
“Kyaaaaaa! Dahlia tu secantik apa wajahnya, lagi cantik dari Hana ke?!” jerit Hana di dalam kamarnya penuh dengan rasa gelisah.
***
Di restoran
“Alan!” panggil seorang wanita yang berteriak dengan menggunakan nama panggilan Sahlan.
Sahlan yang menyadari panggilan dari kekasihnya langsung menghampiri dengan sedikit senyuman.
“Lah, dah lama tunggu?” tanya Sahlan masih dengan sedikit. senyumannya.
“Tak.” Wanita ini menjawab dan beralih ke kursi yang lebih dekat dengan Sahlan.
“Aku ada perihal yang aku mau bagi tahu kau, Lia.” Sahlan menatap wanita di sampingnya yang tak lain adalah Dahlia.
Dahlia yang mendengarnya langsung bertanya, “Cakap perihal apa?”
Huft ....
__ADS_1
“Aku dah menikah, Dah.” Sahlan akhirnya mampu mengeluarkan kata-kata ini dari mulutnya dengan nafas berat.
Dahlia yang mendengarnya, pada awalnya terdiam dengan tatapan menyelidik namun tak lama ia tertawa kencang karena mengira bahwa itu hanyalah candaan dari kekasihnya.
“Kau ni kelakar pula, lah. Hahahaha ...,” gelak Dahlia yang masih belum percaya akan kebenaran sebenarnya.
“Aku serius! Aku minta maaf, sebab telah kahwin dengan wanita lain dan bukan engkau.” Sahlan meyakinkan Dahlia dengan wajah penuh sesal.
“Kau serius, Lan?” tanya Dahlia yang mulai merasakan sesak di dadanya.
“Maaf ..., tapi itulah kebenarannya.” Sahlan yang menjawab pertanyaan Dahlia semakin merasa bersalah ketika kekasihnya mulai terdiam tak bersuara.
“Aku tak sangka,” ucap Dahlia pelan, “bahwasanya kau tega buat macam ini kat aku, Lan.”
“Maaf, Dah. Aku tak kuasa,” sahut Sahlan pelan, “bukan kuasa aku untuk menolak perkahwinan kami.”
“Ck, dah lah, Lan. Tak payah berpura bersedih, tak perlu sembunyikan kebahagiaan engkau. Tahniah, selamat atas pernikahan dorang.”
Dahlia berdiri dari kursinya dan memanggil pelayan untuk membayar makanannya. Sahlan yang melihat pergerakan Dahlia, ikut berdiri untuk berusaha menyampaikan hal yang sebenarnya.
__ADS_1
“Aku balik dulu,” ucap Dahlia dingin.
“Aku hantar,” balas Sahlan yang berkehendak mengantar pulang Dahlia.
“Tak perlu!” tolak Dahlia tegas.
Sahlan terus mengikuti Dahlia dari belakang demi membujuk kekasihnya, “Ayolah! Aku nak kasih penjelasan ke engkau, please, Dah!”
“Penjelasan apa lagi?!” bentak Dahlia keras, “nak bagi tau bahwa kau dan bini engkau dah buat, iya?”
“Tak! Aku dengan dia menikah karena paksaan keluarga kami, aku tak—”
“Bila macam itu, ceraikan dia, sanggup?” potong Dahlia yang menantang Sahlan.
Sahlan menunduk mendengar ucapan Dahlia. Mana mungkin ia akan menceraikan Hana saat keduanya baru menikah, terlebih lagi kedua keluarga masih berbahagia akan wasiat kedua almarhum kakek mereka yang telah terpenuhi.
“Aku dah tau jawaban engkau,” tegas Dahlia, “aku balik dulu. Tak payah engkau ikut aku, Lan.”
Dahlia langsung berlari meninggalkan Sahlan yang hanya mampu berdiri dan tidak berani untuk menyusul Dahlia.
__ADS_1
“Damn!” umpat Sahlan putus asa.
Di dalam mobilnya, ia berulang kali memukul setir mobilnya karena kesal akan dirinya sendiri. Entah mengapa saat Dahlia memintanya untuk bercerai dengan Hana, dirinya tidak bisa karena tertahan akan sesuatu. Sungguh hal yang sangat membuatnya begitu putus asa, ia juga sangat tidak tega karena menyakiti Dahlia yang merupakan kekasihnya. Ia tau bahwa dirinya masih menyayangi Dahlia.