I Hate You!

I Hate You!
Eps 17: Hana merajuk


__ADS_3

“Salah kau sendiri, Sah! Bila tak bisa menepati maka tak payah buat engkau untuk berjanji pada wanita seperti Hana!” geram Sahlan kesal yang merutuki akan kebodohannya sendiri. Malam ini bisnisnya mendapat projek yang sangat bermanfaat bagi perusahaannya, sehingga menjadikannya alasan pulang larut malam dan melupakan janjinya terhadap Hana.


***


“Han? Masih marah lagi ke?” tanya Sahlan saat Hana masuk ke dalam mobilnya dan berdiam diri, “maafkan abang, abang sibuk sangat kemarin hingga terlupa akan janji pada Hana.”


Hana tidak mengacuhkan ucapan dari Sahlan dan lebih memilih memalingkan pandangannya ke luar jendela mobil. Akibat pengingkaran yang dibuat oleh Sahlan, ia tidak mengerjakan tugas Ipa yang diberikan suaminya. Mau Sahlan menghukumnya atau tidak nantinya, peduli apa?


Sampai dengan ke sekolah, Hana masih saja mendiamkan Sahlan. Hal ini membuat Sahlan menjadi hilang cara untuk membujuk Hana.


“You dah buat kerja Ipa belum, Han?” tanya Selin begitu temannya tiba di kelas.


“Belum,” jawab Hana datar.


“Lah? Itu tugas dari pak Sahlan kalau ngga dikerjain kamu inget kagak konsekuensinya?”


“Peduli apa?” balas Hana tak acuh.

__ADS_1


Selin menggelengkan kepalanya akan tingkah sensi yang dimiliki Hana. Selin mengambil sesuatu di dalam tasnya dan memberikan pada Hana, “nih!”


Hana melihat ke tangan Selin, “apa ni?”


“Buku Ipa, dalamnya ada jawaban tugas dari pak Sahlan,” jawab Selin tersenyum.


“Ish, tak payah lah. Tak acik bila jawaban engkau aku salin,” tolak Hana halus.


“Biarlah, aku tak mahukan girl friend aku kena berjemur di tiang bendera panas-panas. Nanti dia pengsan aku pula yang susah, ya tak?” balas Selin yang lagi-lagi tersenyum.


Hana yang mendapat perlakuan manis dari Selin, tanpa sengaja meneteskan air matanya.


“Kau ada masalah ke nih? Tak biasanya engkau macam ini, ada apa-apa yang dah jadi ke engkau ke, masa libur kemarin?” tanya Selin khawatir.


“Tak apalah, sahaja bertuah dapat girl friend baik macam engkau. Dulu aku tak ada kawan, tapi setelah jumpa dengan engkau semua itu berubah.” Hana tersenyum kecil dan tentunya perkataannya belum sepenuhnya dari yang ia rasakan.


“Yelah, dah tu tak perlu sad. Baik kau tulis cepat sebelum bel masuk nih,” ujar Selin mengingatkan.

__ADS_1


“Thanks ya,” Hana mengucapkan terimakasih atas Selin.


“Okay!”


***


“Pagi untuk semua murid,” sapa Sahlan pada siswa dan siswi di kelas Hana.


“Pagi juga, Pak!” sahut semua serempak dan penuh semangat kecuali Hana.


“Sebelum memulai pembelajaran di semester dua ini, bapak mahukan semua mengumpulkan tugas perdana yang bapak berikan kemarin.” Sahlan memerintahkan murid-muridnya untuk segera mengumpulkan tugas Ipa yang diberikannya. Ia tahu bahwa Hana tidak mengerjakannya, namun ia harus bisa membedakan apa yang harus dihadapi maupun dilakukannya.


Tebakan Sahlan seperti yang telah diduga oleh kita semua, bahwa. ia salah besar. Hana tidak bisa dihukum dikarenakan ia telah mengumpulkan tugas tepat berada di hadapannya.


“Hana dan Selin, huft .... Baguslah,” batin Sahlan yang akhirnya mengetahui bahwa Hana mendapatkan jawaban soalannya dari Selin.


Semua siswa siswi telah mengumpulkan apa yang diperintahkan, dengan inilah Sahlan akan menerangkan materi pada muridnya. Sahlan adalah guru pria termuda di sekolah ini, dan tentunya menjadi idola para girl di sekolah karena sikap dingin dan ketampanan yang dimiliki Sahlan.

__ADS_1


Hanya satu orang siswinya yang selama ini tidak pernah memerhatikannya, Hana. Siapa yang tidak menyangka bahwa ketampanannya masih belum bisa memikat hati Hana.


Justru dirinya yang malah memerhatikan Hana setiap kali melihatnya. Bahkan hanya dia seorang yang cuek terhadap setiap materi yang dijelaskannya selama ini, malah menatap keluar jendela. Namun Sahlan yakin bahwa pikiran Hana berkelana entah kemana. Satu hal yang juga memikat hati Sahlan akan Hana adalah warna mata yang dimiliki Hana. Seakan membawa pikirannya seperti terhipnotis ke dalam bola mata hitam pekat yang dimiliki Hana.


__ADS_2