I Hate You!

I Hate You!
Eps 20: Hubungan Baik


__ADS_3

Hubungan Hana dan Sahlan semakin membaik setelah lurusnya pertengkaran mereka yang kini telah usai. Hari-hari berlalu membuat keduanya saling memahami satu sama lain. Walaupun masing-masing masih belum bisa menerima akan perasaan mereka, setidaknya kedua pasangan ini masih memiliki komunikasi yang baik.


Dari Sahlan ia menganggap biasa Hana sebagai muridnya di sekolah, dan di rumah ... walaupun status sebagai istri ia menganggap Hana seperti adiknya sendiri. Sementara Hana, sama halnya saat di sekolah menganggap Sahlan sebagai gurunya, dan di rumah ia memang merasa selalu membutuhkan Sahlan di sisinya.


“Hana masak tumis kangkung,” ucap Hana seraya menyajikan masakannya ke piring Sahlan beserta nasinya.


“Terimakasih, Hana. Abang bersyukur sebab dapat rasa masakan Hana yang semakin hari semakin sedap. Yah, walaupun terkadang masin sedikit.” Sahlan menyuap masakan Hana dengan khidmat.


Hana yang mendengar pujian dari pada suaminya teramat sangat bahagia. “Yelah, bang!”


Saat keduanya asik bercengkrama, telepon berdering dari handphone dengan corak gigitan apple yang merupakan milik Sahlan. Sahlan menghentikan pergerakan tangannya menyuap nasi ke mulutnya, ia segera mencapai IPhone untuk menjawab talian telepon dari pada seseorang.


Melihat nama yang tertera di layar, Sahlan mengernyitkan dahinya sebentar lalu meminta izin kepada Hana, “Abang kena jawab telepon dari perusahaan abang, abang misi dulu, ya.”

__ADS_1


“Okay!” sahut Hana mengangkat bahunya seraya tersenyum dan melanjutkan menyuap nasi ke mulutnya.


“Halo,” sapa Sahlan datar saat ia telah berada di depan rumahnya untuk menjawab telepon dari pada seseorang tadi.


“The rooster coffee company,” ujar Sahlan yang menyebutkan sebuah tempat di kota J, “Aku jumpa kau kat sana pukul 12.00.”


“Oke, jumpa kat sana! Hmm,” balas Sahlan yang akhirnya menutup talian telepon.


Ternyata Sahlan akan melakukan temu janji dengan orang yang berada di talian tadi, ia segera menghampiri Hana yang telah usai makan dan tengah mencuci piring.


“Abang ada temu janji dengan rekan business abang, barusan asisten abang telepon dan kasih pemberitahuan tu. Hana larat?” lanjut Sahlan yang menjelaskan pada Hana saat melihat istrinya sedikit curiga.


“Ouh, pergilah. Hana tak larat pun,” balas Hana dan kembali melanjutkan perkataannya, “lagi pun abang kan buat kerja bukan nak temu dengan selikuhan, ye tak?”

__ADS_1


“Ha'ah, abang busy dengan masalah kerja. Kalau macam tu, abang kena pergi sekarang!” pamit Sahlan seraya menepuk lembut rambut Hana seperti adiknya sendiri.


“Iya,” sahut Hana, “eh ... Hana pun terlupa nak minta izin abang untuk jumpa dengan teman Hana. Boleh, Hana pergi?”


“Oke!” jawab Sahlan dengan segera tanpa menanyakan ke mana istrinya pergi.


“Abang pergi, Assalamualaikum!” salam Sahlan dan segera pergi tanpa mendengar jawaban dari pada Hana akan pamitnya.


“Waalaikumsalam,” balas Hana menyahut pelan karena yakin suaranya tidak akan terdengar suaminya yang telah terburu-buru untuk segera pergi.


Sebetulnya, Hana sedikit pelik dan curiga dengan Sahlan yang sepertinya amat sangat terburu untuk pergi. Siapa rekan business Sahlan, apakah dia adalah seorang wanita? Atau kekasihnya?


“Astagfirullah hal'azhim!” tegur Hana mengingatkan dirinya untuk beristigfar karena perasaan dan pikirannya.

__ADS_1


“Tak boleh jadi, nih!” seru Hana, “tak baik tau, nak letak curiga, sikit-sikit curiga, taubatlah kau, Hana!”


“Kan baik kalau aku sambung selesaikan kerja rumah aku ketimbang nak fikir hal yang macam-macam, ” ucap Hana dan kembali melanjutkan pekerjaannya mencuci piring. Ia harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya dan harus segera bersiap untuk bertemu dengan Selin. Keduanya telah melakukan janji untuk pergi bersama di free day hari ini, terserahlah mahukan ke mana, janji keduanya dapat bersenang-senang.


__ADS_2