
Sahlan keluar dari rumah Hana dan mencari tempat yang cocok untuk mulai menghubungi kekasihnya, berulang kali ia mencoba menyambungkan talian telepon. Namun, selalu saja tidak terjawab padahal number kekasihnya ini aktif. Sahlan semakin merasa frustasi dan pusing memikirkan masalahnya yang cukup sulit untuk kali ini.
“Damn!” geram Sahlan saat panggilannya tidak terjawab. Ke mana perginya kekasihnya itu sampai-sampai tidak menjawab panggilan darinya.
***
“Bagaimana para saksi, sah?” suara pak Penghulu yang berada di pelaminan Sahlan dan juga Hana.
“Sah!!” teriak semua orang yang berada di rumah Hana.
Sahlan dan juga Hana tidak pernah menyangka bahwa pernikahannya akan berlangsung secepat ini. Tanpa adanya pertunangan ataupun lamaran, keduanya kini benar-benar menikah. Beberapa hari lalu, tepatnya saat Sahlan dan keluarganya berkunjung ke rumah Hana .... Kedua belah pihak memang benar-benar memutuskan untuk lusa mengadakan pernikahan keduanya, yakni hari ini.
__ADS_1
Walaupun dengan ikatan pernikahan siri, tetapi keduanya secara agama memang sah walaupun dengan cara tertutup dan tidak banyak diketahui oleh orang lain. Sahlan pun belum sempat memberitahu Dahlia akan pernikahannya kali ini. Ia tidak bisa menolak, tetapi ia sebenarnya tidak ingin menyakiti kekasihnya, ia tau sekarang ia tidak lagi berhak memiliki Dahlia.
Setelah keluarganya mengetahui bahwa Sahlan dan Hana berada di sekolah yang sama, mereka justru lebih merasa aman dan senang mengetahui kebenaran ini. Dengan adanya pernikahan yang dilangsungkan secepatnya, maka keduanya akan dapat saling menjaga satu sama lain di sekolah sehingga keluarga masing-masing tidak saling mencemaskan putra-putrinya.
Hana tidak mampu berbuat apa-apa, ia hanya mampu untuk menurut kali ini. Demi kebahagiaan keluarganya dan wasiat dari almarhum kakeknya.
Di kamar Hana, saat malam tiba, Sahlan masuk untuk berganti pakaian. Hana yang juga ingin melakukan hal sama, terlonjak kaget saat Sahlan masuk ke kamarnya tiba-tiba.
“Pak Sahlan mau ngapain?” tanya Hana waspada dengan mendelik tajam.
“Bohong eee ..., Ai tahu bahwasanya Pak Sahlan mahukan saya, ya tak?”
__ADS_1
Sahlan mendekati Hana dengan tatapan seperti ingin melakukan sesuatu, hal ini semakin membuat Hana waspada. Bagaimanapun ia masih belum siap, mau dikemanakan sekolahnya jika hal yang berada di otaknya sekarang, benar-benar terjadi.
Sahlan maju mendekati istrinya, sementara Hana terus memundurkan tubuhnya menjauh hingga terhenti karena menatap dinding kamarnya.
Jantung Hana berdetak dengan kencang tak teratur saat mata Sahlan dan matanya saling beradu. Sangat dekat hingga Hana mampu merasakan hembusan nafas Sahlan di wajahnya.
“P-pak Sahlan, apa nih! Jangan apa-apa kan Hana. Bapak tak mau kan? Bila Hana terkena gosip sekolah jika sampai Hana hamidun maka Hana cakap bahwa Bapak yang buat Hana macam tuh!” ucap Hana terbata-bata dengan tubuh yang dikekang oleh Sahlan di dinding.
Sahlan yang mendengar ucapan mengawur dari Hana langsung menjauh kan wajahnya sembari menatap Hana sedikit geli. Bisa-bisanya pikiran dari wanita di hadapannya sampai pada hal yang tidak diduga.
“Apa?!” ketus Hana sok berani, “Pak Sahlan tak payah tertawa macam tu, ha! Hana tak tengah gurau, eee ....”
__ADS_1
“You punya otak isi negatif, cuci tu. Hshahaha ..., ai tak sangka punya murid stupid macam you.” Sahlan tertawa gelak sampai-sampai terduduk di ranjang Hana yang telah dirias seperti ranjang pengantin baru pada malam pertama.
Hana menggaruk kepalanya dengan sedikit malu, namun ia menyembunyikan ekspresi wajahnya.