
“I bertanya dengan serius, apa yang kita lakukan di sini?” tanya Hana yang telah memasang wajah serius dan penuh ancaman.
“Abang nak jumpa sekejap dengan kawan bisnes di hotel ni, awak ni tak boleh bawa saya bergurau sikit.” Sahlan tersenyum melihat Hana yang hanya terdiam setelah mendengar jawabannya.
Sahlan sebenarnya heran akan teman bisnisnya yang mengajaknya untuk bertemu di hotel, tak seperti biasanya. Namun kepelikan itu ditepiskannya kerana berfikir temannya akan membahas bisnis secara khusus di hotel ini agar urusan kantor meraka terselesaikan.
Sahlan bertanya kepada petugas resepsionis untuk menunjukkan kamar yang dituju oleh mereka untuk melakukan pertemuan. Sementara Hana hanya diam di belakang Sahlan untuk mengikutinya ke mana pun pergi.
“Jom! Ikut abang ke atas,” ajak Sahlan yang langsung memegang tangan Hana dan membawanya ke kamar no. 201 di lantai 8.
Hana menurut dan membiarkan Sahlan membawanya. Dengan menggunakan lift, mereka akhirnya sampai di tujuan dan bertemu dengan teman bisnis yang dikatakan oleh Sahlan.
“Lah, dengan siapa yang engkau nih?” tanya seorang lelaki begitu Sahlan dan juga Hana di kamar tersebut.
“Is—”
“Sepupu!” jawab Sahlan yang hampir keceplosan untuk mengatakan yang Hana adalah istrinya. Hana melirik Sahlan sebentar begitu Sahlan mengenalkan siapa dirinya di hadapan teman bisnisnya. Kecewa? Tentu.
“Wah, biar betul Dia sepupu awak?” tanya lelaki itu lagi untuk memastikan yang dikatakan oleh Sahlan adalah betul.
__ADS_1
“Iya.” Sahlan menjawab tak berekspresi.
“Hai, kenalkan saya, Andriansyah!” sapa Andrian kepada Hana dengan mengulurkan tangannya.
“Hana,” jawab Hana dengan menyambut jabat tangan dari Andrian padanya.
“Hana?”
“Farhana Aleentina.” Hana mengenalkan nama lengkapnya saat Andrian bertanya.
“Wah, nama cantik ..., orang banyak manis!” puji Andrian yang membuat Hana sedikit tersenyum dan menunjukkan wajah kemerahan karena malu.
“Dah tu, buat apa kau ajak aku jumpa sini, ha?” tanya Sahlan yang memotong perbualan antara Andrian dan Hana.
“Ish, kau ni kacau aja lah. Tapi tak apa, sebab kau dah bawak adik manis ni ke depan aku.”
“Saya jumpa awak sebab saya nak bincang laporan projek kita semalam, saya ada kat sini dengan asisten awak. You faham?” lanjut Andrian yang menerangkan sepenuhnya untuk tujuan ia mengundang Sahlan ke hotel.
“What? Dengan Asisten I?” Sahlan terbelalak kaget karena ucapan dari Andrian, Hana yang melihat ekspresi Sahlan langsung menjuling matanya pelik.
__ADS_1
“Ha'ah, you're asisten.”
“Andrian! Ini fail yang awak tanya saya, penat saya menelefon awak tetapi awak tiada jawapan untuk membantu saya membawanya dari bawah!” ucap seorang wanita begitu masuk ke dalam kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
“Eh, Encik Alan?” wanita itu terkejut begitu melihat Sahlan yang telah berada di sana. Selain melihat Sahlan, wanita itu juga melihat Hana yang dengan tatapan meneliti dari bawah hingga ke atas seraya mengerutkan kening kemudian ia mengalihkan pandangannya dengan sedikit dengusan kecil.
“Hmm,” jawab Sahlan berdeham kecil.
“Biar betul kau ni, Lan? Awak biasanya tidak mengabaikan you're girlfriend apabila anda bertemu dengannya,” selidik Andrian yang sebenarnya berupa usikan. Sahlan dan wanita tersebut hanya dingin dan saling mengalihkan pandangan mereka dan tidak bertatapan.
“I do work professionally,” sahut Sahlan yang masih dengan ekspresi datar. Hana yang melihat interaksi antara Sahlan, Andrian dan wanita itu, semakin pelik melihatnya dan memilih menyaksikan kelanjutannya dengan posisi terdiam.
“Ini filenya,” ucap wanita tersebut yang hendak menyerahkan file kepada Andrian.
“Sebelum membahas tentang projek, mari you kenalkan diri pada kerabat Encik Sahlan ini,” cakap Andrian yang meminta wanita itu untuk memperkenalkan dirinya pada Hana.
Wanita itu menurut dan mulai menghulurkan tangannya ke arah Hana, sama halnya Hana pun menyambut uluran tangan dari wanita tersebut.
“Hana,” ... “Dahlia!”
__ADS_1