
“Kau tidak boleh keras kepala, kau harus menurut apabila harus pulang, maka pulanglah ke rumahmu sendiri!”
Adu mulut antara ibu dan anak terus berlanjut sampai dengan panggilan dari sang ayah.
“Hana ....” Satu panggilan dari sang ayah mampu membuat Hana menghentikan niatnya menjawab tegasan dari ibunya.
“Iya, Papa!”
“Hana sayang papa, kan?” tanya sang ayah.
“Sayang sangat!” jawab Hana.
“Hana mau papa masuk surga?” tanya sang ayah lagi.
“Mau papa, itu adalah mimpi seluruh anak perempuan ataupun lelaki akan keselamatan orangtuanya.” Kembali si anak menjawab.
"Hana tahu tak... semua perbuatan anak perempuan ditanggung oleh ayahnya dan apabila dia dewasa, iaitu apabila dia sudah berkahwin, perbuatan anak perempuan bertukar tangan kepada suaminya."
__ADS_1
“Tahu papa,” sahut Hana lirih.
“Nah, itu Hana sudah tahu. Kalau begitu kenapa Hana lakukan? Tak adakah Hana menyadari bahwa perbuatan Hana yang satu ini sangat salah, karena sudah menikah seorang wanita itu sebaik-baiknya bersama suaminya dan tidak tinggal bersama orang tuanya.”
"Papa nak tahu... betul-betul apa yang Hana tak suka tentang Sahlan, suami Hana? Betul awak tak terima perkahwinan Hana?" lanjut sang ayah menguji kesadaran Hana.
“Hana tak nak cakap apa-apa sampai saya tak suka dia. Tapi satu yang pasti, Hana tak boleh terima abang Sahlan, sampai bila-bila!" balas Hana yang kini mulai mengeluarkan air sungai di pipi saljunya.
Nampak sang ayah menghembuskan nafasnya berat. Ia berkata, "Mesti Hana sedar dari awal bahawa perkahwinan kamu adalah perkahwinan yang diatur dan surat wasiat daripada arwah atuk kamu, kan?"
“Tahu, Papa,” katanya pelan.
“Maafkan Papa tak boleh jadi ayah yang baik untuk Hana, tapi Papa minta Hana supaya akur dengan ikatan ini ... Papa betul-betul minta kamu bertahan! Lama-kelamaan awak akan dapat ikhlas menerima suami awak.”
“Bukan papa tak sayang kamu, tapi ini semua permintaan arwah atuk kamu. Selama atuk kamu hidup, papa selalu bertengkar dan tidak pernah menuruti keputusan atuk untuk mengawal hidup papa. Ibu awak pernah berkahwin dengan ayah tanpa restu datuk, tetapi ayah tetap melakukannya."
“Sekarang kamulah satu-satunya harapan Papa dan Mama untuk membahagiakan atuk. Fikirkan sekarang Hana, jangan buat keputusan terburu-buru. Papa percaya suami kamu adalah lelaki yang terbaik untuk kamu.”
__ADS_1
Selesai mengatakannya sang ayah langsung berdiri dan menuju kamarnya. Hana yang tadinya merasa akan mendapat pembelaan dari ayahnya, langsung jatuh harapan begitu perkiraannya meleset jauh. Seperti yang dikatakan di kamarnya, Hana merenung mempertimbangkan ucapan sang ayah.
Memang benar kisah cinta ayah dan ibunya dahulu tidak semulus sekarang, nyatanya kedua orang tuanya melawan kehendak mendiang kakeknya yang telah menjodohkan sang ayah dengan anak temannya.
Dan siapa sangka bahwa kini dirinya yang diwajibkan untuk mewujudkan kehendak itu, terikat dengan keluarga teman kakeknya.
Renungannya berhenti saat ponsel Hana berdering menandakan pesan masuk. Dibukanya segera dan membaca pesan di dalamnya.
^^^“I jemput you sekarang juga, tunggu saya tiba di rumah.”^^^
Tentulah isi pesan tersebut membuat Hana terkejut. Sahlan mengiriminya pesan setelah begitu lama tidak menanyakan kabar dirinya, dan kini langsung mengirim pesan yang tidak diduganya.
Tanpa sadar Hana membalas pesan itu dengan gugup,
^^^“Jemput saya sekarang juga!”^^^
Pesan yang terkirim berubah menjadi ceklis satu, secepat itu kah? Hana benar-benar bimbang dan langsung membodohi akan apa yang diucapkan berbanding terbalik dengan yang dirasakan.
__ADS_1
Jujur ia sangat rindu akan wajah pria yang tengah menuju kemari, tapi hatinya masih merasakan panas.