I Hate You!

I Hate You!
Eps 35: Pulang ke Rumah


__ADS_3

Hana tiba di depan rumah orang tuanya beserta koper di tangannya. Telah mendapat persetujuan dari Sahlan akhirnya ia dapat menginjak rumah kediamannya dahulu di kota B.


Cukup untuk sekarang, ia kini tidak perlu merasa sesak apabila berada di dekat dengan Sahlan. Ia akan kembali di sampingnya begitu beban di hati telah menghilang.


“Assalamualaikum,” salam Hana yang tentunya mengejutkan seisi rumah. Kedatangan yang tiada berkabar itu, membuat semua orang bertanya-tanya ditambah dengan tidak adanya suami putri mereka yang nampak.


Benar saja, pada malam harinya tepatnya selesai makan malam, seluruh anggota keluarga yakni ayah dan ibunya, mencecar Hana dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan. Ayah dan ibunya tidak menanyakan hal apa pun saat Hana baru tiba, mereka justru menyambut kedatangan putri mereka dengan senyuman ceria. Tapi kini?


"Kenapa Hana tak beritahu kami kalau awak nak ke sini?” tanya sang ayah.

__ADS_1


“Betul tu, kenapa Sahlan tak ikut? Awak ada masalah dengan suami awak?" timpal sang ibu.


“Boleh jadi, mak! Mustahil dia datang ke sini seorang diri, kalau bukan kerana bergaduh,” sambung sang ayah yang makin membuat Hana Jengah.


"Apa ni, please'lah! Papa, Mama... Hana tak nak cakap pasal tu sepanjang masa, aku kene tenangkan fikiran! Saya tidak mahu perlu memikirkan perkara lain," jawab Hana yang merasa kesal.


"Hanna tak kisah! Mama papa tahu Hana masih bersekolah! Kenapa tergesa-gesa nak kahwinkan aku dengan dia?! Saya kecik lagi, masih belum terfikir nak kahwin! Papa Mama tak sayang Hana?”


"Kawan-kawan Hana yang sebaya masih menikmati zaman mudanya, manakala Hana pula dipaksa untuk memiliki ikatan suci perkahwinan pada usia ini... Hana belum bersedia tetapi masih dipaksa untuk akur!" lanjut Hana nanar karena ingin menangis.

__ADS_1


"Tapi awak sekolah lagi, bukankah papa dan mama awak tak paksa awak berhenti sekolah dan hanya fokus mengurus rumah tangga awak, kan?" cakap sang Mama yang membuat Hana semakin benci keadaan.


"Okay, saya pergi bilik saya. Saya penat perlu berdebat dengan orang yang tidak memahami saya." Hana pergi meninggalkan keduanya dan menuju kamarnya.


Tengah ia merebahkan tubuhnya, tiba-tiba sebuah benda halus dan berbulu menyentuh kakinya, tak lain adalah seekor kucing. Hana melihatnya pun langsung meraih dan berkata, "Hisy..., saya sangat rindukan awak, Jordan!" ungkap Hana yang mengelus-ngelus kucingnya yang diberi nama Jordan.


Sang kucing hanya mengeong dan terlena akan belaian dari majikannya walahpun Hana terus meracau. “Awak tahu, bukan? Saya sangat merindui awak, saya sangat merindui nama awak. Saya tidak menyangka impian saya tidak tercapai. Sebaliknya saya mengalami kegagalan, terperangkap dalam masalah yang jauh lebih besar.” Hana menarik nafasnya perlahan, rongga dadanya seakan sulit untuk merasakan oksigen yang diterima, apakah sakit hati bisa sampai sebegini? Parahnya luka, tangisnya duka, mencintai dalam sepi tanpa bisa memiliki ... hanya menantikan hilangnya tirani dalam hati sang suami, yang terus bernaung dan menjadi sandaran hati suaminya.


Hana terus mengelus kucing kesayangan yang telah lama ia tinggalkan.

__ADS_1


__ADS_2