I Hate You!

I Hate You!
Eps 50: Milikku


__ADS_3

“Whatt?!” jerit Hana terperanjat, “serius yang kamu suka KPop? Bwahahahahahaha ... .”


“Teruslah nak ketawakan saya, bukan apa-apa hal saya suka KPop, tapi sebab mereka bertalenta. Lagi pula dari mana Hana tau saya sukakan itu?” soal Sahlan ingin tahu walaupun dirinya menahan malu.


“Sebetulnya dari awal memang saya tidak mengetahuinya, tetapi kerana abang sayang berucap mengejek macam itu–refleklah mulut saya ini keluarkan kata-kata tekaan.” Hana tertawa kecil karena tidak menyangka bahwa ucapannya yang asal merupakan sebuah fakta.


“Hisy ... bila tau tadi saya tidak akan menampakkan ekspresi tu,” ungkap Sahlan yang bernada menyesal.


“Lah, tiada mengapa pun. Btw, KPop yang mana yang awak minat?” tanya Hana lagi.


“Emh ... Black Pink, terutama Lisa. Saya suka dengan yang itu, bahkan masa dahulu saya pernah berangan menikahinya,” sahut Sahlan seraya tersenyum sendiri mengingat khayalannya yang dulu sewaktu masih kuliah.


“Dahlah, jangan nak mengarut lagi. Ini sudah malam, waktunya saya tidur dan memanjakan mata.” Hana meletakkan handphonenya ke atas almari kecil di samping ranjangnya.

__ADS_1


Sahlan yang tau akan hal itu, langsung mematikan lampu dan ikut berbaring di samping isterinya. Dalam keheningan malam Hana mengatakan, “Awak serius saya tidur satu ranjang dengan awak? Awak dah putuskan matang-matang yang awak betul-betul mahu beristerikan saya?”


“Kalau saya tidak mau, tidak mungkin yang aku dah anukan kau. Hana adalah murid abang di sekolah, tapi di rumah ... ”


“Awak milik saya sepenuhnya,” sambung Sahlan membalas ucapan Hana. Tidak cukup di situ, kini Sahlan mulai memeluk Hana erat dan menciumi kening wanitanya.


“Saya minta maaf karena telah menabur janji seolah-olah tidak mau menyentuh awak, saya ialah lelaki yang munafik sebab saya yang buat kesepakatan malam tu, namun saya yang dulu melampau.”


“Hati Manusia memang milik Allah,” lanjut Sahlan dengan mata yang menatap lurus pada mata Hana.


“Sebab itulah malam ini saya mau kamu,” balas Sahlan yang langsung mengubah ekspresi Hana.


“Tak nak! Kita dah buat malam tu. Saya masih SMA, macam mana bila saya justeru ... ”

__ADS_1


“Alah, saya buat malam ini aja. Saya mahu awak, please ... malam ni!” pinta Sahlan memujuk.


“Tidak! Sampai kita berkahwin sah di mata hukum saya baru akan memberi.”


“Kita sudah berkahwinlah, Hana. Bahkan surat-surat kahwin tengah saya urus sampai selesai, awak mesti bersabar.”


Hana yang tidak mau melakukan apa yang dipinta oleh suaminya langsung beranjak dari ranjang mereka dan berkata, “Kerana awak yang degil, malam ini saya tidur di kamar yang sebelumnya.”


Sahlan ingin menjawab ucapan Hana tetapi langsung diulti dengan kata, “Berani awak langgar, siap kau! Ingat, saya tidak mau lagi berhubungan dengan awak jikalau kita tidak sah lagi. Ini kahwin sirih, saya tidak mau mengundang fitnah dari orang yang tidak mengetahuinya.”


Sahlan langsung mati kutu saat pintu kamarnya ditutup keras begitu isterinya keluar dan berpindah kamar.


Senang sangat cakap cepat nak urus, memangnya mudah ke? Lagi pun kacang ke, membuat surat nikah yang mana pengantin wanitanya masih belum menggunakan KTP? Dunia mana?

__ADS_1


Sahlan hanya mampu menggerutu di dalam hatinya karena Hana yang tidak memahami hal mendasar itu. “Nasib menikah dengan bocil, apapun itu ... kau hanya milikku sorang,” gumam Sahlan pelan seraya menghembuskan nafas dan segera beranjak tidur.


__ADS_2