, bukanlah, Bu. Ini istri saya,” terang Sahlan membenarkan kesalahpahaman Bu Indah.
__ADS_1
“Hah? Istri? Mas Sahlan, menikah? Dengan Mbak yang ini?” tanya Bu Indah yang terkejut akan jawaban Sahlan.
“I-iya, Bu.” Sahlan menjawab seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Hana yang sejak tadi terdiam, hanya mampu untuk menyaksikan pembicaraan Bu Indah dan Suaminya.
“Lah, serius? Kenapa saya nggak diundang? Terus juga, ini Mba Hana keliatannya umurnya masih muda, kayak anak sekolahan toh, Mas?”
“Maaf, Bu. Bukan tidak mau mengundang, hanya saja pernikahan kami dilangsungkan dengan sederhana, sampai-sampai tidak banyak yang mengetahui pernikahan kami. Untuk usia, memang saya menikahi anak SMA kelas dua yang terbilang masih terlalu muda, sebab itu juga yang menjadi alasan saya tidak mengundang ibu. Sekali lagi maaf ya, Bu.” Sahlan menjawab tenang pertanyaan Bu Indah yang seperti peluru senapan.
“Yah, mau gimana lagi Bu. Saya kecantolnya ama istri saya ini, hehehe ... soal adeknya Bu Indah mungkin belum jodoh sama saya,🤣” canda Sahlan yang justru membuat Bu Indah percaya.
“Kalau saja tau masnya sudah kebelet nikah, bakalan saya kasih kabar tanggal baiknya dengan adek saya. Tapi karena betul apa yang mas bilang barusan, yaitu bukan jodoh. Saya cuma bisa kasih hadiah ucapan Happy Marriage untuk Mas Sahlan dan Mba Hana. Semoga langgeng pernikahannya, sakinah, mawaddah, dan warahma ya!” harap Bu Indah akan pernikahan Sahlan dan Hana agar menjadi semakin bahagia.
__ADS_1
“Aamiin ...,” balas Sahlan mengaamiinkan.
Ekhem ...
Hana berdeham karena tidak tau harus berbuat apa di saat pembicaraan Sahlan dan Bu Indah yang akrab hingga membuatnya hanya mampu menyaksikan.
“Eh, sampe lupa kalau ada istrinya hihi,” ucap Bu Indah, “saya berhenti bantu mas Sahlan kemas-kemas, ya? Saya mau ngobrol-ngobrol sama Mba Hana saja.”
“Wah, berarti jatah oleh-oleh jadi hangus lah ya, Bu?” kelakar Sahlan tertawa kecil.
“Wah, kok gitu, Mas? Ndak terima saya,” sahut Bu Indah yang mudah terpancing.
“Wahahaha ..., saya guyon ae tah, Bu. Oleh-oleh bakal tetap saya kasih walaupun tadi nggak dibantu sama Bu Indah. Secara mama saya dah ngancam saya kalau nggak kasih oleh-oleh titipannya ke Bu Indah.” Sahlan tetawa sekaligus memberitahu pada Bu Indah akan oleh-oleh yang dibawanya.
__ADS_1
“Begitu ya, Mas. Kalau tahu begitu, saya mending duduk saja ngeliatin mas Sahlan ngeluarin oleh-olehnya.” Bu Indah tersadar seraya menghembuskan napasnya kasar karena lelah.
Sahlan hanya geleng kepala akan kejujuran bu Indah, ia melanjutkan merapikan barang-barangnya dari mobil serta membiarkan istrinya berbincang dengan tetangganya itu.