
“Apa nih, Hana? Bertenang, Hana, tenang!
Sahlan yang baru saja tiba di rumahnya, langsung panik dan lari masuk ke dalam rumah saat mendengar teriakan istrinya.
“Jangan apa-apakan aku lah hantu! Aku tak ada ganggu kau lah, daging aku tak sedap nih buat kau makan!” Hana berontak memukul-mukul apa yang memegang bahunya seraya memejamkan matanya erat, tak luput dari air mata yang terus mengalir deras di pipinya.
“Bertenanglah, Hana. Ini Abang lah, abang Sahlan milik Hana! Bertenang, Hana, tak ada yang akan apa-apakan Hana. Ada abang di sini,” ucap Sahlan yang mencoba menenangkan istrinya.
Hana yang masih belum dapat menenangkan dirinya sendiri, terpaksa membuat Sahlan memeluk erat Hana dan mengelus rambut serta menciumi pucuk rambut atau kepala istrinya.
“Bertenang, Hana!” seru Sahlan lagi yang mencoba menenangkan istrinya.
“Ini betul Abang Sahlan, ke?” tanya Hana yang memastikan kebenaran dari apa yang Sahlan ucapkan.
“Abang Sahlan lah,” jawab Sahlan yang membenarkan Hana.
“Ih, Hana takut lah! Hana takut sendiri lah, Bang. Abang jahat! Apa pula tinggalkan Hana seorang? Di sini gelap lah, Hana takut sangat, Abang tega! I hate you, Bang!” rajuk Hana yang masih sesekali menangis sesenggukan.
“Iyalah, sorry. Abang minta maaf, lain kali Abang tak akan pulang lambat, pulang pagi aja lah ye? Hahaha ...,” canda Sahlan yang mencoba menghibur Hana agar tidak menangis lagi.
__ADS_1
“Ih, Abang! Hana tak mau lagi lah bercakap dengan Abang, Hana kesal dengan Abang! Pergi tak pamit, pulang malam! Berdua dengan Dahlia lah tuh,” runtut Hana, “udahlah, Bang. Tak payah peluk Hana macam ni, Hana sakit hati dengan Abang. Pergi, Bang! Jangan ke sini, jangan di kamar Hana lah! Keluar bang!”
Sahlan yang menyadari bahwa candaannya justru memperkeruh suasana, hanya mampu menggaruk tengkuknya.
“Pergilah, Bang!” usir Hana mendorong dada Sahlan pelan.
“Sabarlah, Hana. Bertenang, Abang kelakar je,” alih Sahlan mencoba membujuk Hana.
“Abang jahat! I hate you, Bang, i hate you! Pergi, Bang ..., cepatlah!” kali ini Hana mendorong Sahlan keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ia sampai melupakan bahwa saat ini tengah listrik padam sehingga menimbulkan mati lampu di wilayah sekitarnya.
“Eh, Hana. yakin nih, nak usir Abang ... tak takut ke mati lampu?”
Kembali Sahlan menggoda istrinya di depan pintu kamar. Hana yang menyadarinya pun otomatis langsung berteriak dan menutup telinganya.
“Eh cup, Hana. Buka pintunya, sementara mati lampu nih Hana dengan Abang, nanti bila dah nyala ... Hana boleh tidur seorang lagi. Nak?” bujuk sahlan yang membuat Hana melakukan apa yang ditawarkan suaminya.
Hana langsung menghampiri suaminya yang berdiri tepat di hadapan pintu kamarnya.
“Abang, Hana takutlah!” seru Hana sambil memeluk sahlan.
__ADS_1
“Cup, Hana. Tenanglah, Abang gurau je pada Hana, tak ada apa-apa pun.” Sahlan melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Hana serta membawanya menuju dapur dengan sebelah tangan yang meraba-raba.
Di dapur ia akhirnya menemukan sebuah senter dan kemudian dinyalakannya.
“Dah terangkan?” tanya Abang.
“Ha'a,” sahut Hana pelan seraya duduk di kursi dapur.
“Eh, Hana dah makan ke belum?” tanya Sahlan mengalihkan pembicaraan.
“Udah tadi, Hana goreng telur.”
“Oh. Siang tadi, dah makan apa yang Abang buat untuk Hana ke?” tanya Sahlan lagi.
“Udah,” jawab Hana.
“Sedap ke?”
“Iyalah, Bang. Sedikit masin je, hahaha ...,” jawab Hana yang kini tertawa.
__ADS_1
“Wahaha ..., iya ke? Tapi, Hana suka kan?” kelakar Sahlan.
“Iyalah, Bang. Up to you, Hana ngantuk sangat nih.”