
“Hana masih mahu pulang!” ketus Hana pada Sahlan sesampainya di rumah dengan niat pergi ke rumah orangtuanya dj kota B.
“Apa nih, Hana? Tidak mungkin anda mahu mengambil cuti sekolah dan terlepas pelajaran sekolah anda. Tidak lama lagi awak akan ke PTS, saya tidak mahu lepaskan awak, walaupun pergi dengan saya sekalipun!” tolak Sahlan yang tidak kalah tegas.
"Terpulanglah, nak izin atau tidak, Hana tetap pergi. Tak kisahlah nak ikut atau tak!" kekal Hana yang keras kepala.
“Hana dengar cakap saya ... kalau saya kata tidak, maka jawapan saya tetap tidak!!” bentak Sahlan tanpa sadar terhadap Hana hingga membuat wanita di hadapannya terkejut bukan main.
“Saya benci awak!” sentak Hana dan langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintunya.
__ADS_1
Sahlan yang tak habis fikir, dengan amarah ia memukul dinding di sampingnya dengan amat keras. Sejak hari-hari itu, ia tidak bisa mentolesir Hana yang makin hari menjauhkan diri padanya. Setiap kali ia bertanya, selalu jawaban dingin yang didapatkan. Ia tidak mengetahui apa hal yang membuat wanita tersebut sampai sejauh ini terhadapnya.
Hingga malam harinya, Hana masih juga belum mau membuka pintu kamar untuk menampilkan batang hidungnya pada Sahlan. Sahlan berfikir, apakah wanita itu tidak membersihkan tubuh atau sembahyang? Jelas-jelas kamar mandi di rumah ini hanya satu-satunya yang ada.
Sahlan yang tengah makan malam sendiri di dapur pun merasa hambar, ia menghentikan suapan di mulutnya yang baru sebiji dan menuju kamar isterinya. Baru saja hendak mengetuk pintu, sang empunya telah pun membukanya secara tiba-tiba.
“Minggir!” bentak Hana saat Sahlan menghalangi jalannya. Sahlan yang mendengarnya, hanya mampu menurut seraya mencuba mengontrol emosinya agar tidak meledak karena sikap Hana yang terkesan kasar padanya.
“Tak mahu,” jawab Hana selamba.
__ADS_1
"Tapi awak belum makan tengah hari, ia tidak baik untuk kesihatan awak." Sahlan masih mencoba membujuk Hana dengan sepenuh hatinya.
“Tidak, saya masih kenyang!” Hana menolak dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Sahlan yang habis kesabaran terhadap Hana, menarik paksa selimut yang menutup tubuh Hana.
“Apa ni, hah?!!” hardik Hana yang langsung terduduk. Sahlan yang tidak menjawab atau pun berkata apa pun, kembali menarik paksa Hana dan membawanya ke dapur. Ia mendudukkan Hana di kursi dengan sorot mata yang dingin dan penuh ketajaman. Tak bisa dinafikan bahwa Hana sedikit takut akan tatapan Sahlan, namun ia pura-pura untuk tetap berani akan sikap kasar dari Sahlan.
“Apa ni, awak paksa saya?! Saya dah cakap saya tak nak makan, awak pekak ke?!” bentak Hana yang semakin membuat situasi semakin memanas.
Sahlan menggebrak meja dengan keras sambil menatap tajam ke arah Hana. "Cakap sekali lagi kalau abang ni pekak, cakap!!!" bentaknya pada Hana dan berdiri sambil mencekram rahang Hana kuat. Hana yang mendapatkan perlakuan kasar dari Sahlan untuk pertama kalinya, membuat nyalinya ciut dan kini merasa ketakutan.
__ADS_1
“Cepat cakap abang pekak! Awak suka kalau saya kurang ajar ataupun berlaku kasar macam ni dengan awak, kan?!” aura dingin dan mencekam dari Sahlan yang tengah emosi kali ini membuat Hana menangis sambil mencuba untuk melepaskan cengkraman Sahlan padanya.
“Lepaskan, Abang!” pinta Hana memohon pada Sahlan seraya meringis kesakitan.