
Hana kembali melanjutkan pekerjaannya mencuci piring. Ia harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya dan harus segera bersiap untuk bertemu dengan Selin. Keduanya telah melakukan janji untuk pergi bersama di free day hari ini, terserahlah mahukan ke mana, janji keduanya dapat bersenang-senang.
Jujur hati Hana merasa gundah untuk perginya Sahlan yang mengatakan temu janji dengan rekan bisnis-nya. Dan kegundahan tersebut akhirnya benar-benar terbukti nyata selang beberapa hari kemudian, gosip sekolah telah beredar di sekolah tepat dua hari setelah hari minggu kemarin.
Kabar yang mengatakan bahwa Sahlan yang tepat hari minggu kemarin bertemu dengan seorang wanita muda yang kabarnya sangat anggun, cantik nan jelita. Mungkin memang telah menjadi kesepakatan siswa bersama yang membuat para guru atau pihak lain tidak mengetahuinya.
“You tahu?” tanya seorang siswi yang asik bergosip sebelum guru masuk ke kelas, “I dengar kabar dari kelas sebelah bahwa encik Sahlan dah ada pujaan hati.”
“Lah, biar betul yang kau cakap nih?” pekik temannya yang tidak percaya.
“Aku serius! Dah ramai dah, kabar tu beredar. Kau tahu tak?” balas dan tanya siswi itu lagi, “dua insan yang lagi gempar tu, temu janji di kafe The rooster coffee company.”
“What?!” pekik yang lain begitu mendengar pernyataan siswi yang bercerita, “kafe tu laris, banyak keren, tau!”
“Iya, aku pun tak sangkakan bahwa cik Sahlan dapat romantis macam tu. Liiii, aku iri sangatlah!” kagum siswi yang lain.
“Satu perihal lagi,” ujar siswi yang tadi bercerita dan ingin memulainya kembali.
__ADS_1
“Apa?” sahut teman-temannya.
“Aku ada dapat video rekaman cik Sahlan dengan pujaan hatinya itu, aku dapatkan dari teman-teman aku yang juga dapat dari siswa yang ada nampak kat kafe tu.”
“Kau tahu? Ramai orang cakap bahwa kekasih hati encik Sahlan tu ayu nan rupawan, keceknyo lahhh cantikkk!” lanjutnya memberitahukan pada teman-temannya.
“Terus masa kau tengok di rekaman tu?” tanya siswi yang juga tadi bertanya.
“Memang cantik! Aku sangkakan pasaran, faktanya pujaan hati cik Sahlan betul-betul limited!” balas siswi tersebut yang membuat teman-temannya insecure bukan kepayang.
“Aku pun!”
“Bertuah yang cik Sahlan dapat perempuan itu.”
“Perempuan itu pun bertuah jugak, bisa dapatkan encik Sahlan yang handsome, aku pun nak jadi perempuan tu!”
“Han!!” teriak Selin yang benar-benar memekakkan telinga Hana.
__ADS_1
“Woy! Tak payah lah panggil aku teriak-teriak macam itu, telinga aku tak sumbat!” sentak Hana yang kesal sekaligus terkejut akan teriakan Selin di telinganya.
“Kau tuli!” balas Selin akan sentakan Hana yang tak kalah pedas.
“Kau?!”
“Apa? Betul apa yang kucakap, yang engkau tuli sebab tak dengar panggilan aku sejak tadi kan?” jawab Selin akan panggilan Hana, “berbuih mulut aku panggil kau yang tak dengar.”
“Maaf,” balas Hana datar dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
“Maaf, Han. Semestinya aku panggil yang engkau tidak sebegitu, aku sesal! Maaf, ya?” mohon Selin yang menyadari kesalahannya setelah mendapatkan reaksi Hana yang tidak sememangnya seperti biasanya.
Hana mengalihkan pandangannya pada Selin dan menatapnya sambil tersenyum. “Iya, tak apa. Aku pulak semestinya tidak membentak kau, sorry!”
“Aaaa ... i need you, Hana!” seru Selin bahagia dan langsung memeluk erat Hana. Hana pun membalas pelukan Selin terhadapnya, tidak semestinya ia mengacuhkan apatah lagi membentak Selin yang merupakan sahabatnya sendiri.
“Dahlia,” lirih Hana memejamkan matanya masih dengan pelukannya, sepintas air mata sedikit menetes dari pada netranya. Sejak tadi, ia terus mendengarkan berita isu dari meja di sebelahnya. Perasaan kesal, marah, sedih, semuanya kini berada dalam hatinya begitu mendengar gosip tentang Sahlan dan wanita yang ditemuinya.
__ADS_1