I Hate You!

I Hate You!
Eps 43: Full Kesel


__ADS_3

“Kau tahu pun aku cemburu,” jawab Sahlan yang membenarkan sindiran Abian yang tampak muak dan memalingkan wajahnya.


“Ya sudah saya pamit, saya minta maaf Hana. Saya ada urusan peribadi.” pamit Abian pada Hana dan terlihat sangat ramah walaupun sebetulnya hambar.


“Eh kenapa tergesa-gesa? Kami di sini lagi sebagai janji temu kami semalam,” ucap Hana yang mencoba menghentikan Abian.


“Lain kali, maaf, Han! Saya mengucapkan selamat tinggal dahulu,” bales Abian yang akhirnya pergi tanpa bisa dicegah oleh Hana.


Setelah Abian pergi Hana langsung melotot ke arah Sahlan yang tidak peduli kepergian Abian.


“Apa salah awak? Saya keliru dengan cara pemikiran awak. Tak adil bagi saya,” ungkap Hana kesal.


“Kenapa ni?” sahut Sahlan masih tidak menyadari.


“Masih bertanya kenapa?!” bentak Hana yang mencoba menahan kekesalannya, “Awak buta atau apa? Awak boleh dengan perempuan lain tapi kenapa bukan saya?”


“Awak dah kahwin,” balas Sahlan yang tau maksud pembicaraan Hana, tetapi ia masih mencoba menyangkalnya.


“Awak! Nampak sangat awak tak berhati perut, bermesra dengan perempuan awak di hadapan saya!”


“Dia cuma kawan saya,” kilah Sahlan lagi.


“Kawan apa? Kawan berlainan jantina bercium antara satu sama lain di khalayak ramai adalah perkara biasa untuk persahabatan?”


“Ia satu kemalangan … .”

__ADS_1


“Sengaja apa? ... Masih berkata secara tidak sengaja apabila anda sedang menikmati tanpa segan silu, saya tidak sangka yang anda seorang guru dan ahli perniagaan yang berwibawa boleh jadi begitu.” Hana menggelengkan kepalanya dan merasa jijik.


“Hana, Saya betul-betul minta maaf, saya tak bermaksud nak sakitkan hati awak.”


“Saya tak rasa sakit hati dengan perbuatan awak, saya cuma sakit sebab awak boleh buat benda lain, tapi saya tak boleh.” Hana berbohong dan berpaling ke arah lain.


“Memang saya terlalu kejam, tapi malam itu bukan salah saya sepenuhnya ... Dahlia sendiri. Saya sekarang tiada apa-apa dengan dia,” sambung Sahlan yang tidak memikirkan ucapan Hana barusan.


“Bohong,” sahut Hana.


“Saya serius.”


“Bohong.”


Nampak Hana terdiam dan tidak menjawab atau berkata apapun, ia memilih membisu dan tidak mau menatap wajah Sahlan di hadapannya.


"Tak kisahlah ... Saya nak balik,” ucap Hana setelah beberapa saat dan mulai meninggalkan taman. Jemarinya bertaut akibat genggaman dari Sahlan yang menghentikannya.


Pria ini berkata, “Buat apa pulang sendiri, biar dengan saya saja.”


Belum sempat Hana melepaskan tangannya, genggaman Sahlan justru semakin kuat di jemarinya membuat ia terpaksa menurut.


Di jalan hingga ke pulang keduanya terdiam dengan genggaman tangan yang mengikat. Setiba di rumah, orang tuanya pun mengajukan pertanyaan, “Loh, kenapa pulang cepat?”


“Ala ... panas macam ni Ma. Jadi kami hanya mahu pulang ke rumah,” jawab Sahlan dan masih menggenggam tangan Hana.

__ADS_1


"Oh, awak mahu Mama buat sesuatu?” tanya lagi sang Mama.


"Tak, Ma. Terima kasih!” tolak Sahlan ramah dan diiyakan oleh mertuanya.


"Saya dan Hana baru nak masuk bilik, izinkan Ma, Pa.” Sahlan yang mau berdua dengan Hana dan ingin istirahat pun meminta izin masuk ke kamar, jujur ia sebetulnya masih sangat teramat lelah melakukan penerbangan beberapa jam lalu dan justru berjalan kaki menuju taman di bawah terik matahari.


“Oh, baiklah.”


Setelah diperbolehkan, keduanya pun masuk ke dalam kamar dan kuncinya dari dalam. "Anak perempuan awak pelik,”


“Semalam dia cakap dia tak nak dengan lelaki tu, tapi sekarang dia masih nak genggam erat tangan dia,” ungkap Papa setelah hanya terdiam menyaksikan isterinya mengobrol dengan menantunya.


“Putrimu juga, kan?” balas Mama Tia santai terhadap suaminya.


Di kamar, Hana dan Sahlan merebahkan tubuhnya di kasur. Hana yang terdiam dan tidak bicara membuat Sahlan menipiskan jarak mereka dan membuat Hana kesal.


“Pergi, jangan dekat-dekat!” tegas Hana seraya mendorong dada bidang Sahlan yang berada di sampingnya.


“Saya suami kamu.” Bukannya menurut Sahlan justru meraih tangan Hana yang mendorongnya untuk menjauh.


“Lupa perjanjian kita?” tanya Hana sinis dan menarik tangannya lepas dari Sahlan.


“Janji apa?” tanya Sahlan yang pura-pura tidak mengingat ucapannya sendiri pertama saat kali keduanya menikah.


Hana yang kesal langsung bangun dan terduduk. Ia mau saja keluar dari kamarnya meninggalkan si berengsek Sahlan darinya.

__ADS_1


__ADS_2