
“Hana mau masuk,” ucap Hana sambil berdiri. Sebelum melangkah, Sahlan menghentikan Hana dengan meraih tangan istrinya.
Hana mengibaskan tangannya yang diraih oleh Sahlan secara tiba-tiba. Dengan apa yang Hana lakukan, membuat Sahlan bersabar agar tidak menimbulkan kembali percikan amarah keduanya.
Sahlan mengikuti Hana ke mana pun berada, dari mulai ke dapur hingga ke kamar mandi.
“Stop di situ!” tegur Hana saat hendak menyelesaikan hajatnya di kamar mandi saat Sahlan mau mengikutinya. Sahlan akur dan menunggu di luar, tak sampai di situ pula ... karena nyatanya Sahlan terus mengikuti Hana hingga ke kamarnya. Hana berbaring di ranjangnya, baru saja Sahlan ikut berbaring, Hana kembali bangkit dan membuat Sahlan sama. Hana keluar dari kamarnya saat diikuti Sahlan, secepat kilat ia masuk dan mengunci kamarnya dari dalam.
“Mampus!”
Dengan santai Hana kembali berbaring di ranjangnya dengan nyenyak. Baru saja matanya hampir terlelap, ia merasakan bahwa ada tangan yang memeluknya. Karena reaksi terkejutnya itu, dengan tanpa sadar ia menendang benda yang menangkupnya tanpa aba-aba hingga jatuh ke lantai.
“Aduh!” ringis suara yang berada di lantai, tak lain ialah Sahlan sendiri.
“Kurang ajarlah! Awak fikir saya ni apa?!” umpat Hana yang terduduk seraya berkacak pinggang, “adakah awak sudah lupa akan perjanjian itu? Jangan lakukan apa yang awak sendiri larang!”
__ADS_1
"Aduh, sakitnya! beraninya awak. Suami awak jatuh, awak cuma merungut macam tu.” Bukannya merasa bersalah, Sahlan justru mengaduh akan sakit yang tak seberapa.
“Biar!” sahut Hana ketus. Walaupun begitu, Hana turun dan membantu Sahlan bangun dan beralih duduk di ranjangnya.
“Sedap, jatuh macam tu?” sinis Hana bertanya.
“Hmm ... tendangan awak, mirip tendangan madun.” Sahlan merebahkan tubuhnya dengan terlentang. Hana yang melihatnya mencoba akur dan ikut melakukan hal yang sama.
"Saya tetap dengan keputusan saya untuk pulang ke rumah ibu bapa saya," ucap Hana seraya menatap langit-langit kamarnya.
"Saya mahu menyertai," jawab Sahlan yang akhirnya menemukan solusi untuk memberi izin Hana pergi.
"Kalau bukan saya, awak tak boleh pergi!" tegas Sahlan yang mencoba untuk memimpin.
"Awak ikut, saya berjanji saya tidak akan kembali ke sini," ancam Hana yang keras kepala menolak Sahlan untuk pergi bersamanya.
__ADS_1
"Saya juga dengan awak!" seru Sahlan yang mulai kehabisan kata-kata.
“Hilih,” cakap Hana dan kembali terdiam.
"Kamu boleh pergi, tetapi ada syaratnya." Sahlan kembali berbicara dan membalikkan badannya menghadap Hana.
“Apa?” Hana ikut sama dan bertanya.
“Balik dari sana, bawakan saya rendang lokan masakan mak.”
“Hah?” Hana terkejut akan syarat yang diberikan oleh Sahlan kepadanya.
“Itu aja? Tak ada yang lain?” lanjut Hana lagi.
“Satu lagi,” ujar Sahlan pelan dan berkata lagi, "jangan terlalu lama, peperiksaan sekolah akan bermula tidak lama lagi!"
__ADS_1
“Oh, oke.” lirih Hana yang memejamkan matanya. Akhirnya tanpa Sahlan ia bisa pergi ke rumah orang tuanya. Ada satu hal yang harus ia bicarakan terhadap mereka, amat penting untuknya!
Setelah agak lama terdiam, Sahlan pun meninggalkan kamar Hana dan menuju kamarnya. Ia terpaksa akur akan keinginan Hana yang bertentang dengannya, tetapi dirinya harus bisa mengizinkan agar keduanya kembali damai. Bisa jadi bahwa dengan istrinya pergi, maka amarah dari istrinya dapat terobati.