I Hate You!

I Hate You!
Eps 7: Flashback On~Rumah Mak Cik dan Pak Cik Keluarga Hana


__ADS_3

Setelah usai berbicara dengan putranya, papa Sahlan langsung berdiri meninggalkan ruang keluarga dengan perasaan yang tiada satu pun orang yang tau.


Sementara Sahlan yang tidak bisa berkata apapun dihadapan papanya barusan, hanya mampu menghembuskan nafas frustasi.


Dia menatap mamanya dan berkata, “Mama ... serius lah! Sahlan tak nak bila berkahwin dengan perempuan yang umurnya kecil dari Sahlan.”


“Teruslah Sahlan nak yang umurnya lebih tua dari Sahlan ke?”


“Aih bukan begitu lah, Mama! Maksud Sahlan yang pautan usianya sebanding, bukan selisih umur sepuluh tahun. Sahlan tak nak lah, Mama!” rengek Sahlan agar mamanya mampu membujuk papanya.


“Bukan sepuluh tahun lah, Sah. Tujuh tahun je, terus ni kan malah bertuah di Sahlan seorang ... dapat bini muda, ye tak?”


“Mama!!” kesal Sahlan yang tidak tertarik dengan candaan mamanya.


“Yelah, sory. Kalau macam tuh Sahlan tengoklah esok, ya?” saran mamanya pada Sahlan.


“Tapi kan, Mama! Sahlan nih, dah a—”

__ADS_1


“Ya dah, mama nak kat bilik Gisyam dulu.” Tanpa mendengar perkataan Sahlan yang selesai, mama Sahlan justru memotongnya dan memilih pergi meninggalkan putranya seorang diri.


“Ya Allah ..., macam mana lah ini?!” keluh Sahlan penuh putus asa.


***


“Ini rumahnya, ke?” tanya Sahlan memastikan pada mamanya saat tiba di sebuah rumah yang sederhana namun terasa nyaman, baik melihat sekeliling rumah maupun merasakan udara segar nya. Sahlan, adiknya, mama serta papanya baru saja tiba di kota B kemarin malam, dan hari ini mereka tiba di rumah ini yang merupakan tempat tujuan mereka.


“Huum, Sahlan bersabar nih, nanti bisa tengok calon istri Sahlan.” Mamanya menjawab pertanyaan putranya dengan sedikit candaan, namun tidak bagi Sahlan yang menjadi kesal. Lagi-lagi itu perkataan mamanya, ia benar-benar buntu untuk menentukan solusi dari masalahnya kali ini.


“Abang?! Tengok sini lah!” teriak Gisyam yang merupakan sang adik, “ada banyak ikan kat sini.”


“Bagus ya, Bang? Gisyam mau ikan ini, Abang!” pinta sang adik memohon pada kakaknya.


"Okelah, apapun yang Adik minta ... akan Abang wujud jika itu bisa. Nah, sekarang kita tengok saja dulu lah, ya?” jawab Sahlan dengan lembut, “pulang nanti kita izin ke pemilik rumah untuk bawakan sedikit buat adik. Bila tak dibolehkan, kita bisa beli di jalan pulang nanti bila ada.”


“Tapi, Bang! Adik nak yang di sini, bukan ikan yang lain. Abang harus bisa bawakan ikan yang di kolam ini buat Gisyam, kalau tak? Adik merajuk nih, tau!” kekeh Gisyam yang permintaannya harus dilaksanakan.

__ADS_1


“Dasar bocil kematian!” batin Sahlan akan keras kepalanya sang adik.


Tanpa diduga, ternyata keduanya telah menghabiskan waktu yang cukup lama ... sampai-sampai Mama Sahlan memanggil keduanya untuk segera masuk ke dalam rumah.


Ternyata sang pemilik rumah telah mempersilakan dan menyambut kedatangan mereka sejak tadi. Sahlan dan Gisyam akhirnya memasuki rumah sederhana namun nyaman dipandang bila di mata.


Tak banyak hal yang menarik di netra Sahlan, namun terdapat foto-foto yang dipajang sehingga membuatnya melihat satu persatu. Tatapan Sahlan terpaku terhadap sebuah foto yang nampak dipajang lama ... sekitar enam belasan tahun lalu, di mana menampakkan seorang anak laki-laki dengan beberapa orang yang berpose. Perkiraan di dekat kolam tadi yang dijadikan sebagai background pada foto ini.


Sahlan yakin bahwa anak laki-laki itu adalah dirinya, ada papa-mamanya, almarhum kakeknya, benaknya dan masih banyak lagi yang diyakininya adalah pemilik rumah ini. Namun, Sahlan paling tertarik terhadap bayi kecil yang diperkirakan umur 1 tahun serta berada di dalam dekapannya kemungkinan adalah ...


“Hana ....” Tanpa sadar Sahlan mengeluarkan nama itu dari mulutnya. Sahlan yang menyadarinya pun langsung mengusap wajahnya.


"Eh, Sahlan, apa pula berdiri tu? Sinilah salim dengan Pak Cik dan Mak Cik!” panggil mama yang membuat Sahlan mengikuti arahan mamanya.


“Eh, ini budak kau, ke? Handsomenya!” puji seorang wanita yang tak lain adalah Mak Cik Tia.


“Ha'ah, aku tahu budak aku nih handsome. Kkkkk ...,” jawab mama Sahlan percaya diri.

__ADS_1


“Marilah Sahlan salim dengan Mak Cik, ai dah rindu sangat dengan you, Sahlan!” seru Mak Cik Tia meluahkan isi hatinya kepada Sahlan dan mengacuhkan kepercaya dirian mama Sahlan.


__ADS_2