
“Lepaskan, Abang!” pinta Hana memohon pada Sahlan seraya meringis kesakitan. Sahlan tetap tak bergeming dan semakin mencengkram kuat rahang isterinya. Hana yang diperlakukan sebagaimana itu, tidak sanggup berbuat apa pun, ia hanya mampu menangis dan memohon Sahlan melepaskan cengraman kuat dari Sahlan.
“Lepaskan, Abang! Hana memohon kepada abang untuk lepaskan Hana. Sakit, Bang! Hiks ...,” pinta Hana dengan menangis sesenggukkan namun masih belum cukup membuat Sahlan tersadar, hingga ketukan pintu rumah mereka yang terus-menerus diketuk.
“Jadi sebenarnya ini ada apa?” tanya Bu Indah yang memulai pembicaraan. Ternyata orang yang mengetuk pintu rumah Sahlan tak lain ialah Bu Indah dan suaminya. Setelah mempersilakan masuk, Sahlan juga mempersilakan Bu Indah dan Bapak Riyo untuk duduk.
Mungkin karena kebisingan dari pertengkaran Hana dan Sahlan yang membuat keduanya datang ke mari, dan itu telah teebukti saat Bu Indah bertanya.
“Haduhh ..., bocil jaman sekarang kalau ditanya ya, Mas Sahlan, Neng Hana!” ucap Bu Indah yang memanggil Sahlan dan Hana untuk mendengar ucapannya.
__ADS_1
“Saya tahu, kalau yang namanya rumah tangga orang itu nggak boleh untuk kita ikut campur. Tapiiii ..., ada tapinya!”
“Yang namanya hubungan ikatan pernikahan dari masing-masing pihak, baik itu dari istri atau pun pihak suami, alangkah baiknya, jika ada permasalahan itu diselesaikan secara perlahan dan juga kepala dingin. Tidak baik, jika sampai terdengar oleh tetangga!” sambung Bu Indah yang menasehati kedua pasangan muda di hadapannya.
Sahlan melirik Hana yang menundukkan kepalanya dengan bekas air mata di pipinya, ia silap karena emosi yang telah keluar dari jalur pengendaliannya.
“Satu lagi yang menjadi poin utama untuk Mas Sahlan. Mas, dengar ucapan saya!” titah Bu Indah yang membuat Sahlan mengangkat kepalanya untuk melihat Bu Indah.
“Mas harus dengar dan lakukan apa yang saya bilang,” ungkap Bu Indah yang menatap serius pada Sahlan.
__ADS_1
“Iya, Bu.” jawab Sahlan lirih karena merasa bersalah akan apa yang diperbuatnya.
“Mas Sahlan, saya minta untuk Mas sayangkan terhadap isterinya Mas Sahlan. Ingat ya, Mas Sahlan! Harus sadar yang Mas Sahlan ini adalah seorang suami, kepala rumah tangga dan bakal calon bapak dari anak-anak nantinya, Mas Sahlan tidak boleh berlaku kasar terhadap isterinya Mas Sahlan. Lihat istri, Mas!” ujar Bu Indah memberikan seribu nasihat untuk membuat Sahlan tersadar.
“Umur Istri Mas Sahlan ini masih kecil, liat Dia ini masih anak sekolah yang justru Mas nikahi karena cinta, benar? Seharusnya Mas Sahlan di sini tau, Mas Sahlan juga seorang guru, bukan? Berperilaku yang baik dan lemah lembut terhadap istri, Mas. Istri itu seorang perempuan, seorang perempuan itu hatinya lemah lembut dan mudah rapuh seperti gelas yang pecah apabila dipukul keras, sama halnya seperti kaca.” Bu Indah menjelaskan terhadap Sahlan.
“Dan untuk Mbak Haba,” lanjut Bu Indah giliran ke Hana, “Saya tahu Mbak Hana ini masih muda, tapi ... ada tapinya lagi!”
“Tidak ada halangan usia untuk seseorang menjadi dewasa. Sama seperti Mbak Hana, walaupun usia Mbak Hana masih belia, dalam sesuatu perihal atau keadaan bebarapa situasi ... Mbak Hana harus bisa menyesuaikan mana saatnya bersikap dewasa dan bersikap anak-anak!” sambung Bu Indah yang menyelesaikan ucapannya dengan satu kali hembusan.
__ADS_1