
“Hana kat sana, jangan lupa tanggung jawab Hana, tau!” nasehat Mama Tia pada anaknya yang akan kembali ke kota J.
“Oke, Mama.”
Setelah beberapa hari tinggal di rumahnya, ia dan suaminya akan kembali ke kota di mana ia menimba ilmu. Sangat berat untuk ini, namun ia tidak bisa melewatkan pendidikannya hanya karena perjodohan gila dari keluarganya.
Hana tau ia tidak akan mengandung anak dari gurunya, Sahlan. Hal ini dikarenakan ia dan Sahlan telah membuat perjanjian rahasia saat malam pertama keduanya menikah. Hana ingin suaminya berjanji untuk tidak menyentuhnya, dengan syarat setelah lulus SMA nanti, Hana rela apabila Sahlan akan meninggalkan dirinya yang bermakna ia akan berpisah dari Sahlan. Tidak perlu lagi membuat surat gugat perceraian dikarenakan keduanya hanya melakukan pernikahan siri.
Berbeda dengan Hana dan Sahlan, seluruh keluarga mereka justru sudah memiliki niat atau rencana apabila Hana sudah cukup usia maka pernikahan Hana dan Sahlan akan dilakukan ulang dengan cara terbuka atau resmi (di mata hukum).
***
“Barang-barang yang kepunyaan Hana di kos, abang ambil saat abang agak senggang,” ucap Sahlan saat di dalam pesawat.
“Oke, Pak.”
Sahlan yang mendengar Hana memanggilnya dengan sebutan bapak, mendelikkan matanya jengah. “Abang dah kata, panggil ai dengan sebutan abang, no Bapak!” tegas Sahlan pada Hana, “A-B-A-N-G!”
“Lah, terlupa pulak, Hana. Okelah, b-bang ...,” jawab Hana menurut.
__ADS_1
“Good!”
“Eh, tadi agaknya terlupa bawak laptop Hana laaah!” panik Hana saat melupakan laptop-nya di rumah.
“Lah, macam mana pulak lah, kita dah di pesawat tak mungkin nak turun.” Sahlan menoleh ke arah Hana.
Hana memukul keningnya kesal, pada semester dua ini ia akan lebih sering menggunakan laptopnya untuk keperluan sekolah. “Haish, tahulah!”
“Yelah, nanti abang pinjam laptop abang untuk Hana,” ujar Sahlan yang membuat Hana sedikit kaget.
“Lha, boleh ke?” tanyanya untuk memastikan kebenaran dari Sahlan.
“Tapi, abang tak akan nak apa-apakan Hana, biarpun dah bagi laptop buat sama-sama. Namun, Hana tetap tak nak!” ketus Hana, “satu perihal lagi, nanti bila tinggal di rumah abang, Hana tak mahu bila tidur sekamar dengan abang, camkan eee!”
“Okay! Abang tak akan apa-apakan, Hana. Perihal tempat tidur, kat rumah abang ada dua kamar. Hana bisa gunakan itu untuk tidur, kita tak akan sekamar. Abang pun ingat janji yang abang buat kat Hana malam tu.”
“Baguslah,” balas Hana pelan sampai tidak terdengar oleh Sahlan. Di perjalanan kembali ke kota J ia dan Sahlan tak banyak bicara satu sama lain dan hanya berfokus pada penerbangan mereka.
***
__ADS_1
“Whoaaaaa, ... ini rumah Pak Sahlan, ke?” decak Hana kagum begitu tiba di rumah suaminya.
“Abang!” ingat Sahlan pada Hana.
“Ah iya, maksudnya Abang. Rumah abang ke, nih?” tanya Hana mengulang yang kedua kalinya.
“Yelah, cantik kan?” jawab Sahlan yang memang benar.
“Hmm, macam ye tak ye lah.” Hana acuh tak acuh akan ucapan Sahlan. Ia lebih memilih langsung masuk saat Sahlan telah membuka kunci pintu rumahnya.
Rumah minimalis sederhana, namun sejuk apabila dipandang di mata. Terlebih lagi walaupun pemilik rumah ini dahulunya adalah Sahlan sendiri yang merupakan seorang pria, namun rumahnya sangat hijau akan tanaman hias.
“Eh, Mas Sahlan dah pulang dari kampung nih, ya?” tiba-tiba rumah Sahlan kedatangan seorang ibu-ibu dan lamgsung menyapanya disaat Sahlan sedang mengemas barang-barangnya di bagasi untuk dibawa ke dalam rumahnya.
“Eh, iya ni, bu. Baru saja pulang, ini saya juga lagi kemas-kemas barang saya. Bu Indah apa kabarnya, bu?” jawab Sahlan dan dilanjutkan dengan pertanyaan ramah.
“Saya baik kok, Mas. Ini saya gaperlu balik tanya, saya yakin juga kalau Masnya sehat-sehat hehehe ...,” canda Bu Indah, “oh iya, saya ke sini juga sekalian mau bantu-bantu beresin barangnya Mas Sahlan, itung-itung bayaran buat oleh-oleh yang Mas kasih nanti.”
“Hshahaha ..., bu Indah bisa saja. Ya sudah mari, Bu. Nanti setelah bantu-bantu saya kasih oleh-oleh dari kampung saya.” Sahlan menerima tawaran bu Indah sekaligus mempersilakan bu Indah untuk masuk ke rumahnya.
__ADS_1